Share

Ina-Geoportal, Teknologi Spasial yang Bantu Mahasiswa Geografi Analisis Banjir

Medan, Persma Kreatif- Ina-Geoportal, platform data spasial nasional yang dikelola Badan Informasi Geospasial (BIG), memudahkan mahasiswa Geografi dalam mengakses dan menganalisis data banjir berbasis citra satelit untuk keperluan pembelajaran dan kajian kebencanaan. Data Geospasial yang merupakan informasi atau data yang berkaitan dengan lokasi fisik di permukaan bumi di simpan dan dibagi untuk seluruh indonesia melalui Ina-Geoportal.

Di Indonesia, salah satu infrastruktur penting dalam membaca fenomena kebencanaan berbasis ruang adalah Ina-Geoportal, platform data spasial nasional yang dikelola oleh Badan Informasi Geospasial (BIG). Portal ini menyediakan akses data geospasial yang dapat dimanfaatkan untuk pemetaan, penginderaan jauh (remote sensing), dan analisis kebencanaan secara ilmiah.

Dalam konteks banjir, Ina-Geoportal menyediakan data analisis banjir yang difokuskan pada wilayah-wilayah terdampak seperti di Pulau Sumatera, yakni Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Penyediaan data ini merupakan respons atas kejadian banjir di wilayah tersebut, sementara untuk daerah lain, data analisis banjir belum tersedia. Kondisi ini menunjukkan bahwa data kebencanaan dalam Ina-Geoportal hadir mengikuti kebutuhan dan dinamika wilayah terdampak.

Data banjir yang disajikan berbasis citra satelit dan hasil pengolahan penginderaan jauh. Informasi yang tersedia tidak hanya menunjukkan lokasi dan sebaran genangan, tetapi juga luas area terdampak banjir yang terukur secara kuantitatif, mulai dari meter persegi (m²), hektar (ha), hingga kilometer persegi (km²). Pendekatan kuantitatif ini memungkinkan banjir dipahami tidak sekadar sebagai peristiwa, melainkan sebagai fenomena spasial yang dapat dianalisis, dibandingkan, dan dipetakan tingkat risikonya.

Secara teknis, pemanfaatan Ina-Geoportal berada pada ranah analisis data spasial hasil penginderaan jauh yang kemudian diolah menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG). Meski dapat diakses secara gratis oleh publik, pengelolaan data spasial menjadi peta analisis membutuhkan kompetensi khusus. Tanpa pemahaman SIG, data berpotensi tidak terbaca secara utuh, bahkan menimbulkan kesalahan interpretasi. Hal ini menegaskan bahwa keterbukaan data harus berjalan seiring dengan literasi spasial.

Selain dimanfaatkan dalam analisis kebencanaan, data Ina-Geoportal juga memiliki relevansi penting dalam konteks pendidikan geografi, terutama sebagai sumber pembelajaran berbasis data nyata dan kontekstual.

Daniel Try, mahasiswa Jurusan Pendidikan Geografi Unimed Angkatan 2024, menilai bahwa data spasial Ina-Geoportal membantu mahasiswa memahami pola sebaran banjir secara lebih konkret. Menurutnya, analisis citra satelit, Digital Elevation Model (DEM), dan peta tematik memungkinkan mahasiswa melihat keterkaitan antara tutupan lahan, topografi, curah hujan, dan aliran sungai terhadap kejadian banjir secara visual dan sistematis.

“Melalui Ina-Geoportal, kami tidak hanya mempelajari banjir sebagai kejadian, tetapi juga memahami proses spasial yang membentuknya. Ini melatih cara berpikir keruangan secara nyata,” ujar Daniel.

Ia menambahkan bahwa Ina-Geoportal berpotensi menjadi media pembelajaran berbasis SIG yang relevan untuk studi kasus kebencanaan. Pemanfaatan data spasial aktual dinilai mampu meningkatkan literasi spasial serta kemampuan analisis mahasiswa dalam mengaitkan teori geografi dengan kondisi lapangan.

Meski demikian, Daniel juga menekankan adanya keterbatasan data. Ia menilai bahwa data banjir Ina-Geoportal cukup representatif untuk analisis skala regional hingga nasional, tetapi belum sepenuhnya optimal untuk skala lokal karena keterbatasan resolusi citra satelit. Oleh sebab itu, analisis spasial perlu dilengkapi dengan validasi lapangan (ground check) serta data hidrometeorologi seperti curah hujan, debit sungai, dan tinggi muka air.

Kehadiran Ina-Geoportal menandai pergeseran penting dalam cara Indonesia membaca bencana: dari narasi kejadian menuju pemahaman berbasis data dan ruang. Namun, data bukanlah jawaban akhir. Ia adalah alat yang menuntut kecakapan membaca, mengolah, dan menafsirkan. Tanpa literasi spasial, data hanya menjadi arsip digital; dengan pemahaman yang tepat, data dapat menjadi dasar mitigasi, pendidikan, dan pengambilan keputusan yang lebih bertanggung jawab.

Dalam konteks ini, Ina-Geoportal bukan sekadar platform teknologi, melainkan bagian dari ekosistem pengetahuan kebencanaan. Tantangannya ke depan bukan hanya memperluas cakupan data, tetapi juga memastikan bahwa data tersebut dipahami secara kritis, digunakan secara tepat, dan diintegrasikan dengan realitas lapangan. Di sanalah peran akademisi, pendidik, dan masyarakat menjadi krusial dalam menjembatani data dengan tindakan nyata.

You may also like