Pameran Seni “Crime,” Hadirkan Pengalaman Visual untuk Masyarakat
Medan, Persma Kreatif — Dunia seni khususnya fotografi kembali diramaikan dengan sebuah perhelatan ambisius bertema “Crime” yang diadakan di Manhattan Urban Market, pada Senin (06/12/2025).
Pameran ini diusung okeh mahasiswa Ilmu Komunikasi, pameran tahunan ini tidak hanya menjadi ajang untuk unjuk karya tetapi juga wadah untuk menghadirkan pengalaman visual yang meninggalkan kesan mendalam bagi masyarakat.
Ketua Pelaksana, Muhammad Altaf Al Hadi mengungkapkan bahwa pameran ini bermula dari tugas Ujian Akhir Semester (UAS). Namun, visi panitia jauh melampaui lingkup perkuliahan.
“Visi utamanya adalah memberikan dampak semacam memori kepada warga Medan. Meski ini berawal dari tugas UAS yang temanya berubah tiap tahun, kami ingin membuatnya megah dan berkesan supaya selalu diingat,” ujarnya.
Pemilihan tema “Crime” dilakukan melalui musyawarah internal panitia dan dinilai paling mampu memacu eksplorasi artistik yang berbeda dari pameran sebelumnya.
“Biasanya pameran fotografi itu bertema human interest atau fokus pada aspek teknis. Tapi, tahun ini kami ingin lebih menonjolkan sisi story tellingnya,” jelasnya.
Dengan mengambil tema yang jarang disentuh secara eksplisit, panitia ingin menggeser fokus dari sekadar estetika visual menuju narasi yang lebih dalam dan relevan dengan realitas sosial. Seni diharapkan menjadi medium untuk menggali cerita gelap, getir, dan penuh refleksi.
Untuk menjaga kualitas pameran, panitia menjalankan proses kurasi selama satu minggu. Altaf bersama tim fotografer berpengalaman menilai karya berdasarkan dua aspek utama: nilai teknis (angle, pencahayaan) dan nilai cerita (narasi yang kuat).
“Kalau fotonya diambil asal-asalan, kami tidak bisa memasukkannya. Tidak ada nilai yang ingin kami sampaikan,” tegasnya.
Ia mencontohkan, foto rumah kosong pun harus dilengkapi properti tambahan untuk menciptakan suasana angker yang sesuai dengan narasi.
Mengangkat tema “Crime” membutuhkan usaha ekstra untuk menghadirkan visual yang realistis. Tantangan terbesar berada pada pencarian properti dan lokasi pemotretan.
“Kami butuh banyak properti. Untuk membuat darah yang realistis, kami harus membeli cairan khusus, juga pisau. Lalu kami harus mencari lokasi seperti rumah kosong,” ungkapnya.
Proses ini menunjukkan totalitas dan profesionalitas panitia dalam menciptakan narasi visual yang faithful (setia) pada tema kejahatan yang mereka usung.
Altaf selaku Ketua Panitia berharap pameran yang dipersiapkan selama dua bulan ini mampu memberikan pengalaman visual yang kuat bagi masyarakat.
“Saya berharap mereka bisa mendapat experience yang menarik, yang bisa diingat selamanya, yang membuat mereka terkagum-kagum,” tutupnya.
Pameran ini diharapkan menjadi salah satu momentum penting dalam perkembangan kegiatan kreatif mahasiswa di Medan, tidak hanya meningkatkan kualitas karya, tetapi juga memperkuat citra komunitas seni lokal.
Penulis: Putri dan Dila
