Di Balik Kemudahannya, Pembelajaran Daring Dinilai Masih Menyisakan Tantangan
Medan, Persma Kreatif — Pembelajaran daring masih menjadi bagian dari proses perkuliahan di sejumlah kampus, termasuk di lingkungan Universitas Negeri Medan. Sistem ini dinilai memberikan kemudahan bagi mahasiswa karena dapat diakses dari mana saja serta membantu menghemat waktu dan biaya transportasi. Namun, di balik fleksibilitas tersebut, pembelajaran daring juga dinilai masih menyisakan berbagai tantangan dalam proses belajar mengajar.
Mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PG-PAUD) FIP Unimed, Muhammad Rhatan Fahrozy, menilai bahwa pembelajaran daring cukup membantu, khususnya bagi mahasiswa yang memiliki jarak rumah jauh dari kampus.
“Kalau daring itu lebih memudahkan mahasiswa yang rumahnya jauh. Jadi tidak perlu datang jauh-jauh ke kampus dan bisa lebih hemat ongkos,” ujarnya.
Menurut Rhatan, sistem pembelajaran daring mampu menghemat biaya transportasi mahasiswa hingga sekitar Rp50 ribu per hari. Meski demikian, ia menilai efektivitas pembelajaran daring masih belum sebaik pembelajaran tatap muka.
Ia menjelaskan bahwa kurangnya pengawasan selama kelas daring membuat sebagian mahasiswa tidak sepenuhnya fokus mengikuti pembelajaran. Menurutnya, kondisi tersebut kerap memengaruhi suasana belajar di kelas virtual.
“Kadang dosen hanya fokus ke presenter saja. Ada mahasiswa yang tidak mendengarkan, tidur, atau melakukan hal lain saat zoom berlangsung,” katanya.
Selain itu, Rhatan juga menyoroti kendala teknis yang sering terjadi selama pembelajaran daring berlangsung. Gangguan jaringan internet, baik dari pihak mahasiswa maupun presenter, dinilai cukup menghambat penyampaian materi di kelas.
“Terkadang jaringan presenter buruk, jadi materi tidak jelas. Suaranya kadang seperti robot dan tampilan PPT juga kurang jelas,” jelasnya.
Ia juga mengaku penggunaan kuota internet menjadi tantangan tersendiri selama mengikuti pembelajaran daring. Menurutnya, kebutuhan kuota yang besar cukup membebani mahasiswa ketika perkuliahan dilakukan secara online dalam waktu yang panjang.
Tidak hanya itu, Rhatan menilai pembelajaran daring turut memengaruhi motivasi belajarnya. Kurangnya interaksi langsung dengan dosen, kualitas presentasi yang kurang maksimal, hingga persoalan jaringan membuat proses belajar terasa kurang efektif.
“Kadang dosen punya kesibukan sendiri, bahkan ada yang tidak datang dan mahasiswa disuruh zoom mandiri,” ujarnya.
Lingkungan rumah juga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kenyamanan belajar selama pembelajaran daring. Rhatan mengaku suasana rumahnya kurang kondusif karena berada dekat bengkel sehingga menimbulkan kebisingan saat kelas berlangsung.
Sebagai mahasiswa, ia berharap dosen dapat lebih memperhatikan kondisi kelas selama pembelajaran daring berlangsung. Ia menyarankan agar mahasiswa diwajibkan mengaktifkan kamera, dosen tidak terlambat masuk kelas virtual, serta memberikan penjelasan tambahan setelah presentasi selesai dilakukan.
Rhatan juga menegaskan bahwa dirinya lebih memilih pembelajaran tatap muka dibandingkan pembelajaran daring karena materi dinilai lebih mudah dipahami secara langsung.
“Kalau tatap muka lebih enak karena materi lebih tersampaikan, suara jelas, dan dosen bisa langsung menjelaskan menggunakan papan tulis,” tutupnya.
Pandangan tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran daring memang memberikan kemudahan dari sisi fleksibilitas dan efisiensi. Namun, efektivitas proses belajar tetap menjadi perhatian bagi mahasiswa, terutama dalam menjaga interaksi, fokus belajar, serta kualitas penyampaian materi selama perkuliahan berlangsung.
