Share

Pasca Pemira Unimed 2025, Mahasiswa Menanti Kepemimpinan Responsif

Medan, Persma Kreatif — Pasca pelaksanaan Pemilihan Umum Raya (Pemira) Universitas Negeri Medan (Unimed) 2025, dinamika kampus belum sepenuhnya mereda. Hingga kini, hasil pemilihan belum ditetapkan secara resmi, sementara sejumlah persoalan lama kembali mengemuka dan menjadi bahan diskusi di kalangan mahasiswa.

Mulai dari hilangnya Badan Perwakilan Mahasiswa Fakultas (BPMF), budaya organisasi yang dinilai masih sarat sekat, hingga persoalan pengelolaan administrasi, seluruhnya mencerminkan kegelisahan sekaligus harapan mahasiswa terhadap arah kepemimpinan ke depan.

Bagi sebagian mahasiswa, Pemira tahun ini tidak lagi dipandang sekadar sebagai ajang kontestasi demokrasi internal, melainkan momentum evaluasi terhadap kondisi dan tata kelola organisasi kemahasiswaan Unimed. Keresahan tersebut juga disadari oleh sejumlah kandidat yang maju dalam Pemira 2025.

Salah satu calon anggota Senat Mahasiswa (SEMA) Unimed, Apriansyah Sipayung, menilai bahwa persoalan budaya organisasi menjadi tantangan serius yang perlu segera dibenahi.

“Budaya dan organisasi mahasiswa di Unimed saat ini masih penuh dengan sekat-sekatan. Kalau ada sedikit sentimen, langsung terjadi pemisahan antarorganisasi. Padahal, setelah unsur politik selesai, seharusnya tidak dibawa lagi dalam kerja-kerja organisasi,” ujarnya.

Menurut Apriansyah, kedewasaan dalam berorganisasi menjadi kunci agar kolaborasi dan inklusivitas benar-benar terwujud di tingkat universitas.

Selain persoalan budaya, ia juga menyoroti aspek struktural organisasi mahasiswa, khususnya terkait hilangnya BPMF yang dinilai berdampak pada fungsi kontrol dan pengawasan.

“Saya justru ingin mengadakan kembali BPM di tingkat universitas agar ada lembaga yang meninjau dan mengkritisi kerja-kerja kami, supaya kami tidak bergerak bebas sesuka hati sebagai senator,” tegasnya.

Ia menekankan bahwa mekanisme pengawasan penting untuk memastikan tata kelola organisasi berjalan secara akuntabel dan bertanggung jawab.

Pandangan serupa disampaikan oleh calon anggota SEMA Fakultas Ekonomi (FE), Falih Abiyyu Dzaky, yang menyoroti masih terbatasnya akses mahasiswa dalam menyalurkan aspirasi. Ia mengungkapkan bahwa keputusannya maju dalam Pemira berangkat dari kegelisahan melihat banyak suara mahasiswa yang tidak memiliki jalur penyampaian yang jelas.

“Mahasiswa itu punya potensi besar, tapi kadang tidak tahu harus disalurkan ke mana. Dari situ aku merasa sudah waktunya maju supaya bisa mengurus hal-hal di tingkat yang dampaknya lebih luas,” kata Falih.

Ia juga menekankan pentingnya keterbukaan dan transparansi dalam menjalankan program kerja. Menurutnya, setiap agenda yang dijalankan harus dapat dipantau dan dievaluasi bersama oleh mahasiswa.

“Setiap kegiatan akan diumumkan perkembangannya secara terbuka, termasuk penggunaan anggaran. Setelah selesai, mahasiswa juga akan dilibatkan dalam proses evaluasi,” jelasnya.

Sementara itu, mahasiswa sebagai pemilih turut menyampaikan harapan dan kritik terhadap kepemimpinan pasca Pemira. Reva Luciana menilai bahwa persoalan sistem internal kampus masih menjadi pekerjaan rumah besar yang perlu diperjuangkan secara serius.

“Isu tentang internal kampus dan sistem yang masih tertinggal jauh dari universitas favorit itu penting untuk diperjuangkan,” ujarnya.

Ia berharap ketua terpilih nantinya mampu bersikap aktif, netral, dan menunjukkan kerja nyata, bukan sekadar menjadi simbol kepemimpinan. Senada dengan itu, Sania juga menyoroti persoalan pengelolaan administrasi mahasiswa yang dinilai masih menyulitkan dan belum sepenuhnya berpihak pada kebutuhan mahasiswa.

Menunggu penetapan hasil Pemira Unimed 2025, mahasiswa kini menaruh harapan besar agar siapapun yang terpilih tidak berhenti pada janji kampanye semata. Lebih dari itu, kepemimpinan baru diharapkan mampu menjawab kegelisahan mahasiswa melalui langkah nyata, transparan, serta melibatkan partisipasi luas dalam setiap proses pengambilan kebijakan di lingkungan kampus.

You may also like