Suara Yang Terbungkam
Suara Yang Terbungkam
Relung dalam sekat.
Sebongkah bangku kayu tua,
menjadi perebutan dinasti kuasa.
Melupakan pengrajin yang hampir rapuh,
hingga tak ada satu orang pun mengalah.
Sungguh ironis dalam pekik gagak bersiul.
Orang lemah, ditindas
Orang kuat, berkuasa
Orang miskin, dijanjikan menjadi kaya
Seruan suara menyatu, bersorak-sorai.
“Tuan dan Puan, sekalian! Kembalikan keadilan,
kembalikan kedamaian, dan kembalikan hak yang seharusnya menjadi ada.”
Tangisan bayi terdengar menderita,
Bapak dan Ibu mereka tertahan di dalam jeruji besi.
Tangisan orang tua terdengar menyedihkan,
melihat anaknya terbaring tak berdaya di ruang rawat inap.
Mereka hanya ingin hidup damai,
tanpa ada kata tudingan.
Gedung-gedung tinggi,
telah merampas dengan serampangan.
Kebahagian pun terbungkam,
hanya ada kesedihan.
Suara-suara kecil tak terdengar,
hanya terdiam dalam dinginnya dekapan.
Gadis-gadis hanya bisa bersembunyi,
suara lembutnya tak dapat berkutik.
Para lansia bertatih-tatih,
dengan tongkat bahkan kursi roda mereka.
Akan ketakutan bangku kayu tua,
terebut kuasanya oleh, Tuan dan Puan.
Malam hanya bisa menyelimuti dingin,
rembulan memancarkan cahayanya dengan terang.
Hembusan angin membawakan suguhan kabar,
kesedihan (atau) kebahagian akan datang?
Puisi Karya: Winaldi
Ilustrasi: Syakira
