Share

Membaca “Perempuan yang Memanggul Bayangan” dengan Kacamata Partriarki Sylvia Walby

Penulis:
Adira Cahya, Irma Laura Hutauruk, Irna Renata br Sembiring,
Tri Wahyuni br Tambunan dan Yosia R.E Sianturi

Cerpen “Perempuan yang Memanggul Bayangan” yang ditulis oleh Ferena Debineva (2022) memberikan gambaran nyata tentang ketidakadilan gender melalui tokoh utama bernama Lara. Sejak kecil, Lara mengalami perlakuan berbeda dibandingkan saudara laki-lakinya hanya karena ia perempuan. Kisah hidupnya mencerminkan bagaimana sistem patriarki mengatur keputusan, tubuh, hingga masa depan perempuan. Teori patriarki yang dikemukakan oleh Sylvia Walby menjadi pendekatan yang tepat untuk menganalisis cerpen ini. Walby mengidentifikasi enam struktur utama patriarki, yaitu rumah tangga, tempat kerja, negara, budaya, kekerasan, dan seksualitas. Bentuk patriarki yang terjadi pada tokoh lara yang dimunculkan oleh Ferena Debineva sebagai tokoh utama dalam cerpennya paling nyata tampak pada struktur keluarga, ekonomi, dan budaya.
Teori patriarki menurut Sylvia Walby menjelaskan bahwa patriarki merupakan suatu sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai pihak dominan, sedangkan perempuan sebagai pihak yang dinominasi serta dieksploitasi. Teori ini menekankan bahwa patriarki bersifat dinamis dan berubah-ubah tergantung pada konteks sosial dan sejarah suatu masyarakat. Menurut Sylvia Walby patriarki tidak hanya terjadi dalam lingkup keluarga tetapi juga di area publik seperti tempat kerja, hukum, dan budaya. Walby mencatat enam struktur utama yang menopang sistem patriarki, yaitu pekerjaan berbayar, negara, produksi rumah tangga, kekerasan terhadap perempuan, hubungan seksual, dan budaya. Keenam struktur ini membantu mempertahankan ketimpangan gender. Selain itu, Sylvia Walby juga membedakan antara patriarki privat yang terjadi dalam rumah tangga dengan laki-laki berperan sebagai kepala keluarga dan patriarki publik yang terjadi di institusi sosial dan ekonomi.
Penelitian sebelumnya yang memuat pembahasan Patriarki Walby dilakukan oleh Najah, dkk (2024). Penelitian ini mengangkat isu gender, patriarki dalam masyarakat yang tergambar dalam cerpen “Abu Terbakar Hangus” karya Mochtar Lubis, yakni peran perempuan selalu diletakkan di bawah Laki-laki. hal ini dianggap menjadi kewajaran dalam masyarakat padahal kehidupan perempuan diambil alih dan dimanfaatkan oleh pihak laki-laki. Hasil penelitian ini ialah bahwa tokoh utama perempuan memiliki andil besar dalam hidupnya. Ia dimanfaakan oleh laki-laki sebagai loncatan dalam hidupnya.

Cerpen “Perempuan yang Memanggul Bayangan” karya Ferena Debineva mengisahkan perjalanan hidup seorang anak perempuan bernama Lara, yang sejak awal kelahirannya tidak diharapkan karena keluarganya menginginkan anak laki-laki. Lara menjadi tokoh utama yang mengalami diskriminasi gender secara sistematis dalam ruang domestik. Kedua saudara laki-lakinya, Juang dan Sinar, tetap disekolahkan dan diprioritaskan, sementara Lara dipaksa berhenti sekolah demi membantu ibunya bekerja. Meskipun cerdas dan rajin, kemampuan Lara dianggap tidak berguna karena ia perempuan ini menjadi bentuk awal penindasan dalam sistem keluarga patriarkal.
Konflik utama terletak pada penumpukan beban yang secara simbolis digambarkan melalui bayangan satu-satunya dalam keluarga yang memiliki bayangan adalah Lara, dan seiring waktu bayangan dari seluruh anggota keluarganya “berpindah” kepadanya. Ini menandakan bahwa hanya Lara yang harus menanggung beban emosional, sosial, dan ekonomi keluarga. Pengorbanan Lara terus bertambah, bahkan sampai pada titik tubuh dan masa depannya dinegosiasikan oleh ayahnya kepada seorang pria bernama Kusno, demi uang. Ia dijodohkan tanpa persetujuannya, dan keluarganya bersuka cita dari hasil transaksi itu, seolah-olah penderitaan Lara tidak berarti apa-apa.
Akhir cerita menampilkan Lara yang pergi tanpa seorang pun menyadari kepergiannya. Ia memanggul semua bayangan keluarganya seorang diri sebuah penanda tragis dari perempuan yang seluruh hidupnya dikorbankan dalam sistem yang tidak pernah memberinya ruang atau suara.

Cerpen “Perempuan yang Memanggul Bayangan” karya Ferena Debineva menunjukkan kuatnya sistem patriarki sejak awal, terlihat dari struktur budaya dan produksi domestik. Orang tua Lara lebih menginginkan anak laki-laki karena dianggap lebih mampu membantu ekonomi keluarga. Kelahiran Lara tidak disambut dengan suka cita, dan namanya pun lahir dari kesedihan. Ini mencerminkan pandangan budaya yang menempatkan perempuan sebagai beban, bukan aset. Dalam rumah tangga, Lara juga dipaksa meninggalkan sekolah untuk membantu pekerjaan rumah dan berdagang, menunjukkan subordinasi perempuan dalam ranah domestik.
Struktur pekerjaan berupah muncul saat Lara dikeluarkan dari sekolah karena biaya dianggap lebih layak digunakan untuk pendidikan saudara laki-lakinya. Hal ini memperlihatkan diskriminasi dalam akses terhadap pendidikan dan peluang kerja. Lara, meski pintar dan rajin, tidak mendapat kesempatan berkembang, karena pekerjaan dan penghasilan lebih diprioritaskan untuk laki-laki. Ayah dan ibu lebih mendukung Juang dan Sinar untuk melanjutkan pendidikan demi masa depan yang lebih cerah.
Relasi seksual dan kekerasan laki-laki tergambar dalam adegan saat Lara disuguhkan kepada tamu laki-laki oleh ayahnya. Tubuh Lara direduksi menjadi alat tukar demi uang dan reputasi keluarga. Lara tidak diberi pilihan atau suara, hanya diam dan menunduk. Penyerahan Lara kepada Kusno tanpa persetujuan adalah bentuk objektifikasi seksual dan eksploitasi perempuan yang sering ditemui dalam sistem patriarki. Ini memperlihatkan bagaimana relasi seksual dimanfaatkan laki-laki untuk mempertahankan dominasi.
Struktur negara dalam cerpen memang tidak hadir secara eksplisit, tetapi absennya perlindungan terhadap hak pendidikan dan masa depan Lara mencerminkan ketidakberdayaan sistem terhadap nasib perempuan miskin. Negara sebagai lembaga struktural gagal hadir memberi ruang aman dan adil bagi anak perempuan seperti Lara. Situasi ini menunjukkan bagaimana institusi formal tidak cukup berfungsi untuk melindungi dari ketimpangan patriarkal yang terjadi di tingkat keluarga.
Akhir cerpen menggambarkan Lara memanggul bayangan semua anggota keluarganya, simbol dari beban struktural yang harus ditanggung perempuan. Ia menjadi korban dari keenam struktur patriarki: mulai dari keluarga, ekonomi, kekerasan simbolik, hingga relasi sosial yang timpang. Cerpen ini menggambarkan bagaimana patriarki bukan hanya hadir dalam tindakan, tetapi juga diwariskan dan dibebankan pada tubuh perempuan. Lara menjadi representasi perempuan yang menanggung beban semua ketimpangan itu, sendirian.

Cerpen “Perempuan yang Memanggul Bayangan” secara tajam menggambarkan bagaimana patriarki tidak hanya hadir dalam tindakan sehari-hari, tetapi juga diwariskan dan dibebankan pada tubuh perempuan. Melalui keenam struktur patriarki Sylvia Walby, dapat terlihat bahwa Lara adalah representasi perempuan yang dikorbankan oleh sistem sosial yang tidak memberinya ruang dan pilihan. Cerita ini menunjukkan bahwa patriarki berakar dalam keluarga, ekonomi, budaya, kekerasan, dan relasi seksual. Lara menjadi simbol perempuan yang menanggung seluruh beban ketimpangan gender—sendirian.

Daftar Pustaka
Butler, J. (1990). Gender Trouble: Feminism and the Subversion of Identity. NY: Routledge.
Lubis, P. N., Sitorus, M. U., Ananda, R. D., & Adisaputera, A. (2024). Representasi Patriarki dalam Cerpen Abu Terbakar Hangus Karya Mochtar Lubis: Pandangan Patriarki Walby. Parataksis: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pembelajaran Bahasa Indonesia, 7(2). https://doi.org/10.31851/parataksis.v7i2.15510
Walby, Sylvia. (1990). Theorizing Patriarchy. Wiley-Blackwell.

You may also like