Dari Ruang Istirahat ke Ruang Siaga: Malam Ketika Kos Kami Kebanjiran
Medan, Persma Kreatif—Hujan yang turun tanpa jeda selama empat hari terakhir mengubah banyak sudut kota di Sumatera Utara menjadi genangan luas. Jalan-jalan kecil di sekitar kawasan kampus berubah menjadi aliran air kecokelatan, merayap perlahan ke halaman rumah warga. Di tengah hiruk-pikuk mahasiswa yang sibuk mengevakuasi barang-barang mereka, Lemuel anak rantau asal Jakarta berjalan tergesa sambil memeluk tas ransel satu-satunya.
Baginya, ini bukan sekadar banjir pertama sejak merantau; ini hari ketika kamar kos yang selama ini ia sebut rumah harus ia tinggalkan dalam gelap, menuju masjid terdekat untuk mengungsi seorang diri.
Siang hingga sore itu, air awalnya hanya menggenangi pelataran kos. Dari jendela kamarnya, Lemuel melihat halaman mulai berubah warna, tanda bahwa air dari jalanan sudah merangkak masuk.
“Awalnya belum masuk ke dalam, tapi aku udah merasa nggak enak,” katanya.
Saat itu juga ia mulai mengevakuasi barang-barang yang paling penting seperti laptop, charger, beberapa dokumen, dan pakaian secukupnya. Ia masukkan ke dalam satu tas besar.
Namun malam membawa situasi yang berbeda. Hujan tak mereda, dan suara air yang menghantam dinding kos terdengar makin dekat.
“Airnya naiknya cepat banget. Baru sebentar aku ngemas, eh udah setinggi mata kaki,” ujarnya.
Dalam gelap, sambil menahan panik, ia sempat terjatuh saat mencoba menyelamatkan barang-barang lainnya.
“Aku kebanting karena buru-buru. Lantainya licin.”
Ketika ketinggian air tak lagi bisa ditoleransi, Lemuel memutuskan keluar. Ia menyibakkan air setinggi lutut dan berjalan ke masjid paling dekat dari kosnya, tempat yang ia pikir lebih aman. Tapi kenyataannya tak jauh berbeda. Air di halaman masjid ikut naik, membuat seluruh ruangan terasa lembap dan dingin.
“Aku semalaman nggak tidur,” ucapnya.
“Begitu dapat kesempatan tidur, airnya udah agak surut, tapi badan aku menggigil karena kelamaan kena air.”
Di masjid, ia duduk seorang diri, memeluk tas ranselnya, sambil mendengar suara hujan yang menampar genteng, ritme yang tak berhenti sepanjang malam.
Pagi itu, saat matahari akhirnya muncul tipis di balik awan, Lemuel kembali ke kosnya. Kamar kecilnya berubah. Ubin yang biasanya bersih kini dilapisi lumpur, buku-buku menggelembung, dan banyak barang basah tak berbentuk. Ia hanya berdiri lama di depan pintu, mencoba merangkum apa yang terjadi semalam.
Sejak kejadian itu, ia belum bisa kembali menempati kamarnya. Untuk sementara, ia mengungsi di kos temannya, tempat yang lebih tinggi dan aman dari luapan air. Di ruang sempit yang dipinjamkan itu, Lemuel mencoba memproses semuanya: kepanikan, dingin yang menusuk, dan kesunyian menjadi perantau yang harus mengurus dirinya sendiri.
“Ini pertama kali aku ngalamin banjir selama di Medan,” katanya pelan.
“Aku nggak nyangka bakal seberat itu.”
Pengalaman itu mungkin akan menjadi kisah yang ia ceritakan di tahun-tahun mendatang. Tentang malam ketika air merendam kamar kosnya, tentang jatuh bangun menyelamatkan barang, dan tentang dingin yang tak memberinya tidur. Tetapi di balik semuanya, Lemuel belajar bahwa merantau tidak hanya soal kuliah dan mengejar mimpi. Ada hari-hari ketika kota meminta lebih banyak: ketenangan, keberanian, dan kemampuan bertahan.
Dan bagi Lemuel, malam banjir itu bukan hanya peristiwa alam. Itu adalah pengingat bahwa terkadang bertahan dimulai dari langkah sederhana, memeluk ransel, berjalan ke masjid, dan berharap bahwa besok akan sedikit lebih kering.
