16.8 C
New York

JERAT

Published:

“Ayamnya buat adek aja, Kak.” Ayam yang tadinya sudah hampir berpindah ke piring makanku terpaksa ku letakkan kembali ke awal.

Aku hanya dapat menghembuskan napas sebal, bukan hal baru bagiku diperlakukan tak adil di rumah yang sangat “mendahulukan lelaki” apapun yang terjadi. Aku berusaha makan dengan tenang dan cepat agar segera sampai ke kampus, mengingat jam masuk sekolah sudah mendekati tepatnya.

Setelah selesai makan, aku segera meletakkan piring ke tempat pencuciannya dan segera mengambil tasku untuk beranjak pergi “Kakak pergi dulu, Ma.”
“Cuci piring bentar Kak sebelum berangkat” teriak Mama dari arah belakang rumah.
“Ada pelajaran penting, Ma. Kakak hampir telat.”
“Cuma sedikit, Kak. Bentaran doang paling.”
“Kevin hari ini libur, Ma. Dia bisa mengerjakannya.” Protesku dengan memutarkan bola mata.

“Kevin itu laki-laki, Kak. Mana ada laki-laki nyuci piring.” Sontak suara yang lolos dari lisan Mamaku bak menamparku dan Mendorongku hingga terjungkal ke dalam jurang. Aku tidak tahu apa yang ada di benak beliau. Dan hal yang paling mengejutkannya adalah aku ingin semuanya baik-baik saja meskipun saat ini aku begitu jengkel sebab sebentar lagi kelasku akan dimulai. “Udah kerjakan sana bentaran! Cuma sedikit, Kak.”

“Nah, itu dia. Karena sedikit biar saja dia yang mencuci Ma. Kakak udah beneran telat, nih.” Sungguh, bukannya aku tak ingin mencuci piring. Namun, waktulah yang menuntutku untuk segera berangkat ke sekolah.

“Tugas rumah itu perempuan yang mengerjakan, Kak. Tidak ada laki-laki yang melakukannya.” Dalih Mama sekali lagi. Aku tidak tahu harus bersikap bagaimana lagi. Aku sangat jengkel, geram, dan mungkin gusar seusai mendengar apa yang Mama ucapkan. Raut wajahku mungkin sudah sangat masam sekarang. Dan barangkali, hal tersebutlah yang pada akhirnya membuat Mama berucap, “Udah sana pergi, nanti pulang sekolah baru cuci.”
Aku pergi dengan cepat tanpa mempedulikan apapun ucapan mama selanjutnya.

Beginilah pagiku, selalu dihiasi drama (yang entah ku tahu genre drama apa) dan selalu mengaitkan gender dalam setiap permasalahannya. Bukan aku tak suka mengerjakan pekerjaan rumah, namun jika dikerjakan bersama akan lebih ringan dan sama-sama bisa bersantai bukan hanya membatasi urusan domestik pada satu gender saja.

Beruntungnya temanku tidak begitu. Mereka sangat menghargai sesama apapun perbedaan diantara kami, itulah sebabnya aku lebih nyaman berdiskusi dengan temanku daripada keluarga.
Namun semua emosi, kekesalan, dan kesedihan yang selama ini ku pendam akhirnya terucap juga. Malam ini adalah puncaknya.
Aku pergi menghadiri ulangtahun temanku yang ke-17 tahun di sebuah restoran dan acara memang dimulai pada malam hari pukul 20.00 WIB. Dan berakhir dengan aku yang pulang pukul sebelas malam.

Aku membuka pintu perlahan, berusaha berjalan sepelan mungkin agar tak ketahuan karena mengira seluruh keluarga sudah tidur.
Namun nahas, ternyata orangtuaku masih tejaga dan sekarang menatapku tajam.

“Jam berapa ini, Kak?” Teriak Mama sembari melempar tatapan tajamnya.
“Mau jadi perempuan apa kamu Kak, pulang jam segini?” sahut Ayah yang turut menatapku garang.
”Maaf. Tadi acaranya ngaret dikit karena nungguin Om yang ngadain acara datang, makanya pulang telat.” Kujawab dengan sejujur mungkin. Mata kemala ini hanya menatap tanganku yang meremas-remas ujung pakaian.
“Kamu itu perempuan, Kak. Gak pantas pulang malam. Kamu bukan laki-laki bisa seenaknya pulang jam berapapun karena laki-laki bisa jaga diri.” Ibuku yang mengucapkan kalimat itu, tentu saja dengan raut yang masih dibinanya kejam.

“Mulai besok tidak ada lagi keluar setelah pulang sekolah, les juga Ayah berhentikan dan kamu fokus saja lulus SMA kayak mama. Perempuan gausah sekolah dan belajar tinggi-tinggi, toh ujung-ujugnya juga ngurus dapur. Setelah tamat nanti kamu langsung cari kerja, gausah mikir mau kuliah lagi. Jika di keluarga ini ada yang kuliah, kita akan usahakan itu adikmu saja, biar dia sekolah tinggi dan mengangkat derajat keluarga.” Ucap Ayahku konservatif.
Emosiku tak tertahan, airmataku bahkan sudah menetes tanpa bisa kucegah, darahku seolah mendidih bahkan telah berhenti berlari. Juga seperti ada beban berpuluh-puluh ton yang menghantam kepalaku saat itu juga.

“Terus menurut Ayah aku gak bisa membuat keluarga ini bahagia? Aku gak bisa mengangkat derajat keluarga ini? Kakak harus menikah muda sama kayak mama? Kenapa sih yah keluarga ini selalu gak adil sama perempuan?” Ucapku dengan airmata yang telah jatuh berlimpah ruah menyusuri ladang pipi.

“Apa sih Kak, gak sopan banget ngomong sama orangtua gitu. Kodratnya perempuan ya emang di bawah laki-laki Kak, emang kakak mengharapkan apa?” sahut Mama.

“Mama mengharapkan apa? Kakak capek lihat keluarga ini yang selalu menganggap perempuan lemah dan terbelakang. Bukannya Kakak pengen di utamakan, Kakak cuma pengen keluarga ini saling menghargai dan saling melengkapi. Kenapa semuanya perempuan disalahkan dikeluarga ini.” Ucapku diiringi isak tangis yang hampir menjadi-jadi.

Aku segera masuk ke dalam kamar, tak sanggup meneruskan perdebatan yang kutau akhirnya aku akan kalah. Aku segera membersihkan diri dan bersiap tidur.

“Hei, kamu kenapa, Rin?”
Aku tersentak, menatap mas Arga, Suamiku, dengan tersenyum agar ia tak merasa curiga.
Sudah sepuluh tahun namun aku masih saja memikirkan kejadian yang sangat memilukan karena itu adalah perdebatan terakhirku dengan Ayah karena siangnya ia sudah menghadap sang pencipta. Walaupun Ayah sudah pergi, namun sistem patriakri masih terasa di rumah Mama.

Aku tetap mewujudkan keinginan Ayah yang menginginkan Adikku kuliah. Namun, akupun memaksakan kuliah juga walaupun kerja banting tulang.

Nurbaity

admin
adminhttp://persmakreatif.com
Hai, ini saya Admin Persma Kreatif. Apakah kamu punya Pertanyaan dan Saran? Biarkan saya tau!, Kirimkan ke Email kami perskreatiftim@gmail.com atau Melalui Intagram @Persmakreatif

Related articles

Recent articles