Menimbang Pangan, Menyulam Budaya: Medan Teater Berlayar ke Festival Sumatera
Medan, Persma Kreatif– Komunitas Medan Teater menggelar gladi resik pementasan “Meja Makan Mikir-Mikir” sebelum bertolak menuju Festival Teater Sumatera ke-3 di Sumatera Selatan. Gladi resik ini dilaksanakan di Ruang Pameran, Taman Budaya Kota Medan pada Kamis Malam (18/9/2025).
Gladi resik ini bukan hanya persiapan teknis terakhir, melainkan juga menjadi momen pamit sekaligus diskusi bersama publik.
“Kehadiran dan dukungan penonton adalah semangat bagi kami untuk memberikan yang terbaik,” tulis undangan resmi Medan Teater.
Sutradara pementasan, Aucintia, menjelaskan bahwa “Meja Makan Mikir-Mikir” mengangkat isu pangan, tanah, dan tanah air. Menurutnya, pangan kini bukan sekadar kebutuhan, tetapi sudah menjadi persoalan yang kompleks.
“Kalau soal pangan ini seperti labirin. Dari desa, orang tua memberangkatkan anaknya kerja cari uang untuk makan. Dulu orang tanpa uang bisa makan, sekarang kita cari uang supaya bisa makan. Jadi antara manusia dengan makan sudah ada perantaranya, yaitu uang. Itu yang ingin kami sampaikan,” ungkapnya.
Pementasan ini lahir dari proses kreatif yang dilakukan secara kolektif. Para pemain dan tim produksi tidak hanya berlatih di panggung, tetapi juga melakukan riset tentang pangan dan kehidupan masyarakat.
“Seluruh prosesnya kami lakukan bersama. Pemain dan tim mencari data mengenai pangan, lalu kami kemas dalam penampilan. Jadi yang kami tampilkan bukan hanya tentang pangan, tapi juga kultur dan budaya dari Sumatera Utara,” tambah Aucintia.
Meski gagasan terus mengalir, Medan Teater mengakui masih menghadapi keterbatasan sarana. Namun, dukungan penuh dari Pemerintah Kota Medan memberi semangat baru bagi mereka.
“Kalau dari sisi ide, kami terus berkarya. Tantangannya hanya di prasarana. Untungnya kami mendapat dukungan penuh dari Wali Kota Medan, terutama soal transportasi. Untuk itu kami sangat berterima kasih,” ujar Aucintia.
Melalui “Meja Makan Mikir-Mikir”, Medan Teater ingin mengajak penonton merenung tentang hubungan manusia dengan pangan yang semakin berjarak dari tanah dan akar budayanya. Gladi resik ini menjadi ruang pertemuan hangat, sebelum mereka membawa nama Sumatera Utara di panggung Festival Teater Sumatera ke-3.
Penulis: Michelle
