Kasih Masda Peduli Anak HIV AIDS, Stop Diskriminasi

Medan, Persma Kreatif-Raut wajah sedih tidak selalu karena peluh. Mungkin karena kasih kepada anak-anak di Yayasan Kasih Tulus, sebuah tempat yang menaungi anak-anak penderita HIV AIDS. Ialah Masda, seorang perawat asal Tanjung Anom Deli Serdang yang mendirikan yayasan sosial dan sekolah bernama Kasih Tulus. Melihat masih banyaknya diskriminasi terhadap penderita HIV AIDS adalah hal yang menggugah hati Masda Simanjuntak, untuk mendirikan yayasan tersebut. Disini, ia mengasuh puluhan anak dengan HIV AIDS dan memberikan kehidupan yang layak kepada mereka.

Data dari komisi penanggulangan AIDS atau KPK Sumut tahun 2022 menunjukkan angka HIV AIDS provinsi Sumatera Utara terus bertambah, yakni 21 ribu kasus dari sebelumnya 13.150 kasus di 2021. Dari jumlah ini sekitar 200 kasus adalah bayi, diantaranya bayi-bayi HIV AIDS ini adalah yang tidak mempunyai kedua orang tua ataupun mendapat pengabaian dari keluarga.
Kondisi ini menggerakkan hati Masda seorang perempuan yang bekerja sebagai perawat untuk mengasuh anak anak dengan HIV AIDS. Masda lalu mendirikan sebuah yayasan sosial agar dapat merawat anak-anak ini dengan baik. Yayasan tersebut iya beri nama Kasih Tulus, yang berlokasi di Tanjung Anom, Deli Serdang. Menjadi rumah bagi anak-anak HIV AIDS yang sudah tidak memiliki orang tua untuk mendapatkan perawatan dan kasih sayang.
“Waktu itu kenapa saya mulai mengambil keputusan untuk merawat merek, teringat saya ketika ada anak-anak di satu rumah yang terpapar sakit B20 ini, anak-anak ini kadang ada yang dibuatkan kandang, karena keluarga takut terpapar,” ujar Masda.
Diceritakannya kandang-kadang tersebut dibuat dibelakang rumah, dan keluarga kerap tidak ingin berkontak lagi dengan mereka.Sisi terburuknya bahkan, ketika anak tersebut sudah meninggal dunia, keluarga pun tidak menerima mereka.

“Bahkan yang paling luar biasa sampai saya boleh bilang ada beberapa orang anak muda yang ketika di rumah itu terpapar, mereka keluarga nggak mau lagi kadang saya cari tempat dimana ini bisa saya titip, kemudian ketika meninggal keluarga juga tidak mau terima. Jadi kadang saya cari tanah sendiri, kuburan, peti, saya kuburkan sendiri karena gada lagi keluarga yang mau terima,” ungkapnya.
Berdiri sejak tahun 2018 Yayasan Kasih Tulus menjadi harapan bagi anak-anak dengan HIV AIDS untuk dapat hidup lebih sehat.
Mereka dirawat layaknya anak sendiri oleh Masda dan sejumlah relawan, mulai memberi makan hingga pemberian antiretroviral atau ARV untuk menekan perkembangan jumlah virus HIV secara rutin.
Masda juga memberikan pendidikan yang layak bagi mereka. Mendidik sikap mandiri dan tanggung jawab melalui pembagian kerja kepada setiap anak.
Merawat anak-anak tentu tidak dilakukan Masda sendiri, ada tangan-tangan baik lainnya yang turut serta membantunya. Salah satu relawan yakni Irene yang bekerja sebagai pegawai bank di Medan, ia juga sangat senang bisa tinggal dan merawat anak-anak di Yayasan Kasih Tulus meski ditengah kesibukan bekerja. Irene selalu menyempatkan waktu untuk merawat anak-anak dan membantu mereka belajar.
Tidak ada kekhawatiran Iren akan tertular HIV, meski sehari-hari mengasuh anak anak ini. Karena, dia sudah mendapat edukasi dengan baik bahwa penularan HIV tidak mudah terjadi. HIV hanya bisa berpindah melalui tiga cara yaitu transfusi darah, cairan sperma, dan air susu ibu.
Meski permasalahan hiv telah lama di indonesia namun pemahaman masyarakat tentang penularan penyakit ini masih rendah. Masda masih merasakan diskriminasi terhadap anak-anak asuhnya, salah satunya adalah mengakses pendidikan.
Hal tersebut lah yang menjadi alasan Masda mendirikan sekolah umum di Yayasan Kasih Tulus pada tahun 2021. Dimana sekarang sudah ada kelas mulai dari taman kanak-kanak hingga sekolah menengah pertama.Yayasan ini awalnya hanya untuk anak-anak dengan HIV AIDS, namun seiring berjalannya waktu, sekolah ini terbuka untuk umum, beberapa siswa berasal dari luas yayasan.
“Saya sudah lihat bagaimana kehidupan anak-anak ini saya sudah lihat bagaimana mereka diperlakukan,” tutur Masda.
Masda berkata, jika ditanya setiap keluarga yang mengalami seperti ini, tidak satu pun keluarga berani menaruh cita-cita kepada mereka.
“Nggak ada yang berani mimpi, bercita-cita juga nggak berani, bahkan banyak anak yang tidak bersekolah. Jadi kalo ditanya motivasi saya pengen besar sekali kerinduan saya supaya anak-anak ini tidak dibedakan dengan anak-anak lain, yang juga pasti mengalami sakit tertentu karena tidak ada perbedaan mereka,” tuturnya.
Kasih sayang dan tulus Masda kepada anak dengan HIV AIDS tak pernah pudar. Semoga aksi nyata Masda ini dapat membuka hati nurani orang lain untuk lebih peduli terhadap anak dengan HIV AIDS, agar tidak ada diskriminasi lagi kepada mereka.
#dewanpers #anugerahdewanpers2023
