Menelusuri Kampung Madras: India Kecil yang Hidup di Tengah Kota Medan
Medan, Persma Kreatif – Ramainya kendaraan yang saling bersahutan, tak membuat tungkai itu berhenti untuk terus melangkah. Tepat setelah melewati gapura yang bertuliskan Little India, suasana kawasan perlahan berubah. Di antara deretan pertokoan, sebuah bangunan berwarna cerah berdiri kokoh dengan pagar tinggi. Ia tak mencolokkan diri, tetapi kehadirannya sulit untuk diabaikan. Di sanalah Kuil Sri Mariamman berdiri menyimpan nilai sejarah.
Usianya telah mencapai satu abad, berdiri sejak tahun 1884, menjadikannya kuil Hindu tertua di Kota Medan. Sejarahnya lebih banyak hidup melalui cerita lisan, dituturkan dari mulut ke mulut oleh para tetua, pendeta, serta pengurus yang silih berganti menjaga tempat ini.
Saat itu, kuil bukan sekadar ruang ibadah. Ia menjadi tempat bertahan, ruang untuk menautkan keyakinan, identitas, serta rasa pulang di tanah yang asing. Dari sinilah komunitas itu tumbuh, mengakar dengan apik, membentuk sebuah wajah dari Kampung Madras yang kita kenal hingga detik ini.
Memasuki area kuil, alas kaki turut dilepaskan, sepatu dan sandal dengan bermacam warna dan jenis disusun rapi di rak-rak kayu. Ketentuan berpakaian pun diterapkan tertutup dan sopan, menjadi penanda bahwa tindakan sederhana ini bukan sekadar aturan, melainkan bagian dari ruang penghormatan.
Interior yang penuh warna-warna cerah seperti merah, kuning emas, serta hijau zamrud justru menjadi ciri khas dari kuil tersebut. Patung-patung dewa dan dewi Hindu berjejer menghiasi setiap sudut bangunan, dilengkapi dengan ornamen hewan sakral, seperti gajah, sapi, singa, dan hewan lainnya. Ukiran bunga teratai suci terpahat indah di dinding batu licin, pilar kokoh, serta atap yang melengkung anggun, menjadikannya bukan hanya hiasan semata, melainkan bentuk dari simbol kemurnian jiwa.
Umat Hindu yang hendak beribadah terlebih dahulu membersihkan diri sebelum melangkah ke area dalam kuil. Doa-doa dipanjatkan di bagian luar, menjadi pengantar sebelum memasuki ruang yang lebih sakral. Sebagian membawa persembahan berupa bunga, buah, dan minuman sebagai wujud penghormatan.
Dupa dan lilin dinyalakan perlahan, menghadirkan aroma khas Hindu yang menyebar lembut. Asap tipisnya menari naik, menyelimuti patung-patung dewa dan dewi yang berdiri dalam keheningan. Sesekali, dentingan lonceng mengalun halus, menambah kekhusyukan suasana doa yang berlangsung.
Bagian terdalam kuil tetap tertutup rapat, tidak diperkenankan untuk dilihat dari jarak dekat. Pembatasan ini bukan sebagai larangan belaka, melainkan sebagai upaya menjaga kekhusyukan umat Hindu yang tengah menjalankan ibadah.
Tak jauh dari kuil, Kampung Madras membuka wajah lainnya. Sederet pertokoan berdiri rapat, sisi demi sisi saling berdampingan. Etalase kecil memajang pernak-pernik khas India, gelang berwarna cerah, kalung berlapis emas dan perak, kain sari bermotif rumit, hingga cendera mata lainnya yang tersusun sangat elok. Di sela-sela kedai aroma rempah semerbak menyapa indera penciuman, kari kental berwarna jingga, nasi briyani yang harum, hingga roti canai yang dipanggang di atas wajan besi, cukup untuk mengundang siapa pun berhenti sejenak.
Dari aroma dupa hingga semerbak rempah, diliputi doa-doa lirih hingga riuhnya pertokoan, Kampung Madras menjadi ruang keyakinan dan tradisi yang hidup dalam keseharian masyarakat. Di tengah arus modernisasi, kawasan ini tetap mempertahankan identitas budayanya.
