13.1 C
New York

Antigone: Penampilan Teater Klasik Pertama di Sumatera Utara

Published:

Rabu lalu, 28 April 2021, Mahasiswa prodi Seni Pertunjukan Universitas Negeri Medan menggelar pertunjukan teater di Open Stage, Fakultas Bahasa dan Seni. Acara yang digelar pada malam hari ini merupakan salah satu manifestasi penampilan seni di tengah pandemi sekaligus memenuhi tugas akhir mata kuliah.

“Acara ini diakan dalam rangka memenuhi tugas Ujian Akhir Semester (UAS) mata kuliah penyutradaraan klasik semester 4. Dan pertunjukan ini merupakan pertama kali teater klasik ditampilkan di Sumatera Utara dengan judul naskah ‘Antigone’ karya Sophocles. Pertunjukan ini menjadi pengetahuan tambahan bagi para penonton bagaimana teater klasik itu.” Ucap Wahyu Santoso, Sutradara dalam pertunjukan ini.

“Mengapa kami memilih pertunjukan drama klasik, karena masyarakat banyak yang belum mengetahui bagaimana drama klasik pada jaman Yunani kuno dulu, maka kami berusaha menghadirkan pertunjukan ini guna memberi wawasan dan pengetahuan baru bagi masyarakat yang menonton. Lagi pula, ini untuk pertama kalinya pertunjukan drama klasik ditampilkan.” Aku Sang Sutradara. Ia juga mengungkapkan bahwa proses latihan dan persiapan pertunjukan ini memakan waktu sekitar tiga bulan.

“Antusias penonton sangat bagus dari mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni, khususnya mahasiswa Seni Pertunjukan. Mungkin antusiasme tersebut dikarenakan ilmu seni klasik dan seni murni yang terdapat di dalam naskah klasik ini sangat berguna untuk referensi mereka kedepannya bila suatu saat mereka ingin membuat suatu karya yang berorientasi pada zaman Yunani kuno. Tentu, keterbatasan penonton dalam menyaksikan suatu pertunjukan ini sekarang dibatasi oleh adanya Covid-19. Jadi tidak bisa semua mahasiswa melihat secara langsung pertunjukan ini. Untuk kelangsungan acara, kami menyediakan hand sanitizer dan masker di meja tamu. Dan bagi yang tidak bisa menonton secara langsung kami juga menyediakan live streaming pertunjukan tersebut di instagram seni pertunjukan Unimed. ” Tambahnya.

“Antigone” menceritakan tentang kisah kerajaan Thebes yang banyak mengalami konflik. Pasca Oedipus Sang raja Thebes, ayah kandung dari Antigone mengetahui fakta bahwa ia telah menikahi Jocasta ibu kandungnya sendiri, kekacauan tidak henti-hentinya terjadi dalam kerajaan Thebes. Konflik antara Antigone dengan Creon, pamannya yang menggantikan Oedipus sebagai raja Thebes mengakibatkan kembali datangnya bencana di kerajaan Thebes. Sebelumnya, sempat terjadi pertarungan antara saudara Antigone, Eteocles dan Polyneicies, yang mengakibatkan mereka berdua meninggal, namun jenazah mereka berdua diperlakukan secara berbeda. Creon tidak memperbolehkan seorangpun untuk mengubur jenazah Polyneicies tapi Antigone sebagai saudarinya ingin memperlakukan jenazah saudaranya itu dengan layak dan sesuai dengan perintah agama meski harus menentang perintah raja. Pada akhirnya Creon tau kalau jenazah Polyneicies telah dikuburkan oleh Antigone, Creon pun murka dan menghukum Antigone. Namun kutukan dewa tidak berhenti sampai di situ, setelah Creon menghukum Antigone, kerajaan Thebes kembali mendapat masalah, Haemon anak Creon serta istri dari Creon ikut mati bersama Antigone.

“Menurut saya yang membuat pertunjukan ini menarik, tentu dari cerita klasik yang dibawakan, karena sangat jarang ditampilkan di sini. Kemudian segi artistik panggung itu sendiri, pada panggung pertunjukan, ini adalah panggung terbesar dan termegah yang pernah dibuat oleh mahasiswa seni pertunjukan Unimed, sehingga itu menjadi daya tarik tersendiri bagi penonton.” Wahyu Santoso berharap semoga dengan adanya pertunjukan ini apresiasi terhadap kesenian semakin baik,
“Harapan saya untuk dunia kesenian kedepannya supaya ada apresiasi yang dihadirkan oleh para petinggi suatu instansi seperti Universitas terhadap para pelaku kesenian. Karena sampai sekarang masih kurangnya kepedulian para petinggi terhadap pelaku seni yang ada di sini. Dan juga harapan saya agar para masyarakat tidak memandang sebelah mata tentang nilai-nilai kesenian yang ada, baik itu seni rupa, seni musik, seni tari, maupun seni teater. Karena pada dasarnya semua kesenian itu sangat berharga dan patut diberikan apresiasi yang sepantasnya.” Tutup Sang Sutradara.

Kru : Lao

admin
adminhttp://persmakreatif.com
Hai, ini saya Admin Persma Kreatif. Apakah kamu punya Pertanyaan dan Saran? Biarkan saya tau!, Kirimkan ke Email kami perskreatiftim@gmail.com atau Melalui Intagram @Persmakreatif

Related articles

Recent articles