Share

HMJ Pendidikan Geografi Unimed Gelar Bedah Film Dokumenter ‘Lara Aspal’, Sorot Dampak Kritis Tumpahan Aspal di Pesisir Nias

Medan, Persma Kreatif – Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial (FIS), Universitas Negeri Medan (Unimed) menggelar acara bedah film dokumenter ‘Lara Aspal’ (Aspal di Laut Nias). Acara yang diselenggarakan di ruang Audiovisual jurusan Sejarah Lt. 3 FIS Unimed ini berlangsung pada Jumat, (22/03/2024).

Film Dokumenter ‘Lara Aspal’ membongkar dampak tumpahan aspal dari kapal asing di perairan Nias. Film yang tayang pada Februari 2023 ini memuat dokumentasi tentang petaka di pesisir Nias ketika aspal cair mencemari Pantai Torito.

Dampak yang terjadi dari tumpangan aspal di perairan Nias ini tidak hanya merugikan lingkungan saja, tetapi juga menyulitkan para nelayan dalam mencari ikan. Selain itu, tumpahan aspal di laut Nias juga merusak kapal-kapal mereka.

Desa Torito menjadi salah satu titik terdampak dari tumpahan aspal yang belum mendapatkan solusi dan pembersihan yang memadai dari pemerintah dan pihak asing.

Proses evakuasi muatan kapal dan ganti rugi kepada masyarakat yang terdampak menjadi hal yang mendesak, mengingat banyak kerugian yang didapat dalam segi ekonomi maupun ekologi. Meskipun proses ini kompleks dan memerlukan biaya besar, tetapi keadilan bagi masyarakat tetap harus diutamakan.

Hariandi Purba selaku Direktur utama Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WLHI), menyajikan temuan dan analisis terbarunya tentang keadaan kritis di pesisir Nias akibat tumpahan aspal tersebut. Menyikapi kondisi tersebut, Hariandi Purba menekankan pentingnya tindakan konkret, termasuk mendesak perusahaan asing untuk bertanggung jawab atas dampak yang ditimbulkan.

Selain itu, WLHI Sumut terus melakukan upaya lapangan dan analisis hukum untuk mengawal kasus ini ke tingkat kementerian terkait. Tim WLHI juga mengajak mahasiswa dan masyarakat untuk lebih peka terhadap isu lingkungan ini, dengan harapan agar diskusi-diskusi lebih digalakkan dan kasus ini lebih disorot di media sosial serta melalui petisi internasional.

Sebelum pembersihan resmi dilakukan oleh pemerintah, masyarakat lokal sudah melakukan upaya pemindahan cairan aspal di laut. Namun, tantangan terbesar tetaplah pemulihan ekosistem terumbu karang yang membutuhkan perhatian dan tindakan serius.

Kisah tumpahan aspal di perairan Nias bukan hanya masalah lokal, namun juga menjadi perhatian global yang menuntut tanggung jawab bersama untuk menjaga lingkungan laut yang rentan terhadap dampak industri perkapalan.

Octo selaku ketua panitia berharap dengan adanya acara ini kita semua bisa sama-sama menerapkan dalam kehidupan sehari-hari untuk selalu menjaga lingkungan.

“Jaga bumimu, maka bumi akan menjaga masa depanmu, karena kalau bukan kita yang memulainya siapa lagi?”, ucap Octo dalam sambutannya.

Kru: Rexsi dan Cut Zahira

Editor: Chairunnisa

You may also like