Share

MBG dengan menu kering di bulan Ramadan, apakah gizinya tetap terpenuhi?

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan salah satu kebijakan sosial yang paling ambisius dalam sejarah pembangunan kesejahteraan Indonesia. Sejak awal, program ini banyak menuai kritik dan perdebatan terkait implementasinya di masyarakat. Dirancang untuk meningkatkan kualitas gizi anak sekolah sekaligus menekan risiko stunting, negara hadir memastikan setiap anak memperoleh asupan nutrisi yang layak untuk tumbuh dan belajar secara optimal.

Suasana Ramadan saat ini menjadi titik uji bagi implementasi MBG di lapangan. Perhatian publik kini tertuju pada persoalan yang lebih konkret: apakah perubahan menu tetap mampu menjamin kecukupan gizi siswa?

Di banyak sekolah, siswa-siswi sangat beragam baik agama maupun suku. Terdapat siswa non-Muslim atau siswa yang tidak menjalankan puasa. Ketika mekanisme MBG dialihkan menjadi paket berbuka pada sekolah-sekolah semacam, kebutuhan kelompok ini berpotensi terabaikan.

Penyesuaian MBG selama Ramadan banyak menggunakan paket makanan kering seperti roti, susu, telur, buah, dan makanan kemasan yang tahan hingga 12 jam. Pilihan ini memang menjawab tantangan daya tahan makanan. Akan tetapi, persoalan kebijakan publik tidak berhenti pada efisiensi distribusi.

Selama Ramadan, pemerintah melalui Badan Gizi Nasional (BGN) tetap melanjutkan MBG dengan skema:

  1. Menu kering yang dirancang tahan hingga 12 jam agar dapat dikonsumsi saat berbuka puasa, untuk sekolah, mayoritas Muslim.
  2. Program berjalan seperti biasa tanpa ada perubahan.
  3. Untuk ibu hamil, ibu menyusui, dan anak balita, program MBG akan tetap berjalan seperti biasa selama bulan Ramadan.
  4. Jadwal konsumsi akan digeser ke waktu berbuka puasa untuk sekolah pesantren.

Secara administratif, keputusan ini logis. Program nasional tidak mungkin dihentikan hanya karena perubahan kalender keagamaan. Namun, kebijakan nasional cenderung bekerja dengan prinsip standarisasi, sementara praktik sosial masyarakat bersifat sangat beragam. Tidak semua siswa berpuasa, tidak semua daerah memiliki kapasitas distribusi yang sama, dan tidak semua keluarga memiliki kondisi yang memungkinkan makanan benar-benar dikonsumsi oleh anak. Ketika kebijakan seragam diterapkan pada realitas yang tidak seragam, celah implementasi hampir pasti muncul.

Perubahan skema penyalur MBG ini juga membuat pengawasan terhadap pemenuhan gizi cukup terbatas. Karena makanan tidak dikonsumsi secara langsung di sekolah, sulit untuk dipastikan apakah asupan gizi sudah bener-bener terpenuhi atau belum. Ditambah lagi banyaknya laporan bahwa menu MBG tidak layak di konsumsi sehingga membuat masyarakat luas meragukan ataupun mempertanyakan kesiapan dari program pemerintahan ini.

Standar pemenuhan gizi anak sekolah yang direkomendasikan oleh World Health Organization menekankan keseimbangan nutrisi harian yang mencakup protein, energi, serat, serta mikronutrien penting. Ketika makanan berubah menjadi paket kering tanpa konsumsi langsung di sekolah, negara kehilangan satu aspek penting: kontrol terhadap pemenuhan gizi itu sendiri. Lebih jauh lagi, laporan lapangan menunjukkan adanya kritik terhadap kecukupan nutrisi menu Ramadan serta kebutuhan evaluasi pada satuan pelayanan gizi. Hal ini memperlihatkan bahwa perubahan bentuk makanan bukan sekadar adaptasi teknis, melainkan perubahan substansi manfaat kebijakan. Kebijakan yang semula bertujuan memastikan anak makan bergizi di sekolah berisiko berubah menjadi sekedar distribusi bahan makanan.

Selain itu, masalah paling serius muncul pada tahap pelaksanaan. Temuan roti berjamur, buah busuk, hingga lauk tidak layak konsumsi menaikkan amarah masyarakat. Kejadian ini menyebabkan banyak orang tua anak protes melalui media sosial terkait menu tidak layak yang diterima oleh anak mereka. Menanggapi hal ini, puluhan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di beberapa daerah dihentikan sementara selama Ramadan untuk evaluasi mutu distribusi.

Beberapa kasus muncul langsung di lingkungan sekolah dan menjadi perhatian public. Seperti apa yang sedang terjadi di SD Negeri 2 Padangmatinggi, dimana siswa menerima paket MBG berupa roti kemasan yang dimana telah ditemukan roti tersebut berjamur setelah dibagikan. Kejadian tersebut membuat pihak sekolah menarik kembali makanan dari para siswa untuk menghindari risiko kesehatan yang lebih serius.

Selain itu, ada kasus serupa yang terjadi di SD Muhammadiyah Temanggung, Jawa Tengah. Sekolah tersebut sempat menerima paket MBG yang berisi roti, kurma, telur rebus, dan susu sebagai bagian dari menu yang disiapkan selama bulan Ramadan. Tetapi setelah diperiksa, beberapa makanan ditemukan dengan kondisi yang tidak layak untuk dikonsumsi, seperti roti yang telah berjamur, kurma yang diduga berulat, hingga susu yang sudah basi. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran yang cukup serius mengenai keamanan makanan yang diterima oleh para siswa.

Dua kejadian tersebut memperlihatkan bahwa persoalan MBG tidak hanya berkaitan dengan jenis menu yang dibagikan, tetapi juga dengan kesiapan sistem pengawasan kualitas makanan sebelum diterima oleh siswa. Ketika program ini dijalankan tanpa pengawasan yang ketat dan memadai, risiko yang muncul tidak hanya pada kualitas makanan saja, tetapi juga kepercayaan masyarakat terhadap kebijakan pemerintah yang seharusnya melindungi dan menyejahterakan anak-anak.

Peristiwa ini tidak dapat dipandang sebagai insiden teknis biasa. Dalam analisis kebijakan publik, kegagalan pada rantai implementasi menunjukkan adanya ketidaksiapan sistem operasional terhadap skala program. MBG bukan program bantuan kecil, sebaliknya, kebijakan ini melibatkan produksi massal, distribusi luas, serta standar keamanan pangan yang tinggi. Ketika pengawasan kualitas belum mampu mengikuti ekspansi program, risiko yang muncul bukan hanya pemborosan anggaran, tetapi juga hilangnya kepercayaan publik. Maraknya berita terkait anak sekolah yang keracunan makanan akibat MBG membuat banyak orang tua skeptis untuk membiarkan anak mereka mengonsumsi MBG.

Di titik ini, kritik masyarakat terhadap MBG menjadi sangat relevan dan valid bukan karena programnya salah, tetapi karena kapasitas implementasinya belum sepenuhnya matang. Pada akhirnya, bulan suci Ramadan menjadi cerminan untuk kualitas sebuah kebijakan publik. Program MBG ini bukan sekadar distribusi makanan, melainkan investasi jangka panjang untuk generasi muda. Oleh karena itu, yang dibutuhkan bukan hanya keberlanjutan dari program ini, tetapi sebuah keberanian untuk mengevaluasi, memperbaiki, dan memastikan seluruh anak ataupun siswa merasakan manfaat dari program ini tanpa ada ketimpangan ataupun perbedaan.

You may also like