asd
32.3 C
New York

‘TOPENG’ – Sejauh Mana Kau Mampu Menyembunyikan Wajah

Published:

Tanpa disadari, banyak hal terjadi di sekitar kita yang seolah memancing isu dan kesenjangan sosial semakin marak. Dalam banyaknya kasus yang terjadi pada remaja, sedikitnya telah ditulis dalam novel ini dengan cukup baik.
Novel ini mengisahkan tentang empat orang sahabat yang secara tidak sengaja menjadi sahabat karib, mereka adalah Linda, Aim, Mer, dan Tiwi. Di halaman-halaman awal, kita akan dihadapi perspektif mengenai makna ‘sempurna’ dari simbol bulan dan bintang.
“Bulan adalah simbol ketidaksempurnaan manusia. Namun, betapapun tidak sempurnanya kita, seperti juga bulan, ia selalu mencoba memberi keindahan dalam gelap malam. Selalu berusaha do the best meski dia nggak perfect.” (halaman 13)
“Bintang adalah simbol keteguhan hati, pantang menyerah, dan selalu memiliki harapan.”
Dari kedua hal di atas, which one will you choose? Mana yang kalian pilih? Kalian akan temukan jawabannya setelah membaca novel ini, hehe…

Memasuki pertengahan halaman, kita akan dihadapkan dengan realita kehidupan. Linda, Aim, Mer, dan Tiwi, masing-masing dari mereka berusaha menutupi apa yang tidak seharusnya diketahui hanya agar tidak kehilangan sesuatu yang sangat berarti, yaitu sahabat sejati.

Layaknya memakai topeng, mereka seolah baik-baik saja padahal sedang rapuh. Selalu berusaha tersenyum walau hatinya menangis. Kehidupan yang dijalani saat ini seakan membuat seseorang menjadi dewasa sebelum waktunya. Belajar bertahan dalam segala keterbatasan. Mencoba tegar walau banyak cobaan di hadapan.

Setiap kisah dalam novel ini diceritakan dengan cukup baik dan runtut. Meski hanya terdiri dari 150 halaman, novel ini sangat complicated untuk dibaca dan dipahami maknanya. Bahkan, di beberapa kisah, plot twist sangat main blowing. Singkat dan tidak menye-menye.

”Wah, serius? Wah, gila!” gumamku saat menemukan plot twist yang dimaksud.
Terkesan klise, namun benar adanya. Karena sejak awal, aku tidak berekspektasi tinggi pada novel ini, namun setelah kubaca sampai akhir, isinya justru melebihi ekspektasiku sendiri.

Hingga, di halaman-halaman penutup, apa yang dirahasiakan mulai terungkap. Apa yang ditutupi mulai terkuak. Karakteristik yang berbeda-beda semakin membuat novel ini menarik untuk ditelaah. Ada yang polos tapi ‘gila’, ada yang kritis dan tidak mau kalah, ada yang penuh semangat walau selalu ingin menyerah, ada juga yang humble tapi tidak bisa memilih jalan hidupnya sendiri.

Kekurangan pada novel ini yaitu masih terdapat beberapa bagian yang sulit dimengerti alurnya. Mungkin penulis dapat menambahkan keterangan point of view di halaman awal pada setiap bab, sehingga pembaca tidak bingung siapa tokoh yang akan dibahas pada bab tersebut. Meskipun demikian, jika dibaca sampai akhir dan teliti, pembaca dapat memahami bagaimana alur cerita tersebut berjalan.

Semua keresahan, kekecewaan, maupun kebodohan yang dibalut rasa kasih sayang dibahas di sini.  Kisah yang membuat siapa saja yang membacanya dapat memahami apa arti sahabat sesungguhnya, apa konsekuensi dari menerima kekurangan, dan apa relevansi antara kehidupan dan kehilangan. Di beberapa halaman, kita akan merasa ada peran orangtua yang penuh kasih, keluguan yang menjerumuskan, dan oh, juga kebodohan yang menyesatkan! Seperti yang aku bilang sebelumnya, meski singkat, novel ini sangat complicated. Karena itu, aku sangat menyarankan kalian untuk membaca novel ini dan merekomendasikannya kepada para sahabat!

Judul Buku : Topeng
Penulis : Quelle Idee
Cetakan : I, November 2011
Penerbit : Mataniari Publisher
Ketebalan : 150 halaman
ISBN : 978-602-19309-0-8

Kru : Dewi Susilawati

Related articles

Recent articles