Di Balik Layar Sinetron Asmara Gen Z: Luka, Trauma, dan Keluarga
Medan, Persma Kreatif – Sinetron Asmara Gen Z tengah menjadi tontonan yang sedang trending di kalangan remaja Indonesia saat ini. Alur cerita yang ringan, penuh romansa, dan drama anak sekolah yang membuat sinetron ini disukai banyak orang.
Namun, dibalik keseruannya, sinetron Asmara Gen Z sering mengangkat isu kesehatan mental, luka batin, konflik keluarga dan trauma. Tak sedikit karakter dalam sinetron ini memiliki masalah dengan orang tua mereka.
Sinetron Asmara Gen Z tidak hanya mengangkat satu, tetapi cukup banyak isu kesehatan mental, seperti NPD (Narcissistic personality disorder), PTSD (Post Traumatic Stress Disorder), HPD (Histrionic Personality Disorder), panic attack, dan kontrol emosi.
Fenomena ini ternyata mencerminkan realitas yang banyak dirasakan Gen Z. Dengan menampilkan karakter yang memiliki trauma dan tekanan keluarga, membuat banyak penonton ramai-ramai memberikan komentar di media sosial, seperti: “kayak hidup aku banget,” karena mereka merasa kisah tersebut realistis dengan pengalaman pribadi.
Masalah kesehatan mental merupakan kondisi yang cukup rentan dialami oleh kalangan remaja. Di Indonesia, tercatat sekitar 6,1% penduduk yang berusia 15 tahun ke atas mengalami gangguan kesehatan jiwa.Berdasarkan hasil survei Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) tahun 2022, tercatat bahwa 1 dari 3 remaja atau sekitar 34,9% setara dengan 15,5 juta remaja mengalami masalah kesehatan mental dalam kurun waktu 12 bulan terakhir. Sementara itu, sekitar 5,5% atau 1 dari 20 remaja mengalami gangguan mental.
Survei juga menunjukkan bahwa penyebab masalah kesehatan mental remaja dipicu oleh tekanan atau tuntutan berlebihan yang dilakukan orang tua kepada anaknya. Selain itu, keluarga yang tidak harmonis turut menjadi penyebab gangguan kesehatan mental pada anak. Dalam sinetron ini juga ditampilkan bagaimana konflik keluarga menjadi latar belakang munculnya masalah kesehatan mental pada karakternya.
Tidak hanya tekanan yang berlebihan, orang tua dengan gangguan kesehatan mental juga memiliki resiko yang lebih tinggi menyebabkan anak mengalami masalah serupa dibanding orang tua yang tidak mengalaminya.
Salah satu penonton Asmara Gen Z, Najwa Salsabila juga menyampaikan pendapatnya tentang peran keluarga terutama orang tua yang memiliki pengaruh besar terhadap kesehatan mental anak.
“Keluarga sepengaruh itu sama mental health, karena diri kita itu pertama dibentuk di lingkungan keluarga, jadi kalau parenting-nya salah sedikit atau bisa dibilang toxic parenting, ketika masih anak-anak itu bisa fatal untuk emosional dan mental mereka,” ujarnya.
Kurangnya pengetahuan tentang masalah kesehatan mental, menyebabkan hanya sedikit orang tua yang menyadari dan mencari bantuan secara psikologis.
Sinetron ini bukan sekadar drama remaja biasa, tapi bisa menjadi jembatan bagi orang tua dan anak sebagai bahan diskusi. Dengan adanya sinetron seperti ini diharapkan orang tua teredukasi dan semakin peduli terhadap masalah kesehatan mental yang terjadi pada anak.
editor: Yosia
