Share

Dua Dongeng, Dua Budaya, Satu Nilai Universal: Paralelisme Putri Salju dan Putri yang Tidak Bisa Bicara

Medan, Persma Kreatif – Tak jarang dongeng dianggap sekadar hiburan, namun dua cerita dari budaya berbeda ini menunjukkan bahwa sastra anak juga menyimpan jejak nilai moral universal. Putri Salju karya Grimm Bersaudara dari Jerman dan Putri yang Tidak Bisa Bicara karya Sepdian Anindyajati dari Indonesia adalah contoh menarik bagaimana dua tradisi dapat menghadirkan pola dan pesan yang serupa meskipun tidak memiliki hubungan langsung. Melalui pendekatan paralelisme dalam sastra bandingan, keduanya memperlihatkan kesamaan struktur, tema, dan nilai kemanusiaan.

Dalam Putri Salju, ancaman muncul dari ibu tiri yang iri, menjadikan sang putri sebagai korban kejahatan berulang. Ia bertahan dengan kebaikan hati, diselamatkan oleh solidaritas kurcaci, dan akhirnya memperoleh kebahagiaan. Pola ini sejalan dengan struktur dongeng klasik konflik, ujian, dan penyelesaian bahagia yang menegaskan kemenangan kebaikan atas kejahatan.

Sementara itu, dilain sisi, dongeng Putri yang Tidak Bisa Bicara mengisahkan putri yang kehilangan suaranya akibat kutukan. Pangeran Taka menjadi tokoh yang harus menebus kesalahannya sendiri sebelum dapat menyelamatkan sang putri. Dengan kecerdikan dan ketekunan, ia berhasil memecahkan kutukan yang membuat putri kembali berbicara. Melalui dongeng ini dapat dilihat akan nilai etika sosial Indonesia, terutama pentingnya kesantunan, tanggung jawab, dan konsekuensi perbuatan.

Walaupun lahir dari latar budaya berbeda, kedua dongeng ini menempatkan perempuan sebagai sosok yang menghadapi penderitaan namun tetap kuat, sabar, dan penuh kasih. Keduanya menegaskan bahwa kebaikan, keteguhan hati, dan kejujuran pada akhirnya akan membawa kemenangan. Kesamaan nilai ini menunjukkan apa yang disebut Remak sebagai “paralelisme” kemunculan pola serupa tanpa harus ada pengaruh lintas budaya. Hal ini memperlihatkan bahwa pengalaman kemanusiaan dapat melahirkan pesan moral yang sama, bahkan ketika kisah-kisah tersebut tumbuh dalam ruang yang berbeda.

Kesamaan ini juga membuktikan bahwa dongeng tetap relevan. Anak-anak maupun pembaca dewasa dapat belajar bahwa tindakan kecil seperti kebaikan hati, keteguhan dalam menghadapi rintangan, dan keberanian untuk memperbaiki kesalahan memiliki dampak besar dalam kehidupan. Dongeng menjadi sarana pendidikan moral yang melampaui batas geografis.

Kajian sastra bandingan ini dapat diperluas dengan memasukkan lebih banyak dongeng dari berbagai negara untuk melihat apakah pola paralel serupa muncul. Selain itu, meninjau adaptasi modern dalam bentuk film dan animasi juga dapat memberikan gambaran bagaimana nilai-nilai moral tersebut bertahan atau berubah di era digital.

Penulis: Najwa Syalsabilla, Laura Hutauruk, Retno Agustina Lumban Siantar, Zahira Nazwa, Wincent Danuarta, Almarisa Berutu

You may also like