Mahasiswi Sendratasik Unimed Pentaskan “Pagi Bening”, Salurkan Cerita Penuh Makna
Medan, Persma Kreatif — Mahasiswi teruji Jurusan Sendratasik adakan pementasan “Pagi Bening” di Open Stage Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan pada Kamis (03/07/2025).
Pementasan “Pagi Bening” adalah sebuah karya klasik dari Serafin dan Joaquin Alvarez Quintero yang diterjemahkan oleh sastrawan Sapardi Djoko Damono. Pementasan ini merupakan bagian dari ujian tugas akhir strata-1 minat Pemeranan Program Studi Seni Pertunjukan, Jurusan Sendatasik. Pementasan berlangsung mulai pukul 20.00 WIB s.d selesai dan dihadiri oleh Dosen Pembimbing Skripsi, Dosen Pembimbing Karya, Dosen Penguji, dan ratusan penonton.
Mahasiswi teruji pada tugas akhir ini adalah Anggina Putri Pohan atau akrab disapa Gina. Dalam pementasan ini, ia membawakan tokoh Laura, seorang perempuan berusia 70 tahun. Dengan semangat dan penghayatan mendalam, Gina sukses memerankan karakter tersebut meski usia aslinya masih 21 tahun.
Selengkapnya cek di www.persmakreatif.com atau unduh aplikasi persmakreatif di Google Play Store
“Saya ingin mengeksplorasi karakter dan emosi yang terkait dengan tema naskah ini, tantangan terbesar saya adalah memerankan tokoh dengan rentang usia yang jauh. Tapi, berkat dukungan Dosen Pembimbing dan tim saya bisa melewati itu,” ujarnya.
Wira Bahri Winalda S.Sn dalam penyutradaraannya memadukan pendekatan realisme yang halus dengan estetika puitik, menjadikan setiap adegan tak hanya hidup namun juga menyentuh secara emosional. Elemen artistik dan tata cahaya berpadu harmonis dengan permainan aktor yang penuh penjiwaan, menjadikan “Pagi Bening” tak sekadar tontonan, melainkan pengalaman batin yang menyentuh dan reflektif.
Gina, selaku mahasiswi teruji mengucapkan banyak terima kasih terkhusus kepada penonton. Ia mengatakan bahwa kehadiran penonton bukan hanya sekadar mengisi kursi, tetap juga menjadi nyawa bagi setiap adegan. Ia berharap penonton dapat tersaji dan meninggalkan makna serta kesan yang mendalam bagi penonton.
Salah satu penonton mengaku sangat terkesan dengan pementasan yang menggabungkan unsur komedi dan renungan secara harmonis. Namun, ia juga menyayangkan pemilihan waktu dan tempat pementasan.
“Sayang sekali pertunjukan sehebat ini digelar malam hari dengan tempat yang kurang mendukung, beberapa bagian terasa tidak maksimal secara visual dan emosional,” ucapnya.
Di balik pementasan panggung, proses latihan, dan persiapan ternyata menyimpan cerita perjuangan tersendiri bagi mereka. Salah satu aktor mengungkapkan bahwa kelelahan yang dirasakan selama latihan terbayar lunas saat pertunjukan. Namun, ia juga menyayangkan tidak bisa menggunakan Auditorium Unimed yang lebih memadai.
“Auditorium lebih layak dari segi kapasitas dan kenyaman, tapi biayanya tinggi. Kami akhirnya memilih Open Stage karena gratis, meski fasilitas sangat terbatas,” jelasnya.
Pementasan “Pagi Bening” menjadi potret kecil dari semangat besar mahasiswa Seni Pertunjukan dalam berkarya, meski dengan keterbatasan fasilitas. Mereka berharap ke depan pihak kampus dapat lebih mendukung kegiatan pertunjukan seni, baik dari segi fasilitas maupun anggaran.
“Semoga ini jadi pertimbangan bagi Unimed untuk lebih memfasilitasi mahasiswa yang ingin menggunakan gedung yang ada, apalagi untuk Seni Pertunjukan. Karena ini bukan hanya sekadar tugas, tapi bagian dari proses menjadi apa yang ingin kami capai. Jangan sampai Seni Pertunjukan sepi penonton karena orang-orang terlalu memandang bosan, padahal banyak sekali warna-warna baru yang ingin dihadirkan dalam pertunjukan,” ujarnya.
Editor: Fira
