HMJ Pendidikan Sejarah Unimed Gelar Seminar “Buruh dalam Lintasan Sejarah Indonesia”
Medan, Persma Kreatif– Mahasiswa Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Negeri Medan (Unimed) menggelar seminar bertema “Buruh dalam Lintasan Sejarah Indonesia” di Gedung Audiovisual Pendidikan Sejarah, Unimed, Selasa (19/5/2026).
Seminar yang diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Buruh Internasional atau May Day ini diinisiasi oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Pendidikan Sejarah sebagai bentuk refleksi akademik terhadap persoalan buruh yang masih relevan hingga saat ini.
Ketua HMJ Pendidikan Sejarah sekaligus Ketua Panitia, Maulana Ramadhan Silalahi, mengatakan seminar tersebut dilatarbelakangi oleh momentum bulan Mei sebagai bulan yang identik dengan perjuangan kaum buruh.
“Sebagai mahasiswa, kita harus peka terhadap isu sosial, termasuk persoalan buruh. Melalui seminar ini, kami ingin membagikan pengetahuan mengenai konteks sejarah dan historiografi buruh agar mahasiswa memiliki pemikiran yang lebih kritis,” ujarnya.
Menurut Maulana, seminar ini difokuskan kepada mahasiswa, khususnya mahasiswa Pendidikan Sejarah karena mereka nantinya akan memasuki dunia kerja dan berpotensi menjadi bagian dari kelas pekerja.
“Suatu saat mahasiswa akan menjadi pekerja, bahkan mungkin pemilik modal atau pemegang kekuasaan. Karena itu, pemahaman terhadap historiografi buruh menjadi bekal penting dalam memandang dunia kerja secara kritis,” ujarnya
Pemateri seminar, Putri Atikah, menjelaskan bahwa kondisi pekerja di Indonesia saat ini masih menghadapi berbagai kerentanan.
“Pekerja saat ini mengalami kondisi yang disebut prekariat, yaitu sudah bekerja keras tetapi hidup tetap pas-pasan dan sulit naik kelas,” ujarnya.
Menurutnya, persoalan utama yang dihadapi buruh saat ini meliputi sulitnya kondisi kerja, kesejahteraan yang tidak meningkat seiring naiknya kebutuhan hidup, ancaman PHK, hingga keterbatasan ruang berserikat.
Putri menegaskan bahwa mahasiswa perlu memahami isu buruh karena gerakan sipil berjalan paralel dengan perjuangan kaum pekerja.
“Mahasiswa sebagai bagian dari masyarakat sipil punya peran penting untuk mendorong gerakan buruh dan membangun kesadaran kritis terhadap isu politik serta sosial,” tegasnya.
Pada awal kegiatan ini, seminar sempat kurang mendapat antusiasme dari mahasiswa yang lebih mengharapkan program kerja berupa perlombaan atau hiburan. Namun, antusiasme peserta meningkat setelah pemateri mulai menyampaikan materi.
Hal ini terlihat dari keaktifan peserta selama seminar berlangsung. Tercatat terdapat enam pertanyaan kritis yang diajukan peserta pada sesi diskusi, serta audiens tampak antusias saat penampilan puisi bertema perjuangan buruh.
Salah satu peserta seminar, Ramlan Anri Sianturi, menilai seminar tersebut sangat relevan dengan kondisi saat ini.
“Ketidakadilan yang dialami buruh hari ini bisa saja kita alami di masa depan jika kita tidak ikut mengawasi dan memperjuangkan perubahan,” katanya.
Ramlan berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara rutin karena dinilai mampu meningkatkan kesadaran mahasiswa terhadap isu kesejahteraan pekerja.
Pendapat serupa juga disampaikan peserta lainnya, Gilbert Siahaan, menyampaikan bahwa seminar ini penting untuk membangun kesadaran mahasiswa terkait gerakan buruh.
“Gerakan buruh saat ini mudah disusupi kepentingan politik. Karena itu, mahasiswa perlu memiliki kesadaran bahwa perjuangan buruh sangat penting bagi kesejahteraan masyarakat di masa depan,” jelasnya.
Ia mengaku mendapatkan banyak wawasan baru, terutama mengenai kondisi historis buruh perempuan pada masa kolonial serta bagaimana negara kerap melakukan kooptasi terhadap gerakan buruh.
Melalui seminar ini, panitia berharap mahasiswa semakin peka terhadap lingkungan sosial, lebih kritis dalam menyikapi persoalan negara, serta mampu menuangkan gagasan mereka melalui tulisan maupun gerakan intelektual.
Meski belum dipastikan menjadi agenda tahunan, seminar ini disebut sebagai bagian dari program kerja kepengurusan saat ini untuk melatih pola pikir kritis mahasiswa Pendidikan Sejarah.
“Harapannya, mahasiswa tidak hanya memahami sejarah, tetapi juga mampu merefleksikannya dalam kehidupan sosial saat ini,” tutup Maulana.
