Share

Ruang Aman yang Runtuh di Tengah Krisis

Medan, Persma Kreatif – Ketika bencana, konflik, atau krisis yang sedang melanda, kita kerap menyaksikan kisah indah tentang solidaritas dan kepedulian sesama. Bagaimana manusia saling mengulurkan tangan, berbagi harapan, dan menunjukkan sisi terbaik kemanusiaan di tengah kesulitan. Namun, kasus dugaan pelecehan seksual yang dialami oleh mahasiswi dari kota Langsa mengingatkan kita pada kenyataan pahit bahwa tempat yang dianggap aman bisa runtuh sekejap mata. Berita yang menunjukkan bahwa manusia masih bisa saling melukai bahkan sedang dalam keadaan buruk sekalipun.

Dilansir dari suarasumut.id pada Selasa (09/12/2025), beredarnya video amatir di berbagai platform media sosial yang memperlihatkan amuk massa terhadap seorang supir truk yang diduga sebagai pelaku seksual. Korban merupakan seorang mahasiswi asal Kota Langsa yang sedang menumpang untuk melintasi banjir yang melanda Kabupaten Aceh Tamiang. Dalam situasi di mana seseorang membutuhkan perlindungan, ada pihak yang memanfaatkan situasi tersebut untuk merampas hak dan martabat orang lain. Dari sinilah pertanyaan muncul: di manakah kemanusiaan kita?

Bayangkan seorang mahasiswi yang sedang panik, ketakutan, yang berharap menemukan tempat perlindungan saat menumpang truk yang disediakan untuk mengungsi, di saat itu lah tubuhnya dilecehkan, kehormatannya direngut, dan keselamatannya dihancurkan oleh tangan yang seharusnya membantunys. Alih-alih mendapat bantuan, ini adalah penghianatan terhadap nilai kemanusiaan itu sendiri, bukan sekedar pelanggaran fisik.

Meskipun cerita tentang persaudaraan di tengah bencana ramai diperbincangkan, tapi kita juga harus mengakui bahwa kejahatan muncul sebagai akibat dari krisis. Sering kali, tangan yang terulur tidak selalu punya niat baik. Kita tidak boleh hanya merayakan kisah heroik, tetapi kita juga harus berani menghadapi sisi gelap kemanusiaan ini. Kita harus melakukannya bukan untuk menjadi sinis, tetapi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa perlindungan perempuan dan kelompok rentan harus menjadi prioritas utama, bukan sekadar narasi pelengkap.

Ruang aman tidak timbul secara spontan. Ruang aman membutuhkan sistem perlindungan yang nyata, tanggung jawab, penegakan hukum yang tegas, dan budaya yang menolak kekerasan, terutama selama krisis. Jika kita benar-benar percaya pada kemanusiaan, mari kita buktikan dengan memastikan bahwa ruang aman bukan lagi ilusi dan dengan menghentikan kekerasan seksual tanpa konsekuensi. Karena kemanusiaan sejati berarti menolong dan tidak melukai, bahkan ketika kesempatan untuk berbuat jahat di depan mata.

You may also like