FJPI Gelar Seminar dan Pelatihan Fotografi, Edukasi Jurnalis Perempuan dalam Melawan Narkoba
Medan, Persma Kreatif – Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI) Sumut menyelenggarakan Seminar Antinarkoba dan Pelatihan Fotografi dengan merujuk tema “Lensa Perubahan : Melawan Narkoba Melalui Narasi dan Visual” yang diselenggarakan di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) Sumatera Utara pada, Kamis (31/07/2025).
Acara seminar dan pelatihan dihadiri oleh Kepala Polrestabes Medan, Kabid P2P Dinas Kesehatan, Kepala BEI Sumut, Perwakilan Bank Indonesia, Ketua Asosiasi Profesi Fotografi Sumatera Utara, Ketua Pewarta Foto Medan, Kabid Komunikasi Publik Kominfo Medan serta 80 orang lebih para peserta.
Sebagai Ketua Panitia, Dinna F Norris menyampaikan bahwa Seminar Antinarkoba dan Pelatihan Fotografi ini bukan sekadar acara seremonial, tetapi merupakan bentuk kepedulian dan upaya konkret FJPI Sumut dalam memerangi peredaran dan penyalahgunaan narkoba yang kian mengkhawatirkan, khususnya di kalangan generasi muda.
”Data dan fakta di lapangan menunjukkan bahwa ancaman narkoba tidak mengenal batas usia, profesi, bahkan wilayah. Oleh karena itu, kita tidak boleh tinggal diam. Edukasi, diskusi, dan kolaborasi lintas sektor harus terus kita dorong sebagai bentuk perlawanan terhadap kejahatan narkotika,” kata Dinna F Norris.
Dinna juga menyampaikan apresiasi kepada para sponsor yang telah mendukung penuh terselenggaranya acara, antara lain BEI Sumut, Bank Indonesia Kantor Perwakilan Sumatra Utara, JNE, Agincourt Resources, PT KAI, XL Smart, Alfamidi, PDAM Tirtanadi, dan Pemko Medan.
”Apresiasi setinggi-tingginya saya sampaikan kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya acara ini, para narasumber yang telah meluangkan waktu dan pengetahuan. Juga kepada para peserta yang hadir dengan semangat belajar dan perubahan,” pungkasnya.
Sementara itu, Penasihat FJPI Sumut Ramdeswati Pohan, mengapresiasi pelaksanaan seminar anti-narkoba yang dikolaborasikan dengan pelatihan fotografi bagi generasi muda. Ia menyebut kegiatan ini sebagai langkah penting di tengah meningkatnya kekhawatiran akan peredaran narkoba, terutama di kawasan perdesaan.
“Saya sangat berterima kasih kepada seluruh pihak yang hadir dan mendukung acara ini, termasuk para sponsor. Kegiatan seperti ini sangat penting dan perlu terus dikolaborasikan, terutama karena kita sedang menghadapi ancaman serius dari narkoba,” ujar Ramdeswati.
Ramdeswati secara khusus menyoroti betapa mudahnya akses terhadap narkoba di sejumlah wilayah. Bahkan, ia menyebut peredaran narkoba di daerah asalnya jauh lebih mudah ditemukan dibandingkan gas elpiji subsidi.
“Kita sekarang lebih sulit mencari gas 3 kilo daripada narkoba di kampung saya. Saya pernah bilang ke Kapolres, kenapa fokus ke narkoba? Dan beliau menjawab: karena narkoba adalah induk dari segala kejahatan. Memang, narkoba harus diberantas sampai ke akar-akarnya,” tegasnya.
Ramdeswati berharap, selain memberi edukasi tentang bahaya narkoba, kegiatan ini juga menjadi ladang amal jariyah melalui penyebaran ilmu. Ia menekankan pentingnya mengaitkan isu sosial dengan media kreatif seperti fotografi agar pesan yang disampaikan lebih kuat dan mengena.
“Majelis ilmu seperti ini akan membawa manfaat yang terus mengalir. Saya berharap kolaborasi seperti ini dapat terus dilanjutkan ke depannya,” pungkasnya.
Dalam kesempatan itu, Wali Kota Medan diwakili oleh Kepala Bidang Komunikasi Publik, Budi Ansary Lubis mengatakan seminar yang digelar FJPI Sumut menjadi bukti nyata semangat dan komitmen yang FJPI Sumut tunjukkan dalam mendukung pencegahan penyalahgunaan narkoba sekaligus memberdayakan generasi muda melalui pendekatan yang kreatif dan edukatif.
”Ini adalah langkah konkret yang patut ditiru dalam mewujudkan Medan bertuah yang inklusif, maju, dan berkelanjutan,” ucapnya.
Menurut Budi Ansary Lubis, kegiatan ini sangat relevan dengan kondisi saat ini. Karena berdasarkan data Badan Narkotika Nasional (BNN) pada Tahun 2023, generasi usia 15–35 tahun menyumbang mayoritas pengguna narkoba di Indonesia dengan jumlah lebih dari 3,6 juta orang.
”Ini adalah masa produktif yang seharusnya digunakan untuk berkarya, bukan untuk terjerumus dalam hal-hal negatif dan merusak masa depan. Melalui pelatihan keterampilan seperti fotografi, kita tidak hanya memberikan wadah ekspresi, tetapi juga sarana perlawanan terhadap bahaya narkotika secara positif dan bermakna,” jelasnya.
Setelah sesi pembukaan, acara ini dilanjutkan dengan penyampaian materi yang dibagi menjadi 3 sesi. Sesi pertama diawali dengan pembahasan materi dari Penyidik Sat Res Narkoba Polrestabes Medan, Aiptu Polman Purba, yaitu seputar jenis-jenis narkoba, termasuk yang baru seperti Happy Water dan laboratorium clandestine, serta dampaknya dari sisi kesehatan, keluarga, dan hukum.
Tidak hanya jenis-jenis narkoba saja, terdapat juga penjelasan mengenai upaya Polrestabes Medan untuk melawan narkoba, seperti penghancuran barak narkoba, penggerebekan, razia tempat hiburan, rehabilitasi pengguna, hingga pemasangan spanduk antinarkoba.
Materi kedua membahas pengenalan NAPZA dan dampaknya, termasuk bahaya kesehatan akibat narkoba dan rokok yang dipaparkan oleh Dr. Pocut Fatimah Fitri, selaku Kabid P2P Dinas Kesehatan sebagai Kepala Seksi Pencegahan Penyakit.
Setelah berakhirnya sesi pertama, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Salah satu peserta, Samira Dea Sapana bertanya terkait materi yang telah dijelaskan.
“Mengapa pendidikan menjadi salah satu faktor penggunaan narkoba? Apakah sistem pendidikan kita salah, atau sistem pemerintahannya yang diragunakan. Karna jumpa pengguna narkoba terbanyak itu generasi muda, dan mengapa pihak kepolisian selalu menangkap pengguna dan sangat minim menangkap bendar. Bukankah kita harus memberantas akarnya?” tanyanya.
Pertanyaan ini lantas dijawab oleh Kepala Polrestabes Medan, Iptu Polman Purba.
“Bukan kesalahan dari sekolah maupun tenaga pendidik, melainkan karena pergaulan dan atas dasar ‘coba-coba’,” tegasnya.
Pada sesi kedua, mengangkat materi tentang Dunia Pasar Modal dan Investasi, yang dibawakan oleh Muhammad Pintor Nasution sebagai Kepala BEI Sumut. Dilanjutkan materi kedua oleh Kepala Perwakilan Bank Indonesia seputar Sistem Pembayaran dan Pengelolaan Rupiah.
Kepala BEI menjelaskan tentang kondisi Indonesia saat ini terkait maraknya perjudolan. Pintor menjelaskan ada beberapa cara dalam mengelola keuangan dengan baik, seperti mencatat pengeluaran dan pemasukan, membuat anggaran, menabung, menghindari utang, meninjau keuangan secara berkala, dan berinvestasi.
Selain itu, kepala perwakilan BI juga menjelaskan tentang bank sentral, proses pembuatan rupiah, paham rupiah belanja bijak, paham berbelanja serta mensosialisasikan tentang Qris.
Pada sesi terakhir, materi yang dijelaskan terkait Teknik Dasar Fotografi, Komposisi Visual Foto Jurnalistik yang dibawakan oleh Ketua Pewarta Foto Indonesia, Rizki Cahyadi, S.Sos dan Ketua Asosiasi Profesi Fotografi (APF) Indonesia, Dr. Muhammad Said Harahap, S.Sos, M.I.Kom.
Pada sesi pelatihan fotografi ini, dijelaskan tentang fitur-fitur kamera yang bisa digunakan jurnalis untuk memotret foto jurnalistik, sehingga foto yang di ambil memiliki nilai. Dengan begitu, tulisan jurnalis akan lebih lengkap jika dibarengi dengan foto yang bermakna.
Tidak hanya pemaparan materi, kuis dan pemberian door prize juga diberikan pada saat sesi berakhir. Acara ditutup dengan sesi foto bersama seluruh peserta dalam ruangan Gedung BEI Sumatera Utara.
