12.9 C
New York

Ave Maryam “Dilema Ketika Seorang Biarawati Ingin Mencintai Pastornya”

Published:

Semarang, Suster Maryam (39th), seorang biarawati yang bertugas mengurusi para suster-suster sepuh, menjelang ulang tahun nya yang ke 40th dia berusaha untuk terus memurnikan diri. suatu malam Romo Martin (45th) datang ke rumah asrama kesusteran yang di pimpin oleh suster Mila (40th). Romo Martin memperkenalkan Suster Monic (66th) dan Romo Yosef (30th) keduanya akan menetap di kota ini. Kehadiran Romo Yosef yang pandai bermain music membuat suster Maryam jatuh hati.

Ave Maryam, sebuah film bergenre drama romansa dengan sentuhan nilai keagamaan. Film ini berhasil menjadi pemenang kategori Penyuntingan Film Terbaik di Festival dan penghargaan Film Internasional Perbara ke-4 2019.  Ave Maryam memberikan sentuhan  sinematografinya, pemilihan property, dan set yang terlihat vintage.  film Ave Maryam ini kita bisa merasakan suasa berada di Gereja di tahun 90-an, dengan musik-musik klasik yang sering orang tua kita putar.

“Saya ingin mengajakmu keluar mencari hujan ditengah kemarau” 
Romo Yoseph

Film  ini minim kata namun mengandung banyak makna. Diawali dengan kegiatan sehari-hari suster Maryam dikesusteran. Tak banyak kata yang dituruturkan Maryam, ia hanya diam dan bercengkrama dengan sesama biarawati seadanya. Sosok Maryam digambarkan sebagai wanita kuat dan tangguh, hal itu ditandai dengan keseharian nya membagi tanggung jawab antar sesama insan dan tanggung  jawabnya pada sang Tuhan. Maryam tak gunakan kata untuk mengungkapkan perasaan nya, hanya air muka dan gejolak batinnya menjadi alat bicara.

Hari-hari Maryam yang sendu dan selalu dijalani dengan hikmat pun diisi dengan kehadiran seorang pria yang mereka sebut Romo dengan tanggung jawab sebagai Pastor Kegerejaan yang cukup belia dari padanya. Saat itu suasana hujan yang mempertemukan mereka, tanpa tatap mata namun kehadiran satu sama lain menimbulkan konflik dalam kehidupan mereka. Sebut saja pria itu adalah Romo Yosef yang datang bersama suster Monic yang merupaka biarawati lama sekaligus ibu angkatnya.

Entah apa yang difikirkan suster Monic pada Mariam. Dalam film itu terlihat sorot mata nya yang tak baik-baik saja terhadap Maryam. Dimulai dari sendok makan yang tertukar, sampai kedatangan Maryam yang membuatnya tak merasa nyaman saat mendengar merdunya suara music dari gesekan piringan hitam. Namun kehadiran suster Monic membuat kita paham betapa cintanya Maryam akan tanggung jawabnya memeluk kepercayaannya, serta loyalitas nya terhadap sesama, sebab tak sedikitpun hal menunjukkan Maryam merasa kesal dengan suster Monic yang merepotkannya bahkan Maryam Merawatnya dengan tekun.

“Kebahagiaan menjadi hal utama dalam menikmati
segala sesuatu hal yang menakjubkan dalam dunia ini” 
Romo Yoseph

Suara instrumen musik nan merdu menyusuri bangunan katedral nan suci, membuat Maryam tergerak mengikuti lantunan seriosa diiringi instrument itu. Susara-suara itu menemani pertemuan mereka walaupun hanya tatapan antara dua pasang bola mata. Tatapan itu menjadi awal pertemuan mereka.

Waktu ke waktu terus berjalan, sering sekali Romo Yosef mengajak Mariam menghirup angin diluar kesusteran namun tak kunjung kesampaian. Maryam yang dingin dan kaku serta menunjukkan sifat introvert sejati menjadi tantangan tersendiri bagi Yosef yang cenderung lebih bersahabat. Sampai tiba waktunya dimalam yang sunyi Yosep berbisik pada pitu bilik Maryam mengisyaratkan ia menuggu kehadiran Mayam. Sungguh malam yang sangat bertuah bagi Yosep, Maryam pun bersedia menemuinya disebuat perjamuan makan malam hanya berdua. Dalam adegan itu tak ada sepatah kata pun tertutur dari mulut keduanya. Untugnya suara dialog film yang diputar pada perjamuan itu dapat menyampaikan pesan dari pertemuan mereka. Entahlah, aku heran entah apa yang difikirkan Ertanto saat merilis film, rasanya kita sebagai peonton menjadi sutradara dalam setiap adegan nya sebab kita diharuskan untuk berimajinasi saat menonton setiap momen yang ada difilm ini.

“Jika surga belum pasti untuk saya buat apa saya mengurusi nerakamu”
Suster Monic

Entah apa yang difikirkan Maryam, ia tak sanggup membendung nafsunya. Pertemuan di meja makan itu membuat nya berani melalaikan tugasnya serta melupakan cintanya tak boleh diberi pada sosok pria. Maryam dan Yosep sering bertemu secara diam-diam. Sosok Maryam yang diam dan menyimpan seribu pesan dalam wajah nya menjalin cinta yang intim dengan sosok Imam Gereja. Dihari ulang tahun nya Mariam dihadiahkan kue tart dengan suasana cinta dari Yosep didepan hamparan pasir pantai dan deru ombak. Hmmm, perjalanan itu membuat mereka tak bisa membendung rasa dan nekat meluapkan api asmara.

Penyesalan menyelimuti kedua insan itu. Maryam yang tak pernah bersuara dalam ekspresinya ternyata bisa terisak dalam tangisnya. Suster monic yang tahu hal itu tak pula menghakiminya, ia hanya bisa menyerahkan sepenuh nya pada Maryam. Hal ini menandakan sepertinya suster Monic sudah tahu apa yang akan terjadi. Pada akhirnya Maryam meninggalkan kesusteran, dan dibilik pengakuan dosa ia meminta dengan berlinang air mata. Tanpa sadar ternyata dibilik sebelah Yosep mendengarkan nya dengan batin yang tercabik-cabik.

Perasaan pertama saat menoton film ini aku merasa takjub banget dengan keberanian seorang Ertanto yang nekat menyorot kisah percintaan seorang Biarawati dengan seorang Pastor yang udah jelas banget menjadi larangan dalam agama Katolik. Film ini juga memberikan warna baru pada industri perfilman Indonesia yang mana lebih sering menyorot Agama Islam. Oh iya satu lagi, film ini juga memperlihatkan kita lebih dalam terhadap sisi percintaan dan tak selamanya hal romantis itu diperankan oleh dilan dan milea. It’s a love story that is famous today.

Namun ada banyak kejanggalan pada film ini yaitu tulisan ma dan mo pada sendok makan Maryam dan suster Monic, Maryam yang mengucapkan kata Hamdalah pada menit ke 13, dan adegan suster monic yang sudah tiga kali berlatarkan kuburan. Banyak juga yang menyayangkan tentang kurang jelasnya latar belakang suster Maryam. Namun hal itu mungkin terjadi akibat pemotongan durasi yang seharusnya 85 menit menjadi 73 menit untuk klasifikasi 17 tahun dan 74 menit untuk klasifikasi 21 tahun.

Dan juga Secara keseluruhan, Ave Maryam setidaknya cukup sukses memberikan suguhan warna baru bagi perfilman Indonesia. Hanya saja, butuh pemahaman yang cukup mendalam untuk bisa menikmati cerita ini. Film Ave Maryam tak secara gamblang dan ringan menggambarkan pesan moral atau inti cerita yang ada di dalamnya. Ada kebebasan persepsi antara setiap orang untuk bisa menikmati ceritanya. Hal ini terlihat ketika di akhir film, suster Maryam pergi membawa kopernya. Tak diceritakan apa yang terjadi padanya dan apa keputusan akhirnya. Robby seolah ingin membuat penonton memberikan kisah akhir tersendiri untuk Maryam. Untuk kamu yang menyukai hal baru, film ini cocok banget buat menemani liburan mu. Film yang menyampaikan pesan nya dengan makna yang tersirat pada setiap momen nya.

Penulis : CKB Yoga

admin
adminhttp://persmakreatif.com
Hai, ini saya Admin Persma Kreatif. Apakah kamu punya Pertanyaan dan Saran? Biarkan saya tau!, Kirimkan ke Email kami perskreatiftim@gmail.com atau Melalui Intagram @Persmakreatif

Related articles

Recent articles