Share

Ngerinya Media Sosial dan Pentingnya Budi Pekerti

Medan,Persma Kreatif- Sebuah film Indonesia yang ditulis dan disutradari oleh Wregas Bhatuneja, sutradara yang juga sempat menyutradarai film Penyalin Cahaya (2021) lalu. Meraih 17 nominasi di ajang Festival Film Indonesia, Budi Pekerti tayang perdana di Festival Film Internasional Toronto pada 9 September 2023 silam. Selain itu, film ini juga terpilih sebagai official selection di SXSW Sydney 2023 Screen Festival yang telah berlangsung pada 15—22 Oktober 2023 di Sydney, serta terpilih menjadi film pembuka di Jakarta Film Week (JFW) 2023 pada 25—29 Oktober 2023.
Menceritakan tentang Bu Prani (Sha Ine Febriyanti) seorang guru Bimbingan Konseling (BK) di salah satu SMP di Yogyakarta yang terlibat cekcok dengan pelanggan kue putu di pasar, kejadian tersebut kemudian direkam dan diunggah ke media sosial, sehingga menyebabkan beliau dikecam karena dinilai tidak mencerminkan seorang guru.

Kengerian Media Sosial Saat Ini

Film Budi Pekerti mengangkat salah satu topik yang sangat erat dengan kehidupan kita saat ini. Perkembangan akses media sosial, serta cepatnya pertukaran informasi dapat mempengaruhi kehidupan seseorang. Kengerian media sosial yang menjadi ruang publik, mempermudah orang dalam memberikan opini liar tanpa aturan.
Alur yang dibawakan dalam film ini sangat realistis dan humanis, sangat dekat dengan kehidupan sosial masyarakat. Film Budi Pekerti dapat memberikan pesan kepada penonton agar lebih berhati-hati dalam penggunaan media sosial.

Acting Para Aktor yang Patut Diacungi Jempol

Para pemeran utama diisi oleh para aktor papan atas Indonesia, seperti Sha Ine Febriyanti yang memerankan Bu Prani, Dwi Sasono sebagai suaminya Bu Prani, Prilly Latuconsina sebagai Tita yang merupakan anak pertama Bu Prani, dan Angga Yunanda sebagai Muklas yang merupakan anak keduanya Bu Prani. Film ini belatar belakang di Yogyakarta, sehingga para aktor pun menggunakan bahasa Jawa dalam dialognya, para aktor yang menghayati dalam menjalankan perannya sangat enak untuk dinikmati. Tidak ada kesan “memaksa” ketika para aktor menggunakan bahasa Jawa dalam dialognya. Selain tokoh utama, acting para tokoh pendukung juga patut diacungi jempol. Gora contohnya, salah satu mantan murid Bu Priani, tokoh pendukung yang mungkin dianggap tidak penting di awal film, ternyata menjadi kunci utama yang mencuri perhatian penonton. Tidak heran jika film dan para pemain dalam film ini masuk ke nominasi Piala Citra 2023.

Sinematografi serta Scoring Memukau dan Pesan di Dalamnya

Visualisasi dari film ini juga tidak bisa diremehkan, penggabungan sinematografi dan penghadiran sejumlah simbol semiotika pada visual menjadi perpaduan ciamik yang memanjakan mata sekaligus memiliki pesan mendalam. Scoring dan soundtrack dalam film ini juga benar-benar dapat menggugah emosional mendalam dari para penonton. Tiap adegan dalam film memiliki unsur dramatisnya secara alami, tidak ada unsur paksaan untuk mendramatisasi adegan. Film ini sangat layak jika disebut sebagai film Indonesia terbaik tahun ini, dan tidak diragukan lagi dengan banyaknya nominasi yang diraih dalam film ini.

You may also like