Share

Siswa SD NTT Ditemukan Meninggal, Psikolog Soroti Tekanan Ekonomi Keluarga

Penulis: Lilis dan Laura

Ngada, Persma Kreatif — Seorang siswa kelas IV sekolah dasar berinisial YBR (10) di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, ditemukan meninggal dunia di sekitar rumahnya pada akhir pekan lalu. Di lokasi kejadian, aparat menemukan secarik surat perpisahan yang ditujukan kepada ibunya dan ditulis menggunakan bahasa Bajawa.

Dalam surat tersebut, korban menuliskan ungkapan perasaan dan kekecewaan terhadap situasi keluarga. Surat itu diamankan sebagai barang bukti oleh aparat kepolisian saat proses evakuasi jenazah.

Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA), Marini, menilai isi surat tersebut menunjukkan adanya tekanan emosional pada diri anak yang kemungkinan berkaitan dengan stres dalam lingkungan keluarga. Ia menjelaskan bahwa tekanan ekonomi yang berlangsung lama dapat membuat orang tua menjadi lebih tegang dan kurang responsif, sehingga anak menafsirkan perubahan sikap itu sebagai bentuk penolakan.

Menurut Marini, anak berusia sepuluh tahun sudah dapat mengalami depresi berat, tetapi belum memiliki kemampuan kognitif untuk memahami persoalan orang dewasa seperti kesulitan ekonomi. Situasi itu membuat anak rentan membuat kesimpulan yang keliru terhadap perilaku orang tua.

“Anak dapat menyerap kecemasan keluarga dan memaknainya dengan pola pikir sederhana. Jika tidak ada ruang aman untuk bertanya atau mengekspresikan perasaan, mereka bisa mengambil keputusan yang didasari pemahaman yang sangat terbatas,” ujarnya, Jumat (6/2/2026).

Pihak sekolah menyatakan korban dikenal sebagai siswa pendiam dan tidak menunjukkan perubahan perilaku yang mencolok. Sementara pemerintah daerah masih menunggu hasil pemeriksaan lengkap serta mengimbau masyarakat lebih peka terhadap tanda-tanda stres emosional pada anak.

Masyarakat diminta segera menghubungi layanan darurat 119 apabila menemukan gejala depresi atau indikasi keinginan mengakhiri hidup pada anak maupun orang dewasa.

You may also like