Share

Rasisme Digital dan Retaknya Ruang Publik Asia: Pelajaran dari Konflik Netizen Korea ASEAN

Medan, Persma Kreatif — Gelombang komentar rasis yang muncul di media sosial dalam beberapa hari terakhir, menyusul konflik antara sebagian netizen Korea Selatan dan warganet Asia Tenggara, kembali membuka satu luka lama di ruang digital: bagaimana identitas ras dan kebangsaan masih dengan mudah dijadikan alat serangan.

Pertikaian ini berangkat dari perbedaan pandangan dan reaksi di platform X. Namun yang seharusnya berhenti sebagai perdebatan biasa, berubah menjadi rentetan hinaan yang menyeret ras, warna kulit, dan asal negara.

Sejumlah akun dari Korea Selatan melontarkan stereotip dan ujaran merendahkan terhadap pengguna dari kawasan Asia Tenggara yang dibalas tak kalah keras oleh netizen ASEAN, membuat konflik membesar dan melebar ke banyak negara.

Dalam hitungan jam, perdebatan itu tidak lagi berbicara tentang isu awal. Ia menjelma menjadi pertarungan identitas, tentang siapa lebih “unggul”, siapa lebih “rendah”. Pada titik ini, rasisme berhenti menjadi sekadar kata-kata, dan berubah menjadi bentuk kekerasan simbolik yang merusak.

Situasi ini menjadi lebih serius dikarenakan adanya algoritma media sosial yang mendorong konten pemicu kemarahan muncul kepermukaan. Akibatnya, komentar paling kasar justru mendapat sorotan paling besar. Dalam suasana seperti itu, ujaran rasis tidak hanya lolos, tapi juga disebarkan.

Bagi banyak netizen Asia Tenggara, hinaan tersebut tidak dipahami sebagai kritik individu, melainkan serangan terhadap martabat kolektif. Negara, budaya, dan identitas mereka terasa direduksi menjadi stereotip. Reaksi yang muncul pun bukan lagi sekadar membela diri, tetapi membela harga diri komunitas.

Sementara di sisi lain, sebagian netizen Korea tumbuh dalam masyarakat yang relatif homogen secara etnis. Ketika mereka melontarkan istilah atau lelucon yang merendahkan, ada jarak besar antara niat dan dampaknya. Yang dianggap “biasa” di satu konteks, menjadi penghinaan berat di konteks lain.

Ketidaksadaran ini tidak menghapus kesalahan, justru memperlihatkan betapa berbahayanya ruang digital tanpa empati lintas budaya.

Munculnya komunitas seperti SeAblings, yang menyerukan persatuan dan perlawanan terhadap ujaran rasis, menunjukkan bahwa konflik ini tidak hanya berisi kebencian, namun juga upaya untuk menarik kembali percakapan ke arah yang lebih manusiawi.

Mereka mengingatkan bahwa Asia, dalam segala keragamannya, tidak seharusnya saling merendahkan.

Namun, fakta bahwa ujaran rasis bisa begitu cepat menyebar tetap menjadi peringatan keras. Rasisme di media sosial bukan sekadar masalah etika, tetapi juga masalah struktural, yaitu tentang bagaimana platform, algoritma, dan budaya online membentuk cara kita melihat orang lain.

Peristiwa ini menjadi cermin yang tidak nyaman. Di era ketika budaya Korea sangat populer di Asia Tenggara, dan ketika koneksi lintas negara semakin mudah, justru batas-batas identitas terasa semakin rapuh. Satu komentar dapat merusak kepercayaan yang dibangun bertahun-tahun.

Pada akhirnya, konflik ini bukan hanya tentang Korea atau ASEAN, tapi tentang bagaimana dunia digital masih gagal menjadi ruang yang aman bagi perbedaan.

Selama ras, warna kulit, dan asal negara masih dipakai sebagai senjata, maka setiap kemajuan teknologi akan selalu dibayangi oleh kemunduran kemanusiaan.

You may also like