Share

Medan, Persma Kreatif – Sebuah cerita novel yang menarik perhatian publik kini semakin keras diperbincangkan. Broken Strings merupakan novel karya dari Aurélie Moeremans seorang artis berdarah Indonesia – Belgia. Novel yang dapat diakses secara gratis ini menjadi viral karena alur cerita yang diangkat berdasarkan kisah nyata sang penulis.

Selain itu, isi cerita yang dijabarkan dalam novel mengandung sisi psikologis yang mampu menyenggol dan mengguncang emosional para pembaca. Sentuhan inilah yang menciptakan daya tarik tersendiri dalam novel ini hingga berhasil membangun kembali kisah kelam penulis yang sempat terkubur.

Novel ini berfokus pada dua tokoh, yakni antara Aurèlie yang menjadi korban child grooming dari pria dewasa bernama Bobby. Namun, yang membuat novel ini sangat menarik bukanlah karena dramanya semata, melainkan adanya kemampuan mengungkap masa lalu kelam terhadap hubungan toxic yang dapat diambil nilai psikologisnya.

Ini dia 5 istilah psikologis yang relate dengan isi novel Borken Strings :

  1. Gashlighting: Ketika korban Dipaksa Bersalah
    Gaslighting merupakan salah satu tindakan manipulasi psikologis di mana pelaku mengontrol atau mengendalikan korban sehingga membuat korban ragu akan ingatan, pandangan, hingga realitasnya sendiri.

Dalam novel ini, Bobby mampu mengendalikan pikiran Aurèlie yang saat itu masih di bawah umur. Bahkan setengah dari umurnya. Ia pandai dalam menyampaikan perkataan yang menyudut seolah itu bermakna sebuah pesan dan ajaran hingga membuat Aurèlie menganggap dirinya lah yang bersalah dalam setiap masalah karena merasa tidak benar dalam bersikap.

Menurut dr. Rizal Fadli, dampak gaslighting dalam sebuah hubungan mengakibatkan korban mengalami gangguan kecemasan dan depresi, kehilangan kepercayaan diri, hingga dapat meragukan kewarasannya sendiri.

  1. Trust Building Process (proses Pembangunan Kepercayaan)
    Biasanya, pelaku memberikan perhatian dan sikap seolah-olah melindungi sehingga seorang anak merasa diistimewakan dan pelan-pelan mulai menaruh rasa percaya kepada pelaku. Seperti gambaran Bobby di dalam buku ini, ia hadir di keseharian aurelie untuk membangun emosional dan rasa nyaman untuk terus berada di sekitarnya.

Menurut artikel kesehatan, Child grooming memiliki beberapa proses yang bertahap. Dimana pelaku berusaha membangun hubungan dengan sang korban seperti yang di ceritakan di dalam buku ini. Di buku ini pemeran Bobby melakukan pendekatan yang cukup baik dan melakukan pendekatan dengan keluarga aurelie sehingga membuat gadis itu mudah untuk dipengaruh dan dimanipulasi.

Proses ini juga berjalan cukup lama bisa berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Dan biasanya korban tidak menyadari bahwa ia sedang mengalami child grooming.

  1. Manipulasi Emosional
    Manipulasi emosional merupakan sebuah taktik untuk mengendalikan perasaan dan pikiran orang untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Manipulasi ini merupakan salah satu pelecehan pelecehan emosional yang cukup memberikan dampak yang serius untuk para korbannya.

Ciri-ciri dari manipulasi emosional ini diantaranya, membuat korban meragukan atau merasa rendah diri, dilarang untuk bertemu dengan oranglain, pelaku sering bersikap seperti korban atau Bahasa modernnya playing victim jadi pelaku membalikkan fakta sehingga membuat korban merasa bersalah, sering memulai pertengkaran.
Seperti yang di gambarkan di novel, Bobby selalu hadir kekehidupan aurelie yang membangun emosional dan rasa nyaman.

Aurelie mulai mempercayai bobby seiring berjalannya waktu tanpa di sadari Bobby mulai berani untuk kontrol aktifitas aurelie mulai membatasi pertemanan, mulai bersikap sebagai korban sehingga membuat aurelie selalu merasa bersalah, hingga merusak hubungan keluarga Aurelie.

Manipulasi emosional ini membuat aurelie merasa dikendalikan, merasa bersalah dan meminta maaf atas kesalahan yang tidak di perbuat olehnya, dan selalu merasa tidak percaya diri.

  1. Emotional Guardedness (Sikap Menjaga Diri secara Emosional)
    Istilah psikologi ini dapat digambarkan seperti seseorang yang membangun “benteng” emosional dalam dirinya sendiri sebagai upaya melindungi diri terhadap luka, penolakan dan penghakiman. Di dalam bukunya, Aurelie menceritakan sejak kecil orang tuanya cukup strict dalam menjaga pergaulannya. Dari faktor tersebutlah ia sulit untuk terbuka dan bercerita tentang perasaan dan kehidupan yang ia jalani sebenarnya kepada orang tua ataupun orang terdekat. Trauma terhadap respon orang tua dan penghakiman terhadapnya membuat kebiasaan ini terbawa hingga dewasa.

Hingga ketika ia mengalami hal yang tidak pantas sekalipun membuatnya takut untuk bercerita, inilah salah satu faktor penting yang membuat kejahatan yang menimpa dirinya bertahan hingga bertahun-tahun lamanya.

  1. Low Self-Worth (Harga Diri Rendah)
    Seseorang yang menjadi korban child grooming ataupun pelecehan seringkali menganggap dirinya “kotor” dan “rusak” yang membuat pandangan mereka terhadap kelayakan dirinya sendiri jatuh. Trauma yang disebabkan oleh kejahatan seksual membuat mereka menganggap bahwa mereka tidak layak lagi untuk dihargai, dicintai dan mendapatkan hal-hal yang baik. Untuk bangkit dari fase pasca trauma ini butuh waktu yang panjang untuk percaya terhadap value diri dan membangkitkan rasa percaya diri yang runtuh.
    Berada di lingkungan yang mendukung korban untuk bangkit adalah hal yang krusial. Sebab, afeksi dan motivasi dari kerabat dan keluargalah yang dapat mendorong cepat mereka untuk pulih. Aurelie juga menuliskan dalam bukunya, ketika ia sudah merasa ia layak dan berharga maka saat itulah ia mulai menarik hal-hal baik yang dulu ia anggap tidak mungkin bisa ia dapatkan.

Buku ini memberikan gambaran dari proses child grooming itu tersendiri. Mulai dari Aurelie yang dekat dengan Bobby, membangun emosional dan rasa nyaman dengan hadir dalam kehidupan sehari-harinya, setelah itu Bobby mulai melakukan sentuhan fisik dan meningkat menjadi pelecehan seksual, serta mulai merusak hubungan antara aurelie dengan keluarganya.

Menurut beberapa artikel kesehatan, ada beberapa dampak yang muncul pada korban grooming. Korban akan mengalami gangguan mental yang cukup berat, seperti cenderung menutup diri, menarik diri dari lingkungan sosial, masalah kecemasan, gangguan stress pascatrauma (PTSD). Seperti yang digambar di buku Broken Sting, seiring perjalanan waktu pemeran utama mulai mati rasa dan bentuk perlindungannya mengecilkan dirinya sendiri.

Selain child grooming buku ini juga menggambarkan bahwa hubungan orang dewasa dengan anak dibawah umur tidak bisa berjalan dengan mulus dan cenderung sulit karena keduanya dari generasi yang berbeda. Anak itu masih berada di beberapa fase perkembangan dari identitas diri dan emosionalnya, mereka masih mencari jati dirinya. Itulah mengapa hubungan antara orang dewasa dan anak dibawah umur tabu, karena dari pola fikir, kematangan emosi, fase perkembangan itu cukup berbeda dan itu dapat mempengaruhi kesehatan mental seorang anak. Buku ini membuat para pembaca sadar ini bukan sekadar cerita fiksi saja, tetapi kejadian yang masih terjadi di kehidupan nyata. Cerita ini juga menjadi pengingat bahwa hubungan yang terlihat romantis, perhatian, penuh kasih sayang belum sepenuhnya sehat maupun aman.

Penulis: Rogate, Deril, Alisya

You may also like