Mahasiswa KKN Unimed Wujudkan Desa Mandiri di Desa Purworejo
Medan, Persma Kreatif — Universitas Negeri Medan (Unimed) mengutus 21 mahasiswa dari berbagai program studi untuk melaksanakan KKN di Desa Purworejo, Kecamatan Aek Kuo, Kabupaten Labuhanbatu Utara. Kehadiran mahasiswa di Purworejo bukan sekadar menjalankan kewajiban akademik, melainkan juga menjadi perjalanan sosial yang sarat makna.
Kuliah Kerja Nyata (KKN) selalu menjadi momen istimewa bagi mahasiswa untuk menunjukkan bahwa ilmu yang dipelajari di bangku kuliah bukan hanya sekadar teori, tetapi juga dapat diterapkan secara nyata dalam kehidupan masyarakat.
Dengan mengusung tema “Bersinergi Membangun Desa Mandiri, Sejahtera, dan Berkelanjutan”, mahasiswa KKN Unimed membawa warna baru sekaligus semangat segar yang disambut antusias oleh masyarakat desa. di mana ilmu bertemu dengan pengalaman, teori berpadu dengan praktik, dan kebersamaan melahirkan harapan baru.
Desa ini memiliki modal sosial yang kuat berupa budaya gotong royong, yang sebelumnya telah mengantarkan mereka meraih prestasi Juara I Lomba Lingkungan Bersih Sehat tingkat Provinsi Sumatera Utara pada tahun 2023.
Ditambah lagi dengan pembangunan jalan poros pada 2023-2024, akses menuju Desa menjadi lebih mudah, sehingga interaksi dengan dunia luar semakin terbuka. Namun, di balik kemajuan tersebut, masih banyak tantangan yang harus dihadapi masyarakat Purworejo. Minimnya keterlibatan pemuda dalam kegiatan desa, rendahnya keterampilan pengolahan sampah, pekarangan rumah yang belum dimanfaatkan secara produktif, serta usaha kecil yang kesulitan memperluas pasar karena belum memanfaatkan teknologi digital, menjadi beberapa masalah yang muncul dalam kehidupan sehari-hari. Dari sisi infrastruktur, kebutuhan akan rambu lalu lintas yang memadai juga menjadi catatan tersendiri.
Situasi inilah yang kemudian menjadikan KKN Unimed 2025 memiliki arti penting, mahasiswa KKN Unimed hadir dengan bekal pengetahuan, kreativitas, dan energi muda untuk membantu masyarakat menemukan solusi.
Selama satu bulan lebih, tepatnya Juli hingga Agustus 2025, mahasiswa hidup bersama masyarakat, menyatu dengan aktivitas Desa, sekaligus mengamati persoalan yang ada.
Mahasiswa berdiskusi dengan perangkat Desa, mendengarkan keluh kesah warga, lalu menyusun kegiatan yang paling sesuai dengan kebutuhan nyata. Mereka membagi diri ke dalam tim, tetapi tetap bekerja sama dalam satu ikatan kebersamaan. Prinsip utama yang dipegang ialah mahasiswa tidak boleh bekerja sendiri, melainkan harus melibatkan warga agar manfaat program benar- benar dirasakan bersama.
Program-program yang dilaksanakan di antaranya adalah sosialisasi, edukasi, hingga pelatihan dipilih sebagai strategi agar program tidak hanya menjadi aktivitas sementara, tetapi bisa dilanjutkan oleh masyarakat setelah KKN berakhir.
Salah satu kegiatan yang paling menarik perhatian adalah kursus Bahasa Inggris untuk anak- anak SD. Program ini berlangsung delapan kali pertemuan dengan materi sederhana seperti perkenalan diri, sapaan sehari-hari, angka, warna, dan kosakata tentang keluarga. Anak-anak tidak sekadar diminta menghafal, tetapi juga mempraktikkan percakapan sederhana.
Anak-anak yang awalnya malu-malu mulai berani memperkenalkan diri dengan bahasa Inggris, bahkan menyapa mahasiswa dengan ucapan singkat seperti “Good morning!” atau “How are you?”. Antusiasme yang terpancar dari wajah mereka menjadi bukti bahwa pembelajaran bisa menjadi menyenangkan jika disampaikan dengan cara yang tepat. Program ini diharapkan menjadi pijakan awal yang menumbuhkan rasa percaya diri generasi muda Purworejo menghadapi tantangan global di masa depan.
Tidak berhenti pada pelajaran bahasa, mahasiswa juga menyampaikan edukasi tentang bahaya bullying, rokok, dan narkoba kepada anak-anak. Materi serius ini dikemas dengan metode yang menyenangkan. Permainan interaktif, poster penuh warna, dan eksperimen sederhana dipilih agar pesan yang disampaikan mudah dipahami. Anak-anak pun antusias mengikuti kegiatan, bahkan mereka mampu menjelaskan kembali dengan kata-kata sendiri tentang mengapa bullying harus dihindari dan rokok berbahaya bagi kesehatan.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa menyadarkan bahwa pendidikan karakter tidak boleh ditunda, karena generasi muda adalah harapan besar Desa. Selain pendidikan, kesehatan masyarakat juga mendapat perhatian. Mahasiswa mengadakan senam bersama di halaman kantor desa setiap akhir pekan. Dengan iringan musik yang riang dan gerakan energik, warga dari berbagai usia ikut serta. Kegiatan ini bukan hanya menjaga kebugaran tubuh, tetapi juga mempererat tali silaturahmi.
Kreativitas juga menjadi bagian penting dalam rangkaian KKN. Anak-anak diajak untuk menyalurkan imajinasi melalui lomba menulis, membuat kolase dari daun, hingga mewarnai totebag. Aktivitas ini membuat mereka lebih percaya diri, sekaligus memberi ruang untuk mengekspresikan ide dengan cara menyenangkan. Sementara itu, para ibu diperkenalkan dengan teknik eco print, yakni menghias kain menggunakan motif alami dari daun dan bunga. Hasilnya tidak hanya indah, tetapi juga unik dan bernilai jual. Tas kain bermotif daun hasil karya ibu-ibu desa menjadi bukti bahwa kreativitas bisa lahir dari bahan sederhana di sekitar.
Program ini tidak hanya menumbuhkan keterampilan baru, tetapi juga membuka peluang usaha kecil yang dapat menopang ekonomi keluarga. Aspek lingkungan pun tidak luput dari perhatian. Mahasiswa menanam berbagai tanaman obat keluarga (TOGA) seperti jahe, kunyit, temulawak, sirih, hingga kayu manis di pekarangan kantor Desa.
Tanaman-tanaman ini bermanfaat bagi kesehatan sekaligus mempercantik lingkungan. Warga diingatkan bahwa pekarangan rumah dapat dijadikan apotek hidup yang sederhana namun berguna. Selain itu, mahasiswa juga memperkenalkan konsep bank sampah dan membuat komposter sederhana dari pipa paralon. Warga diajak memilah sampah, mengolah sampah organik menjadi pupuk, dan lebihj peduli terhadap lingkungan. Meski partisipasi belum merata, langkah kecil ini menjadi awal yang baik untuk membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya pengelolaan sampah.
Di bidang ekonomi, mahasiswa memperkenalkan program “UMKM On The Map”. Sebanyak 12 pelaku usaha lokal didaftarkan ke Google Maps, sehingga produk mereka lebih mudah ditemukan oleh calon konsumen. Selama ini, promosi hanya mengandalkan cerita dari mulut ke mulut. Dengan kehadiran di platform digital, usaha kecil seperti warung makan, pengrajin, hingga penjual produk lokal kini memiliki peluang lebih luas.
Mahasiswa KKN menyadari bahwa menggerakkan masyarakat membutuhkan kesabaran, komunikasi yang intens, dan strategi pendekatan yang tepat. Namun, atas kerja sama tim yang baik program-program yang dilaksanakan membuat anak-anak lebih semangat belajar, ibu-ibu memiliki keterampilan tambahan, UMKM mulai dikenal secara digital, lingkungan desa lebih terawat, dan kesadaran warga terhadap kesehatan semakin meningkat.
Bagi mahasiswa KKN, pengalaman ini jauh lebih berarti daripada sekadar tugas kuliah. Mereka belajar kepemimpinan, kerja sama, komunikasi lintas budaya, dan kemampuan beradaptasi di tengah kondisi nyata masyarakat. Semua pengalaman itu akan menjadi bekal berharga ketika kembali ke kampus maupun saat mereka terjun ke dunia kerja kelak.
Dari semua rangkaian kegiatan, jelas terlihat bahwa KKN di Desa Purworejo bukan hanya sebuah program akademik, melainkan juga perjalanan sosial yang menghadirkan transformasi nyata. Jika program ini terus dilanjutkan, Desa Purworejo dapat benar-benar mewujudkan cita-cita menjadi Desa mandiri, sejahtera, dan berkelanjutan sebagaimana tema besar yang diusung.
