12.6 C
New York

Efek Lembur

Published:

Bekerja di kantor tentunya tidak selalu menyenangkan. Namun begitu Arya selalu menyukai pekerjaannya. Arya bekerja sebagai salah satu karyawan di sebuah perusahaan produsen makanan memiliki banyak kesibukan. Dia bahkan seperti tak sempat menikmati masa mudanya. Tahun ini Arya sudah menginjak usia yang ke 28 tahun. Selama hidupnya, ia bahkan tak pernah sempat betul-betul berkencan dengan seorang wanita. Memasuki usia yang hampir mendekati kepala tiga membuat ia pusing sendiri tentang hidupnya ke depan. Untungnya dia sudah memiliki finansial yang cukup memadai. Namun, tetap saja ia masih memilih untuk tinggal di sebuah kontrakan sederhana. Dia lebih suka menabung uangnya untuk masa depan yang belum ia ketahui. Arya tinggal sendiri di kontrakan karena orangtuanya sudah lama meninggalkannya ditambah lagi dia anak tunggal.

Menghadapi semuanya sendiri membuat Arya jadi lebih kuat dan mandiri. Namun di balik itu semua, tentu ada rasa kesepian yang hadir menyelimuti. Jika teman-teman sekantornya biasa pergi berkencan di akhir pekan, beda cerita dengan dia yang biasanya hanya menghabiskan waktu menonton film di kamar. Kalau bosan di kamar, paling supermarket sekitar kontrakan yang menjadi tujuannya. Sering dia merasa kesepian, namun saat hari kerja tiba rasa sepi itu seperti tak pernah ada. Imbas dari rasa sepinya ialah ia selalu rajin bekerja di kantor. Hal tersebut pun membuatnya menjadi salah satu karyawan terbaik. Pasalnya bosnya pernah mengatakan hal itu.

Setiap harinya Arya semakin giat bekerja. Kerja lembur yang sudah seperti membudaya untuk para karyawan kantor pun cukup sering Arya lakukan. Kali ini dia harus lembur untuk mengerjakan laporan akhir dari projek inovasi produk baru makanan yang sudah dikerjakan Arya dan timnya selama berbulan-bulan. Untuk laporan akhir ini, dia sendiri yang memang berinisiatif menyelesaikannya sebelum akhir pekan.

Hari Jumat tiba, waktunya Arya untuk menyelesaikan laporan akhir. Dari rumah, dia sudah bersiap-siap dengan membawa bekal sampai nanti malam. Dia tahu bahwa dia akan lembur hari ini jadi tak akan sempat keluar membeli makanan. Berhubung dia juga orang yang hemat maka menurutnya lebih baik membawa makanan buatan sendiri.

Kemudian Arya berangkat ke halte bus di simpang depan kontrakannya. Biasanya memang dia selalu berangkat naik bus. Setibanya di sana, Arya kemudian duduk di bangku panjang yang tersedia. Kebetulan, dia berangkat lebih pagi dari biasanya sehingga suasana masih gelap dan sepi. Tak sadar, ternyata ada juga orang lain di halte itu. Seorang perempuan yang tampak dewasa dengan kardigan merah jambu dan rambut hitam yang terurai menutupi kedua sisi wajahnya. Dia juga memakai rok yang warnanya lebih merah dari kardigannya. Anehnya dia malah ceker ayam. Setidaknya itulah yang diperhatikan Arya sebagai sesama orang yang menunggu di halte.

Arya pun mencoba menghampiri perempuan tersebut, ingin menanyakan mengapa dia tak memakai sepatu. Baru berjalan tiga langkah dari bangku yang didudukinya, tiba-tiba suara bus sudah terdengar. Arya kemudian naik ke bus yang sudah cukup penuh dari halte sebelumnya. Dia naik dari pintu belakang, sedangkan perempuan itu naik dari pintu depan. Dalam bus cukup padat membuat arya tak bisa fokus menemukan perempuan tadi.
Setibanya di kantor, Arya kembali teringat dengan tujuannya hari ini yaitu menyelesaikan laporan akhir timnya. Cuaca cerah di hari Jumat sepertinya memberi mood positif untuk semua orang di kantor. Suasana kantor terasa ceria terlebih dengan petugas kebersihan kantor yang tampak lebih ramah hari ini. Ruang kerja Arya ada di lantai sebelas. Gedung kantornya memang merupakan salah satu bangunan pencakar langit yang megah. Bahkan sampai 20 lantai. Kemudian Arya bergegas memasuki lift yang kebetulan terbuka saat ia baru datang. Dalam lift yang dinaikinya tidak terlalu padat, masih ada ruang antara orang yang satu dengan lainnya. Saat tiba di lantai sebelas, Arya segera bergegas keluar. Setelah ia keluar dari lift, sekilas terlihatnya seorang perempuan yang tak asing, seperti yang baru ditemuinya di halte. Namun tanpa berlama-lama, Arya bergerak menuju ruang kerjanya.
“Selamat pagi, Bro, pagi mbak !” sapa Arya dengan semangat pada teman sekantornya dan seorang wanita petugas kebersihan. Mereka pun membalas sapaan Arya dengan senyuman. Sebuah awal yang baik untuk memulai hari, pikirnya kemudian.

Setibanya Arya di meja kantornya, dia langsung membuka PC-nya mengecek file-file tugas yang harus diselesaikan hari ini terutama laporan akhirnya. Dia mengetik dengan fokus mengerjakan tugas yang ada di depannya. Tanpa dia sadari, hari sudah semakin gelap. Teman-teman sekantornya memutuskan pulang lebih awal. Hingga tinggal Arya sendirilah yang berada di kantor.


“Selesai !” teriaknya dengan girang. Dia merasa sangat puas karena tugasnya siap hari ini, sesuai target. Segera ia bergegas pulang karena isi kantor juga sudah kosong dan sepi. Sebelum pulang, dia memutuskan mampir ke supermarket 24 jam dekat gedung kantornya. Dia membeli beberapa camilan makanan dan minuman, hitung-hitung sebagai reward untuk dirinya.


Malam yang sudah gelap dan dingin membuat Arya harus menunggu bus lebih lama dari biasanya. Dia sendirian menunggu bus di halte. Angin malam yang berhembus membuat jari-jari tangan Arya semakin dingin. Tak beberapa lama, bus pun akhirnya tiba. Arya segera naik lewat pintu depan. Dalam bus terlihat sepi dan kosong, mungkin karena ini ialah bus antrian terakhir. Hanya ada seorang supir dan perempuan yang duduk di bangku tengah bus.


Arya kemudian teringat bahwa perempuan itu ialah orang yang sama dengan yang ditemuinya tadi pagi saat di halte dan kantornya hari ini. Perempuan itu duduk dengan memalingkan wajahnya ke jendela hingga hanya bagian belakangnya saja yang terlihat. Arya yang sudah penasaran sejak tadi pagi mencoba untuk duduk di sebelah perempuan itu. Namun dia tetap duduk tenang tanpa berpaling dari jendela. Kemudian Arya mencoba mengajak perempuan itu mengobrol.


“Hai Mbak, saya Arya yang tadi pagi di halte bus,” sapanya dengan lembut.


Perempuan itu tetap tak menoleh. Hanya terlihat rambut hitam terurai di hadapan Arya. Rasa penasarannya semakin memuncak. Dia akhirnya memberanikan diri untuk menepuk pelan pundak perempuan itu. Perempuan itu berbalik ke arah Arya. Betapa terkejutnya dia karena ternyata mata perempuan itu sangat merah mengeluarkan air mata namun mulutnya tersenyum lebar melebihi rahangnya hingga menampakkan gigi-giginya yang juga mengalirkan tetesan darah hingga ke roknya.


“Haa, se-se-setan!” spontan arya berteriak hingga membuatnya terjatuh dari kursi. Smartphone di belakang kantong celananya juga ikut terjatuh ke lantai bus. Dia segera memanggil supir bus untuk berhenti. Kakinya yang gemetaran tak sanggup berdiri. Sekujur tubuhnya terasa merinding. Perempuan itu malah semakin mendekat. Arya tetap berusaha memanggil-manggil supir bus untuk berhenti.


“Pak, pak tolong saya, Pak ada setan, tolong berhenti, Pak!” teriaknya sekuat tenaga. Suaranya terasa serak kemudian hampir habis. Pak supir akhirnya menoleh, namun hanya kepalanya saja yang berputar layaknya seekor burung hantu. Dia melihat Arya dengan tatapan kosong, kedua bola matanya hilang. Hanya ada lubang mata di wajahnya. Arya semakin merasa ngeri dan ngilu. Refleks dia menutup mulutnya. Suaranya seperti terputus, sementara supir bus dan perempuan itu semakin mendekat. Dengan gemetar dia berusaha menggapai smartphone-nya untuk menelepon bantuan.


“Hampir sampai, sedikit lagi,” gumamnya.


Kemudian smartphone itu pun tiba-tiba berdering menunjukkan pukul tujuh pagi. Sebuah alarm yang distel arya untuk membangunkannya di pagi hari. Lalu Arya terjatuh dari kursi kerjanya. Petugas kebersihan kantor hanya bisa tertawa melihat Arya yang mengigau di hari Sabtu yang masih pagi.

Kru : Gracia Girsang

Related articles

Recent articles