Museum Perjuangan Pers: Menjaga Jejak yang Hampir Sunyi
Medan, Persma Kreatif – Suara gesekan sepatu dengan pasir beradu, menciptakan bunyi serak yang pelan tapi menusuk telinga. Dari balik pintu kayu rumah tua itu, seorang lelaki berusia sekitar 20 tahunan melangkah keluar. Wajahnya tenang, geraknya sederhana. Ia adalah Mufti TWH, cucu dari pendiri Museum Perjuangan Pers Sumatera Utara.
Rumah itu berdiri apa adanya. Catnya mulai pudar, beberapa sudut dinding tampak lapuk, seolah menyimpan kelelahan panjang karena usia. Namun di balik kesederhanaannya, rumah ini menyimpan cerita besar, tentang pers, perjuangan, dan keyakinan bahwa tulisan bisa menjadi senjata.
Museum Perjuangan Pers Sumatera Utara didirikan atas dasar cita-cita almarhum Muhammad Tok Wan Haria, atau yang lebih dikenal dengan TWH, Ia seorang jurnalis, sekaligus tokoh pejuang, khususnya di Medan. Bagi Muhammad TWH, pers bukan sekadar media penyampai kabar. Di masa penjajahan dan awal kemerdekaan, pers adalah alat perlawanan, ruang keberanian, dan suara yang kerap dibungkam namun tak pernah benar-benar mati.
Cita-cita itulah yang kemudian diwujudkan dalam bentuk museum. Bukan di gedung megah atau kawasan wisata, melainkan di rumah pribadinya sendiri. Museum ini adalah museum personal, dibangun, dirawat, dan dijaga dengan dana pribadi. Sebuah pilihan yang sederhana, tapi sarat makna.
Memasuki bagian dalam rumah, waktu terasa berjalan lebih lambat. Rak-rak kayu dipenuhi arsip surat kabar lama. Lembaran-lembaran kertas yang menguning itu pernah menjadi saksi lahirnya gagasan, perlawanan, dan perubahan. Di sini tersimpan surat kabar pertama di Indonesia, juga berbagai media yang memuat peristiwa-peristiwa penting bangsa. Ada buku-buku perjuangan dengan sampul usang, lukisan asli, serta dokumen yang erat kaitannya dengan perjalanan pers di tanah air.
Setiap sudut menyimpan cerita. Setiap benda seolah ingin bercerita, meski perlahan mulai rapuh dimakan usia. Museum ini tidak sekadar menyimpan arsip, tetapi menjaga ingatan, tentang bagaimana kata-kata pernah dipertaruhkan, tentang jurnalis yang menulis dengan risiko, dan tentang pers yang tumbuh di tengah tekanan.
Sebagai museum pribadi, keterbatasan menjadi bagian dari keseharian. Perawatan arsip, pemeliharaan bangunan, hingga upaya mengenalkan museum kepada publik dilakukan dengan kemampuan seadanya. Mufti, sebagai pengelola, berharap ada perhatian lebih dari pemerintah dan pihak terkait. Bukan semata soal bantuan dana, tetapi tentang kepedulian agar sejarah pers tak perlahan menghilang dalam sunyi.
