Lebih Memilih Kopi & Matcha Dibanding Alkohol: Cara Baru Anak Muda Menenangkan Diri
Medan, Persma kreatif — Ditengah tekanan akademik, tuntunan sosial, serta ketidakpastian masa depan, anak muda kerap berada dalam kondisi emosional yang tidak stabil, sehingga tidak sedikit dari mereka mencari pelarian dengan meminum minuman beralkohol.
Jika sebelumnya alkohol sering dianggap sebagai bentuk pelarian dari stress, kini semakin banyak anak muda yang justru memilih kopi dan matcha sebagai cara untuk menenangkan diri.
Perubahan ini terlihat dari data konsumsi masyarakat. Berdasarkan data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS), konsumsi alkohol di Indonesia tercatat sebesar 0,30 liter per kapita, angka ini lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya. Tren tersebut memperpanjang penurunan bertahap yang telah berlangsung sejak 2023.
Dalam perhitungannya, minuman alkohol mencakup bir serta minuman keras lainnya seperti anggur, vodka, dan sejenisnya. Data survey Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret juga menunjukkan bahwa konsumsi alkohol penduduk usia 15 tahun ke atas terus menurun sepanjang periode 2023 hingga 2025.
Sebaliknya, konsumsi kopi dan matcha justru mengalami peningkatan signifikan dalam beberapa tahun terakhir.
Berdasarkan data Department Of Agriculture, Amerika Serikat, produksi kopi Indonesia diperkirakan mencapai 10,9 juta kantong pada musim 2024-2025. Jumlah ini meningkat dibandingkan periode sebelumnya (2023-2024) yang hanya mencapai 9,7 juta kantong.
Sementara itu, dari Mordor Intelligence memproyeksikan pasar matcha global akan mencapai USD 2,46 miliar pada tahun 2025 dan meningkat menjadi USD 3,02 miliar pada tahun 2030, dengan pertumbuhan rata-rata sekitar 4% per tahun.
Fenomena ini menunjukkan bahwa perubahan preferensi minuman bukan sekadar soal selera, melainkan mencerminkan pergeseran cara berpikir generasi muda dalam menghadapi tekanan emosional.
Alkohol selama ini kerap diasosiasikan dengan upaya melupakan masalah untuk sementara waktu. Namun, anak muda saat ini mulai menyadari bahwa alkohol bukan satu-satunya, bahkan bukan pilihan terbaik untuk menenangkan pikiran.
Kopi dan matcha hadir sebagai alternatif yang memungkinkan seseorang tetap terjaga secara mental dan emosional. Minuman ini tidak membuat penggunanya kehilangan kendali, melainkan memberikan ruang untuk berpikir, merefleksikan diri, dan memproses perasaan.
Banyak mahasiswa menjadikan momen minum kopi atau matcha sebagai waktu jeda dan berhenti sejenak dari rutinitas, duduk tenang, dan menghadapi emosi yang tidak stabil. Aktivitas sederhana ini sering kali dibarengi dengan membaca, mengerjakan tugas, atau sekedar menikmati suasana, yang secara tidak langsung membantu meredakan tekanan.
Bagi anak muda saat ini, menenangkan diri tidak selalu harus melalui tindakan besar. Ritual sederhana seperti nongkrong di coffe shop, memesan minuman favorit, dan berbincang ringan dengan teman sudah cukup menjadi ruang aman untuk melepas penat dari kesibukan dunia akademik dan sosial.
Keputusan anak muda yang lebih memilih kopi dan matcha dibandingkan alkohol mencerminkan perubahan budaya dalam menghadapi tekanan emosional. Generasi ini tidak lagi sekadar mencari pelarian, tetapi berusaha memahami dan menenangkan diri secara lebih sadar dan sehat.
Dalam kehidupan kampus dan masyarakat modern, secangkir kopi atau matcha kini menjadi lebih dari sekadar minuman. Ini menjadi cara baru anak muda merawat diri di tengah ketidakpastian.
