Di Antara Takbir dan Deadline, Ketika Libur Lebaran Hanya Ilusi bagi Mahasiswa
Setiap tahun, Idul Fitri selalu dipromosikan sebagai momen jeda. Waktu untuk pulang, berkumpul, dan sejenak melepaskan diri dari rutinitas. Namun bagi banyak mahasiswa, narasi itu semakin terasa sebagai ilusi. Di balik gema takbir dan hangatnya silaturahmi, deadline tetap mengintai tanpa kompromi.
Masalahnya bukan pada mahasiswa yang “tidak bisa mengatur waktu”. Masalahnya justru terletak pada sistem akademik yang tidak benar-benar memberi ruang untuk berhenti.
Dalam praktiknya, libur Lebaran di kampus sering kali hanya bersifat administratif. Kalender akademik memang menandai hari libur, tetapi beban tugas justru menumpuk sebelum dan sesudahnya. Dosen tetap memberikan tenggat yang berdekatan dengan hari raya, seolah waktu mahasiswa sepenuhnya bisa dinegosiasikan, bahkan di momen yang secara sosial dan kultural sangat penting.
Akibatnya, mahasiswa dipaksa menjalani dua peran sekaligus dalam waktu yang sama: menjadi bagian dari perayaan Idul Fitri, sekaligus tetap menjadi “mesin akademik” yang harus terus produktif.
Kondisi ini bukan sekadar soal manajemen waktu, melainkan soal beban struktural yang terus dinormalisasi. Mahasiswa membawa laptop saat mudik, menyelesaikan tugas di sela-sela silaturahmi, bahkan merasa bersalah ketika memilih untuk beristirahat. Lebaran tidak lagi menjadi ruang pemulihan, melainkan hanya jeda semu yang tetap dibayangi tekanan.
Lebih jauh lagi, situasi ini mencerminkan budaya produktivitas yang semakin tidak sehat di lingkungan akademik. Ada dorongan implisit bahwa waktu luang adalah kemewahan, dan beristirahat adalah bentuk kemunduran. Dalam logika seperti ini, bahkan hari raya pun tidak cukup “sakral” untuk menghentikan tuntutan.
Pertanyaannya, apakah ini yang ingin dipertahankan oleh institusi pendidikan?
Jika kampus benar-benar mengklaim peduli pada kesejahteraan mahasiswa, maka libur seharusnya tidak hanya hadir di atas kertas. Harus ada kesadaran kolektif untuk tidak menumpuk beban akademik di sekitar hari raya. Memberi ruang istirahat yang utuh bukan berarti menurunkan kualitas pendidikan, melainkan justru menjaga keberlanjutan proses belajar itu sendiri.
Mahasiswa bukan sekadar individu yang dituntut untuk terus menghasilkan. Mereka juga manusia yang membutuhkan jeda, terutama di momen yang secara kultural sarat makna seperti Idul Fitri.
Jika tidak, maka yang tersisa hanyalah ironi: sebuah perayaan tentang kembali ke fitrah, tetapi tanpa pernah benar-benar diberi kesempatan untuk berhenti.
Di tengah gema takbir yang seharusnya membawa ketenangan, mungkin sudah saatnya kampus juga ikut berbenah. Sebab selama deadline masih lebih dominan daripada makna, maka Lebaran bagi mahasiswa akan terus menjadi sekadar libur yang terasa semu.
