24.7 C
New York

Intip Kampus Mengajar, Mahasiswa Unimed: Bukan Hanya Soal Mengajar

Published:

SDS Ikhlashiyah menjadi sasaran abdi lima mahasiswa Universitas Negeri Medan yang menjalani program Kampus Mengajar. Sekolah Dasar yang berlokasi di Jl Rakyat No. 158/166, kelurahan Tegal Rejo, kecamatan Medan Perjuangan ini menerapkan proses belajar mengajar secara tatap muka. Menurut keterangan yang diperoleh, yang menjadi substansi dari hal tersebut adalah bahwa tidak semua siswa di SD tersebut memiliki Android. Sebab, siswa yang sekolah di sana juga merupakan siswa yang orang tuanya masih dalam tataran ekonomi menengah ke bawah. “Kalaupun punya gawai, ya itu milik orang tua mereka. Nah, yang punya gawai juga belum tentu memiliki paket data, atau ponselnya dibawa orang tua mereka bekerja.” Terang salah seorang mahasiswa Kampus Mengajar yang sudah mengerti alasan mengapa sekolah tersebut menjalankan proses belajar mengajar secara tatap muka. Jadwal belajar mengajar secara tatap muka di SD tersebut sekitar tiga kali dalam seminggu, yakni hari Senin, Selasa, dan Rabu. Sementara pemberian tugas diputuskan dua kali dalam seminggu ke sekolah.

Mahasiswa Kampus Mengajar dalam satu DPL (Dosen Pembimbing Lapangan) di SD tersebut sejumlah 8 orang. 5 di antaranya merupakan mahasiswa Universitas Negeri Medan. Reggia Margaretha Sihombing, mengatakan bahwa mereka mulai aktif mengajar sejak Senin kemarin. “Kami mengajar siswa membaca. Sebab, anak-anak kelas 1 SD rata-rata belum pandai membaca. Jadi, harus diajari mengeja dulu. Terus, yang kelas 4 kami ajari penjumlahan dan perkalian, sementara untuk kelas 6  kami diperintahkan untuk mengajari mereka tentang menyederhanakan pecahan.” Ungkap Reggia.

Bukan tanpa tantangan, para Mahasiswa Kampus Mengajar pun dihadapkan dengan situasi sulit dalam mengajar anak kelas 1 SD. Kesulitan itu berasal dari mayoritas anak kelas 1 SD yang belum bisa membaca. Sehingga mereka harus dengan ulet mengajari anak-anak mengenal abjad satu persatu. Belum lagi sikap dan kemampuan anak-anak yang berbeda beda sehingga Mahasiswa Kampus Mengajar harus memiliki kesabaran ekstra dalam menyikapinya.

“Kampus Mengajar bukan hanya soal mengajar. Tapi bagaimana kami membimbing anak-anak agar mau belajar tanpa merasa sedang diajari”. Lebih lanjutnya Reggia menjelaskan berbagai macam karakter anak-anak yang mereka temui di sana. “Ada yang betah mengerjakan tugas, ada yang senang bergerak kesana-kemari, ada yang harus dibujuk agar mau mengeja, yang lainnya langsung menangis karena belum tahu baca-tulis.” Tambah Reggia. Hal tersebut membuat mereka melakukan pendekatan pendekatan yang lebih halus kepada anak-anak seperti berusaha menjadi teman bukan guru. Berbagai metode belajar lainnya pun mereka terapkan ketika melihat anak-anak mulai bosan. Salah satunya adalah melakukan permainan bisik berantai. Bukan tanpa alasan, permainan ini dilakukan sekaligus untuk mengajarkan mereka bekerja sama serta peka terhadap apa yang disampaikan. Terlebih permainan ini dapat menciptakan suasana yang lebih ceria daripada sekadar “diajari”.

Reggia berharap bahwa dengan adanya program Kampus Mengajar ini membuat mahasiswa menjadi semakin “melek” akan pendidikan. Baik mahasiswa yang berlatar belakang pendidikan ataupun non pendidikan semuanya berhak menjadi pendidik.

Related articles

Recent articles