Tiga Bulan Pascabencana di Sumatera: Warga Masih Jalani Ramadan di Tenda dan Menanti Hunian Tetap
Medan, Persma Kreatif – Tiga bulan setelah banjir dan tanah longsor melanda sejumlah wilayah di Aceh dan Sumatera Utara pada akhir 2025, sebagian warga terdampak masih menjalani Ramadan 2026 di tenda pengungsian tanpa kepastian hunian tetap.
Berdasarkan laporan yang dilansir dari BBC News Indonesia, Pemerintah Aceh meminta pemerintah pusat mempercepat pembangunan hunian tetap (Huntap) bagi para korban banjir dan longsor. Pemerintah daerah juga mengusulkan agar pembangunan hunian sementara (Huntara) dapat langsung dialihkan menjadi hunian tetap guna mempercepat proses rehabilitasi.
Sejumlah warga di Aceh Utara dan Aceh Tengah dilaporkan masih tinggal di tenda darurat dengan fasilitas terbatas. Sebagian penyintas belum memperoleh Huntara maupun Huntap.
Salah satu penyintas di Aceh Tengah, Salomah Inen Ali (48), mempertanyakan lambannya pembangunan hunian di wilayahnya. Ia menyebut desa lain telah mendapatkan fasilitas Huntara, sementara desanya belum tersentuh pembangunan.
Situasi serupa juga terjadi di sejumlah titik pengungsian di Sumatera Utara. Berdasarkan laporan InfoPublik, pemerintah mempercepat pembangunan Huntap melalui skema terpusat dalam satu kawasan, dengan dukungan kolaborasi antara pemerintah daerah dan sektor swasta. Pemerintah provinsi bahkan menargetkan percepatan relokasi pengungsi sebelum Idul Fitri.
Meski demikian, realisasi di lapangan masih menghadapi sejumlah tantangan. Banyak warga yang masih menjalani aktivitas sehari-hari di bawah tenda dengan akses air bersih dan sanitasi yang terbatas. Ruang tinggal yang sempit menjadi persoalan tambahan, terutama saat menjalankan ibadah puasa dan mempersiapkan sahur maupun berbuka.
Banjir dan longsor yang terjadi pada akhir tahun lalu menyebabkan ribuan rumah rusak dan memaksa warga mengungsi dalam jumlah besar. Selain kehilangan tempat tinggal, sebagian warga juga kehilangan sumber mata pencaharian akibat lahan pertanian terendam dan usaha kecil yang belum dapat kembali beroperasi.
Memasuki bulan Ramadan, harapan penyintas semakin menguat agar pembangunan Huntara maupun Huntap segera direalisasikan.
Bagi mereka, pemulihan pascabencana tidak hanya berarti surutnya air dan berakhirnya longsor, tetapi juga kepastian tempat tinggal yang aman dan layak sebelum Hari Raya Idul Fitri tiba.
Tiga bulan pascabencana menunjukkan bahwa proses rehabilitasi masih menjadi pekerjaan besar bagi pemerintah pusat dan daerah. Sementara pembangunan terus berjalan, warga terdampak tetap menanti kepastian untuk kembali menata kehidupan mereka secara lebih stabil.
