Share

Jam Operasional serta Kondisi Fasilitas Digilib Unimed Jadi Sorotan Mahasiswa

Medan, Persma Kreatif — Kebijakan Digilib (Digital Library) Universitas Negeri Medan (Unimed) kembali menjadi perbincangan di kalangan mahasiswa. Jam operasional perpustakaan yang tutup pukul 16.00 WIB pada Senin–Kamis dan pukul 16.30 WIB pada Jumat dinilai membatasi pemanfaatan fasilitas kampus, terutama untuk menunjang aktivitas belajar mahasiswa.

Meski bukan kebijakan baru, dalam beberapa waktu terakhir kebijakan tersebut kembali ramai diperbincangkan. Sejumlah mahasiswa menilai jam operasional yang terbatas membuat mereka kesulitan memaksimalkan kegiatan belajar dan mengerjakan tugas, di tengah tuntutan akademik yang semakin tinggi.

Sejumlah mahasiswa mengungkapkan bahwa keterbatasan jam operasional menyulitkan mereka mencari ruang belajar yang kondusif. Tidak semua mahasiswa memiliki ruang belajar yang memadai di kos maupun di rumah, sehingga perpustakaan menjadi salah satu pilihan utama untuk belajar dan menyelesaikan tugas.

Amanda, mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), menyampaikan keluhannya terkait jam operasional perpustakaan yang dinilai kurang mendukung kebutuhan belajar mahasiswa.

“Perpustakaan tutup pukul 16.00 itu sangat kurang. Terkadang saya bingung harus lanjut mengerjakan tugas di mana karena sudah diminta keluar padahal tugas saya belum selesai. Apalagi kalau kelas selesai pukul 15.30, saya hanya punya waktu sekitar 30 menit,” ungkapnya.

Menurut mahasiswa, kebijakan jam operasional tersebut perlu dievaluasi karena tidak sejalan dengan pola belajar sebagian mahasiswa yang sering kali lebih optimal pada sore hingga malam hari. Hal ini dirasakan terutama oleh mahasiswa tingkat akhir serta mahasiswa yang aktif dalam kegiatan organisasi kampus, yang aktivitas akademiknya kerap berlanjut hingga malam hari.

Hal serupa disampaikan Riska, mahasiswa FMIPA, yang berharap adanya perpanjangan jam operasional perpustakaan.

“Kalau perpustakaan tutup sore, mahasiswa yang hanya punya waktu belajar di malam hari jadi tidak punya pilihan. Saya berharap jam operasional bisa diperpanjang, setidaknya sampai pukul 19.00 atau 20.00,” ujarnya.

Di sisi lain, seorang staf Digilib Unimed yang enggan disebutkan namanya menjelaskan bahwa jam operasional perpustakaan saat ini mengikuti jam kerja pegawai.

“Jam kerja kami dari pukul 08.00 sampai 16.00. Jika beroperasi di luar jam tersebut, maka sudah masuk perhitungan lembur,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa sebelum pandemi Covid-19, perpustakaan sempat beroperasi hingga malam hari, namun kebijakan tersebut dihentikan sejak pandemi.

Selain persoalan jam operasional, mahasiswa juga mengeluhkan kondisi sejumlah fasilitas perpustakaan yang dinilai belum berfungsi secara optimal dan menimbulkan ketidaknyamanan. Salah satunya adalah fasilitas loker penyimpanan barang. Beberapa loker dilaporkan tidak dapat digunakan sehingga kerap penuh, terutama pada jam-jam ramai pengunjung. Akibatnya, mahasiswa terpaksa meletakkan tas di lantai ruang perpustakaan.

“Karena lokernya sudah penuh, kami mau tidak mau meletakkan tas di lantai,” ujar seorang mahasiswa yang ditemui di lokasi.

Selain loker, kondisi ruang baca lantai satu juga menjadi sorotan. Ruangan tersebut kerap mengeluarkan aroma tidak sedap yang diduga berasal dari aktivitas mahasiswa yang mengonsumsi makanan dengan aroma menyengat di dalam ruang baca. Aroma yang bercampur dengan udara dari pendingin ruangan dinilai mengganggu kenyamanan dan konsentrasi pengunjung.

Keluhan lainnya berkaitan dengan fasilitas stopkontak di meja belajar. Beberapa stopkontak dilaporkan tidak berfungsi, padahal fasilitas tersebut sangat dibutuhkan mahasiswa untuk mengisi daya gawai dan laptop saat mengerjakan tugas di perpustakaan.
Permasalahan fasilitas juga ditemukan pada toilet wanita. Salah satu bilik toilet dilaporkan tidak dapat digunakan akibat kerusakan pada keran air. Kondisi tersebut menyebabkan mahasiswi harus mengantre karena hanya dua bilik toilet yang masih dapat digunakan.

Ayunda, salah seorang mahasiswi, menyampaikan bahwa kondisi toilet tersebut cukup mengganggu kenyamanan.

“Kami harus mengantre karena toilet yang bisa dipakai cuma dua. Selain itu, salah satu bilik yang masih bisa dipakai lampunya tidak menyala, jadi gelap dan terasa pengap,” ujarnya.

Selain bilik toilet, fasilitas wastafel juga dinilai belum memadai. Wastafel yang tersedia tidak dilengkapi keran air, sehingga menyulitkan mahasiswi untuk mencuci tangan setelah menggunakan toilet.

Beragam keluhan yang disampaikan mahasiswa tersebut menegaskan bahwa perpustakaan masih memiliki peran strategis dalam menunjang aktivitas akademik di lingkungan kampus. Jam operasional yang terbatas serta kondisi fasilitas yang belum sepenuhnya optimal diharapkan dapat menjadi perhatian pihak pengelola agar perpustakaan dapat berfungsi sebagai ruang belajar yang nyaman, inklusif, dan sesuai dengan kebutuhan mahasiswa.

You may also like