Share

Ada yang Sudah Tidak Searah : Kita Saling Menjauhi

Penulis : Firaa

Pada sudut kamar yang sepi ini, aku meraung di atas sajadah. Sesekali memperhatikan sekeliling, kemana laki-laki yang biasanya menuntunku itu? Ah, rasanya begini ya? Doa yang dulu sama malah menjelma menjadi tembok-tembok tinggi. Tembok itu memberiku sinyal untuk sadar, bahwa kami sudah tidak berdampingan.

Hawamu masih mengadah pada doa yang sama dan kau yang berbalik arah dengan tangan yang mengenggam. Egois jika kuminta Tuhan menyatukan kita saja. Tapi, Tuhan yang mana yang akan mengabulkan, Tuhan yang mana yang jadi tempat pengaduan?

Suara lonceng yang menjadi damaimu, dan azan yang menjadi tenang ku tentu tidak akan pernah menjadi satu. Ibarat, aku dan kamu ada pada sebrang yang berbeda arah, aku sulit menggapaimu — kita saling merelai.

Biasanya kita saling menunggu, kau mengambil wudhu-mu dan aku pun begitu. Tapi, hari ini kau berada di sebrang untuk memenuhi panggilan Tuhan, membaca segala puji-pujian. Dan aku tetap di sini, masih pada kiblat yang lalu. Yang dulunya juga menjadi kiblatmu.

Aku melewati banyak perjalanan, keretaku melaju dengan kencang. Memperkenalkanku pada tiap-tiap tempat yang masih asing di kepala. Ternyata, sejauh apapun kakiku melangkah bayangmu saja sulitku lupa.

Terkadang aku bertanya-tanya, apakah semesta mengutuk orang yang jatuh cinta? Kita saling mengusahakan tapi semesta punya cara untuk memisahkan. Manis, kuakui kisah kita terlalu manis. Sampai aku dibuat mabuk sendiri, tenggelam dalam kenangan yang tidak ingin kubuang.

Apakah kita salah? Sekali saja, saling memeluk. Merelai segala derai, menuntaskan segala rasa takut-takut masih ada yang tertinggal dan menciumi segala luka.

Aku ingat, kau berjanji mengajakku berkelana ke penjuru dunia, sembari menggenggam tanganku dengan sayang, membelai resahku dengan cinta. Kau bagai pasang tenang di ombak yang gusar, aku selalu menemukan rumah pada dekap mu. Tapi, jika kisah ini dipaksa relai karena ada yang tidak sama lagi, apakah kau akan tetap mengajak ku mengelilingi dunia?

Tak ingin kutamatkan, air mataku sudah membasahi jalanan. Aku masih ingin menggenggam, aku masih ingin berbagi kisah, aku masih ingin mengukir cerita bersama.

Karena jika tidak dengan mu dengan siapa lagi? Jika beda ini menjadi penghalang dan tembok itu tidak bisa kurobohkan, maka akhir dari halamanku pun hanya kau.

Biarkan aku memeluk kenangan, biarkan aku hidup dalam angan, biarkan aku menjerit dalam diam. Kata orang, cinta adalah ikhlas. Maka, jika kau temukan damai pada kiblat barumu itu, aku pun akan melapangkan dadaku. Karena, aku tidak ingin memaksa.

Segala hal sulit dicerna, kisah kita rampung begitu saja. Semoga segala firman dan pujian yang kau baca menenangkan jiwamu. Semoga dikesempatan berikutnya, kita ada pada doa yang sama.

You may also like