Dibayar Pengalaman: Ketika Magang Menjadi Kerja Murah yang Dinormalisasi
Medan, Persma Kreatif—Setiap 1 Mei, isu upah layak dan keadilan kerja kembali disuarakan. Namun bagi sebagian mahasiswa, persoalan itu bukan hanya milik buruh pabrik, melainkan sudah mereka rasakan sejak masa magang, ketika kerja penuh waktu sering kali dibayar dengan “pengalaman”.
Dalam banyak diskursus, magang diposisikan sebagai jembatan antara dunia pendidikan dan dunia kerja. Ia menjadi ruang belajar bagi mahasiswa untuk mengasah keterampilan, memahami ritme kerja, serta mengenal praktik profesional secara langsung. Secara umum, magang juga dipahami sebagai bagian dari proses pembelajaran yang menempatkan mahasiswa sebagai peserta didik, bukan tenaga kerja penuh.
Namun dalam praktiknya, batas antara proses belajar dan kerja produktif kerap menjadi kabur. Tidak sedikit program magang yang menempatkan mahasiswa pada posisi yang menyerupai pekerja tetap, baik dari segi beban kerja maupun tanggung jawab, tanpa diikuti dengan kompensasi yang sepadan atau proses pembelajaran yang memadai.
Di sisi lain, berkembang narasi bahwa pengalaman merupakan “modal utama” bagi mahasiswa. Dalam logika ini, upah tidak lagi menjadi prioritas, karena pengalaman dianggap sebagai investasi jangka panjang. Cara pandang ini kemudian membentuk pemaknaan baru: bekerja dengan bayaran minim, bahkan tanpa bayaran, dipandang sebagai sesuatu yang wajar selama dapat menambah nilai dalam CV.
Pergeseran ini tidak hanya terjadi dalam tataran wacana, tetapi juga tercermin dalam pengalaman mahasiswa. Salah satunya diungkapkan oleh seorang mahasiswa di Medan yang enggan disebutkan namanya. Ia pernah menjalani program magang dengan kondisi yang tidak sepenuhnya sesuai dengan ekspektasinya, namun tetap menjalaninya meskipun upah yang diterima tergolong rendah.
“Sebenarnya upahnya kalau sesuai sama beban kerja pokok cukup, tapi kadang kerja tambahannya itu tidak dihitung. Namun biarpun begitu aku tetap jalanin karena butuh pengalaman dan pengetahuan buat ke depannya,” ujarnya.
Pengalaman tersebut menunjukkan bagaimana narasi “pengalaman sebagai investasi” tidak hanya diyakini, tetapi juga dijalani. Dalam kondisi ini, bekerja dengan upah rendah perlahan menjadi sesuatu yang dinormalisasi, bukan lagi dipertanyakan.
Ketika praktik semacam ini terus berlangsung, muncul kekhawatiran bahwa magang tidak lagi sekadar menjadi ruang belajar. Ia berpotensi bergeser menjadi bentuk kerja dengan kompensasi yang tidak sepadan, terutama ketika mahasiswa menjalankan tugas dengan tanggung jawab nyata, sementara posisi tawar mereka tetap terbatas.
Dalam konteks tersebut, batas antara pembelajaran dan praktik kerja menjadi semakin kabur. Apa yang semula dimaksudkan sebagai sarana belajar dapat berubah menjadi mekanisme yang secara tidak langsung melegitimasi kerja murah atas nama pengalaman.
Situasi ini menjadi relevan untuk direfleksikan dalam momentum Hari Buruh Internasional. Jika peringatan ini selama ini identik dengan perjuangan atas upah layak dan kondisi kerja yang adil, maka pengalaman mahasiswa dalam program magang menunjukkan bahwa persoalan serupa dapat muncul dalam bentuk yang berbeda, lebih halus, namun tetap menyisakan pertanyaan tentang keadilan kerja.
Pada akhirnya, magang tetap memiliki peran penting sebagai ruang belajar. Namun, ketika pengalaman dijadikan alasan untuk mengabaikan aspek keadilan, pertanyaannya bukan lagi tentang pentingnya magang, melainkan tentang bagaimana praktik tersebut dijalankan. Di titik ini, mahasiswa tidak hanya sedang belajar bekerja, tetapi juga sedang berhadapan dengan realitas dunia kerja yang timpang, bahkan sebelum benar-benar menjadi bagian darinya.
