Share

Teknologi yang Absen di Tengah Banjir Besar Indonesia

Medan, Persma Kreatif — Banjir yang melanda sebagian besar daerah Sumatera beberapa waktu lalu mengingatkan kita pada kenyataan pahit. Transformasi digital justru belum benar-benar hadir ketika bencana datang.

Padahal, kita hidup di zaman ketika AI (Artificial Intelligence) bisa memprediksi cuaca, sensor kecil bisa dipasang di sungai untuk mengirim data ketinggian air setiap menit, dan drone bisa memetakan wilayah bencana lebih cepat dari laporan manual. Namun entah mengapa, setiap kali banjir datang, kita seperti kembali ke pola lama yaitu menunggu air naik, menunggu laporan datang, dan menyadari semuanya ketika sudah terlambat.

Curah hujan yang ekstrem sebenarnya bukan peristiwa yang muncul secara tiba-tiba. Banyak negara sudah menggunakan ML (Machine Learning) untuk membaca tren cuaca jangka pendek. Indonesia pun memiliki kemampuan itu, tapi sayangnya EWS (Early Warning System) kita belum terhubung dengan baik sampai ke tingkat paling kecil yaitu desa dan dusun.

Akibatnya, masyarakat baru mengetahui sungai meluap ketika air sudah masuk rumah. Padahal kalau sensor IoT (Internet of Things) dipasang di sepanjang sungai besar, data ketinggian air bisa langsung muncul di aplikasi sederhana di ponsel warga. Mereka bisa siap jauh sebelum sirine darurat berbunyi jika sirene itu sendiri berfungsi.

Saat listrik padam dan BTS (Base Transceiver Station) tumbang, komunikasi dengan korban bencaba langsung terputus. Relawan kesulitan berkoordinasi, informasi simpang siur, dan proses penyelamatan jadi jauh lebih lambat. Padahal, teknologi seperti mesh network jaringan darurat antarponsel tanpa bergantung pada menara BTS sudah digunakan di negara-negara lain seperti Jepang dan Puerto Rico. Lagi dan lagi, teknologi tidak sampai ke tangan orang-orang yang paling membutuhkannya.

Drone juga bisa menjadi alat yang membantu pemetaan wilayah banjir. Namun kenyataannya, laporan lapangan mengenai kondisi di kalangan bergantung pada foto yang disebarkan oleh masyarakat atau tim yang sedang menuju lokasi. Padahal, setiap menit adalah nyawa keterlambatan informasi sedetik saja berujung pada keterlambatan penanganan.

Ironisnya lagi, Indonesia sebenarnya tidak kekurangan data. Catatan curah hujan puluhan tahun, rekam jejak banjir tahunan, peta DAS (Daerah Aliran Sungai), peta tata ruang, sampai citra satelit semuanya tersedia. Namun semua data itu berjalan sendiri-sendiri. Padahal, dengan memanfaatkan BD (Big Data), Indonesia bisa membangun FRM (Flood Risk Model) yang jauh lebih akurat dan berkelanjutan. Hingga kini, pemanfaatan teknologi semacam itu masih sebatas pilot project, bukan sistem nasional yang bekerja 24 jam sehari.

Teknologi memang tidak bisa menghentikan hujan, namun teknologi bisa membantu masyarakat untuk lebih cepat menyelamatkan diri, menuntun relawan ke lokasi, mempercepat distribusi logistik, dan mengurangi korban yang sebenarnya bisa diselamatkan.

Banjir yang terjadi di sebagian wilayah Sumatera seharusnya menjadi pengingat bahwa kita harus bertindak sebelum bencana datang. Sudah waktunya Indonesia berani berinvestasi pada EWS (Early Warning System) berbasis IoT, drone otonom sebagai standar operasi bencana, prediksi cuaca berbasis AI dan ML, NDM (National Disaster Dashboard) yang bisa diakses publik, serta sistem komunikasi darurat yang tidak bergantung pada BTS dan listrik.

Indonesia tidak kekurangan ahli. Tidak kekurangan teknologi. Tidak kekurangan gagasan. Yang kurang hanyalah keberanian untuk menjadikan teknologi sebagai fondasi sistem mitigasi bencana bukan sekadar jargon di podium. Selama teknologi terus absen, korban akan terus hadir. Tahun demi tahun.

You may also like