Salju Abadi Papua Terancam Punah, Jejak Krisis Iklim di Puncak Jayawijaya
Medan, Persma Kreatif —Salju di puncak Jayawijaya yang selama ini dikenal dengan julukan salju abadi dan satu-satunya salju tropis di Indonesia, kini keberadaannya kian terancam karena lapisan es di kawasan tersebut diperkirakan akan menghilang sepenuhnya dalam beberapa tahun ke depan, seiring pencairan yang terus terjadi.
Dilangsir dari detik.com, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Hanif Faisol Nurofiq, menyampaikan bahwa berdasarkan hasil kajian dan pemantauan ilmiah, salju abadi di Puncak Cartenz diproyeksikan akan lenyap pada 2026. Kondisi ini menjadi perhatian serius karena mencerminkan dampak nyata perubahan iklim.
Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) tahun 2024 menunjukkan, ketebalan es di kawasan tersebut kini hanya tersisa sekitar 4 meter. Padahal, pada 2010 lalu ketebalan es masih mencapai sekitar 32 meter.
Penyusutan juga tercatat pada periode November 2015 hingga Mei 2016, ketika lapisan es berkurang menjadi sekitar 5,6 meter.
Menurut para peneliti, penyusutan salju abadi di Puncak Jayawijaya terjadi akibat kenaikan suhu udara yang dipicu oleh perubahan iklim. Suhu yang semakin hangat membuat es mencair lebih cepat dan sulit terbentuk kembali.
Selain itu, pola cuaca di wilayah pegunungan Papua ikut berubah. Curah hujan yang dulu banyak berupa salju kini lebih sering turun sebagai hujan, sehingga tidak menambah ketebalan es, justru mempercepat pencairan.
Paparan sinar matahari yang lebih tinggi juga memperburuk kondisi, sehingga permukaan es lebih lama terpapar panas.
Hilangnya salju abadi ini membawa sejumlah dampak. Dari sisi lingkungan, pencairan es dapat memengaruhi keseimbangan ekosistem pegunungan, termasuk perubahan aliran air yang bersumber dari kawasan sekitar es. Kondisi tersebut berpotensi berdampak pada kehidupan flora dan fauna di sekitarnya.
Selain itu, berkurangnya salju tropis juga berarti hilangnya salah satu sumber penting bagi penelitian iklim dan geologi.
Selama ini, lapisan es di Puncak Jayawijaya menjadi indikator alami untuk membaca perubahan iklim jangka panjang.
Keberadaan salju di Pegunungan Jayawijaya selama ini menjadi simbol kekayaan alam Indonesia. Namun, jika pencairan terus berlangsung, salju abadi tersebut diperkirakan hanya akan tinggal catatan sejarah.
Kondisi ini menjadi pengingat bahwa perubahan iklim membawa dampak nyata, bahkan hingga ke wilayah paling timur Indonesia.
