Jersy Arisana Raih Gelar Best Intelligence, Buktikan kegigihan Mengalahkan Rasa Minder
Penulis: Yemima dan Azri
Medan, Persma Kreatif —Jersy Arisana, kerap disapa Jeje ini merupakan Mahasiswi Pendidikan Akuntansi Angkatan 2022, Universitas Negeri Medan (Unimed) membuktikan bahwa rasa minder dapat diubah menjadi motivasi. Keterbatasan ekonomi dan pengalaman menjadi korban bully tak menghalangi keinginan nya untuk tetap berprestasi. Dari yang dulunya pemalu dan kurang percaya diri, Jeje kini aktif di berbagai kegiatan akademik maupun non-akademik kampus dan menjadi sosok inspiratif.
Kesulitan ekonomi adalah alasan utama yang mendorong Jeje untuk berkembang dan bangkit dari rasa minder. Di masa keterpurukan itu, ia sempet berpikir apakah ia akan menyerah dan tidak melajutkan kuliahnya atau berjuang untuk mencari jalan keluarnya. Akan tetapi, Jeje sadar bahwasannya jika dia hanya diam dan berputus asa, maka tidak akan ada perubahan sama sekali di hidupnya.
“Aku sadar bahwa kalau aku hanya diam, tidak akan ada perubahan,” katanya.
Tekadnya ia wujudkan dengan mengikuti ajang Duta Media Sosial Kreatif Indonesia di tahun 2023. Untuk mendaftar ajang itu, ia harus mengeluarkan biaya untuk biaya pendaftaran. Untuk mencari modalnya, Jeje rela berjualan, menawarkan jasa joki tugas dan jasa turnitin. Kegigihan tersebut terbayar, saat ia berhasil membawa pulang gelar Best Intelligence.
Keberhasilan meraih gelar Best Intelligence benar-benar mengubah cara pandang Jeje terhadap dirinya. Prestasi ini menjadi semangat baru baginya untuk menjadi mahasiswa berprestasi dan memiliki banyak pengalaman.
“Itulah yang menjadi titik balik yang benar-benar membuka mata bahwa aku bisa, asalkan berani mencoba,” ujar Jeje.
Setelah momen itu, ia aktif ikut berbagai komunitas dan pemilihan duta, seperti Duta Muda Sumatera Utara, Lucky Cosmetic Ambassador, Pigeon Teens Ambassador, Student Ambassador BRI, dan Campus Ambassador Jobstreet hingga pernah magang di bagian Digital Marketing.
Jeje menjelaskan, pengalaman di luar kegiatan akademik ini sangat penting.
“Pengalaman di luar kegiatan akademik ini sangat membantu meningkatkan kemampuan diri (soft skill), terutama dalam hal percaya diri dan pandai mengatur waktu”, ujarnya.
Di tengah jadwalnya yang sangat padat, tantangan utama yang dihadapi Jeje sering muncul dalam hal manajemen waktu. Untuk mengatasi hal itu, ia menerapkan strategi yang efektif.
Jeje membuat skala prioritas dengan menuliskan to-do list harian dan mingguan, berkomunikasi dengan baik bersama tim organisasi jika ada jadwal yang bentrok, serta menjaga disiplin waktu istirahat dan pola hidup seimbang agar produktivitas tetap terjaga. Ia juga mengelola stres dengan menyisihkan waktu untuk me time seperti jalan di sore hari dan rutin menulis jurnal untuk mengelola emosi baik itu emosi negatif maupun positif.
Paling penting, Jeje selalu kembali pada tujuan awal ia memulai semua aktivitas ini.
“Saat aku stres, aku biasanya berhenti sebentar, lalu mengingat mimpi apa yang ingin aku capai? Itu yang membuat aku bisa lagi semangat,” ungkapnya.
Melalui proses yang ia lalui, ia berpesan kepada kepada mahasiswa yang masih ragu untuk aktif atau takut gagal, “Semua orang pasti pernah merasa takut. Jadi, pesanku jangan takut untuk mencoba. Mulailah dari langkah kecil, misalnya ikut organisasi kampus, daftar volunteer, atau lomba-lomba sederhana. Ingat, perjalanan seribu langkah selalu dimulai dari satu langkah kecil,” ujar Jeje.
Selain itu, ia menekankan pentingnya fokus pada diri sendiri.
“Jangan bandingkan perjalananmu dengan orang lain. Fokus pada prosesmu sendiri, karena setiap orang punya waktu dan jalannya masing-masing. Yang terpenting adalah berani memulai. Karena dari situlah, pintu menuju peluang yang lebih besar akan terbuka,” tutupnya.
