Share

Menyapu Asa di Kampus Hijau, Sepuluh Tahun Dedikasi Bapak Daniel Menjaga Kebersihan Unimed

Medan, Persma Kreatif — Di balik rindangnya pepohonan dan bersihnya lingkungan Universitas Negeri Medan (Unimed), terdapat sosok-sosok pekerja yang setiap hari memastikan kampus tetap nyaman dan asri. Salah satunya adalah Bapak Daniel (60), petugas kebersihan yang telah mengabdikan dirinya selama satu dekade untuk menjaga kebersihan area luar kampus.

Dengan mengenakan kaus kuning dan topi putih, Bapak Daniel tampak sederhana namun penuh semangat saat menjalankan tugasnya di kawasan Gedung Haji Anif, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unimed. Pria berdarah Jawa yang lahir pada tahun 1965 ini telah bekerja sebagai tukang sapu di Unimed selama kurang lebih 10 tahun.

“Kerja saya bersih-bersih halaman dan taman. Kalau di dalam ruangan, itu petugas lain,” ujarnya saat diwawancarai Persma Kreatif Unimed, Senin (19/5).

Dari Buruh Harian ke Petugas Kebersihan Kampus

Sebelum bekerja sebagai petugas kebersihan di kampus Unimed, Bapak Daniel mengandalkan pekerjaan serabutan di bidang bangunan. Ia menunggu panggilan dari para pemborong untuk bekerja jika ada proyek.

“Dulu saya ikut kerja bangunan. Kalau ada panggilan dari pemborong, baru kerja,” kenangnya.

Kesempatan bekerja di Unimed pun datang bukan melalui proses lamaran langsung, melainkan melalui penugasan dari mandor. Sistem kerja tersebut membuat para petugas kebersihan ditempatkan sesuai kebutuhan kampus.

Awalnya, Bapak Daniel bertugas seorang diri di Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan (FIKK). Namun, sekitar tiga bulan terakhir, ia dipindahkan ke kawasan Gedung Haji Anif. Menurutnya, perpindahan lokasi kerja merupakan hal yang biasa dan sepenuhnya bergantung pada keputusan mandor.

Bekerja dari Pagi hingga Senja

Setiap hari, Bapak Daniel berangkat dari kediamannya menuju kampus dan harus sudah tiba di Unimed pukul 06.15 WIB dan baru menyelesaikan pekerjaannya sekitar pukul 17.30 WIB.

Meski jam kerja cukup panjang, ia mengaku menikmati pekerjaannya. Menurutnya, lingkungan kerja di Unimed terasa nyaman dan minim kendala.

“Kalau dari mahasiswa atau lingkungan kampus, tidak ada masalah. Paling kalau capek saja, tapi saya nikmati,” tuturnya.

Sistem Upah Berdasarkan Kinerja

Bapak Daniel menjelaskan bahwa gaji petugas kebersihan tidak selalu sama. Besaran upah ditentukan oleh mandor berdasarkan kualitas pekerjaan masing-masing.

“Mandor datang mengecek. Kalau kerja kita bersih, ya dinilai baik,” katanya.

Dalam sebulan, ia menerima gaji dua kali. Pada periode tanggal 1 hingga 15, ia memperoleh sekitar Rp2 juta. Pada periode tanggal 15 hingga akhir bulan, ia kembali menerima nominal yang kurang lebih sama.

Dengan penghasilan tersebut, Bapak Daniel merasa kebutuhan keluarganya dapat terpenuhi dengan cukup.

“Kalau menurut saya, sudah pas untuk kebutuhan sehari-hari,” ujarnya.

*Gotong Royong Menyambut Hari Besar*

Selain tugas rutin, para petugas kebersihan juga melakukan gotong royong setiap hari Sabtu. Kegiatan ini biasanya difokuskan pada area lapangan yang digunakan untuk upacara dan acara kampus.

Menjelang peringatan Hari Kebangkitan Nasional, mereka pun bekerja lebih intensif untuk memastikan lingkungan kampus tetap bersih dan rapi.

*Mengabdi untuk Keluarga*

Di usia 60 tahun, Bapak Daniel masih bekerja dengan tekun. Ia telah berkeluarga, memiliki satu anak dan satu cucu. Semangatnya untuk terus bekerja menjadi bentuk tanggung jawab dan kasih sayang kepada keluarga.

Di tengah hiruk-pikuk aktivitas akademik, sosok seperti Bapak Daniel kerap luput dari perhatian. Padahal, dedikasinya selama 10 tahun telah menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan kampus yang nyaman bagi seluruh civitas akademika.

Kisah Bapak Daniel mengingatkan bahwa kebersihan kampus bukan hanya hasil dari aturan dan fasilitas, tetapi juga dari kerja keras orang-orang yang setia menjalankan tugasnya setiap hari, dari pagi hingga senja.

You may also like