Share

Libur Akhir Tahun, Yogyakarta Ungguli Bali dalam Minat Wisata

Penulis: Hima & Intan

Ramainya wisatawan yang berkunjung ke Kota Yogyakarta belakangan ini menarik perhatian publik. Jika selama ini Bali menjadi tempat favorit liburan akhir tahun, kini Yogyakarta berhasil menggesernya.

Kota pelajar ini menjadi destinasi favorit wisatawan saat Libur Natal dan Tahun Baru 2025/2026. Lonjakan ini meningkat sebesar 29 persen dibandingkan tahun lalu, hal ini didukung langsung dengan adanya kolaborasi antar situs budaya, kreativitas edukatif, serta bermacam tempat pilihan rekreasi.

Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memprediksi lonjakan kunjungan wisatawan selama periode libur Natal dan Tahun Baru 2025/2026 diperkirakan mencapai 1,5 hingga 1,7 juta orang.

Sementara berdasarkan data Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Yogyakarta, total wisatawan ke DIY selama libur Natal dan Tahun Baru diperkirakan mencapai 9,38 juta orang, dengan sekitar 7 juta di antaranya mengunjungi Kota Yogyakarta. Diperkuat dengan meningkatnya pemesanan penginapan, serta resevarsi transportasi berdasarkan platform layanan perjalanan digital.

Berbanding terbalik dengan situasi yang ada di Bali, menurut informasi dari anggota Asosiasi Penyewaan dan Manajemen Vila Bali (BVRMA), tingkat hunian vila selama jangka waktu yang sama hanya sekitar 55-60 persen, lebih rendah dibandingkan dengan periode Libur Natal dan Tahun Baru 2024 yang mencapai sekitar 65 persen.

Gubernur Bali I Wayan Koster mengakui bahwa ada penurunan jumlah wisatawan yang datang ke Pulau Dewata menjelang Natal dan Tahun Baru 2025/2026. Penurunan ini dirasakan secara langsung oleh pelaku industri pariwisata, seiring dengan fakta bahwa Bali kini turun dari posisi pertama ke posisi kedua dalam daftar destinasi liburan keluarga tahun ini.

Antusiasme wisatawan tampak memadati sejumlah kawasan wisata, salah satunya kawasan Malioboro yang menjadi pusat ikonik Kota Yogyakarta. Sejumlah media mengunggah kondisi kawasan tersebut dipenuhi wisatawan yang berjalan kaki menyusuri trotoar, serta menikmati suasana sekitar sambil berfoto-foto dan berbelanja.

Tidak hanya kawasan Malioboro, sejumlah titik lain di Yogyakarta juga turut dipadati pengunjung, seperti kawasan Titik Nol Kilometer, Tugu Jogja, Gunung Kidul hingga berbagai destinasi wisata lainnya. Kepadatan wisatawan ini terlihat sejak pagi hingga malam hari, seiring meningkatnya aktivitas liburan.

Peralihan tren destinasi liburan ini tidak terjadi tanpa sebab. Sejumlah faktor menjadi pendorong mengapa Yogyakarta kini lebih diminati dibandingkan Bali sebagai tujuan utama liburan akhir tahun. Beberapa faktor yang mempengaruhi diantaranya adalah Jogja menawarkan biaya liburan yang lebih murah dan mudah dijangkau. Dengan kereta api, bus, atau mobil pribadi, wisatawan domestik tidak perlu mengeluarkan biaya tiket pesawat yang mahal seperti ke Bali. Sebaliknya Bali sering kali dianggap lebih mahal, terutama dengan kenaikan harga akomodasi dan transportasi pasca-pandemi.

Jogja pula unggul dalam wisata budaya, edukatif, dan ramah anak, seperti Malioboro, dan keraton. Ini membuatnya ideal untuk liburan keluarga. Bali, meski indah dengan pantai dan alamnya, lebih difokuskan pada wisata relaksasi dan petualangan yang mungkin kurang cocok untuk keluarga dengan anak kecil atau anggaran terbatas. Berita mengenai beberapa wilayah Bali yang mengalami banjir, juga menjadi salah satu faktor mengapa kunjungan ke Bali menurun. Desember 2025, Bali dilanda banjir parah di wilayah selatan seperti Badung, Denpasar, Gianyar, dan Karangasem akibat curah hujan lebat dan bibit siklon tropis 93S. Banjir merendam kawasan wisata Kuta, Legian, Kerobokan; menutup jalan, dan mengganggu aktivitas. Bahkan satu orang WN Rusia dilaporkan meninggal dunia akibat terseret arus banjir saat nekat menerobos genangan air. Sementara Jogja dianggap lebih aman dari faktor cuaca ekstrem yang banyak terjadi di berbagai daerah Indonesia.

Persepsi bahwa Bali lebih mengutamakan turis asing daripada domestik sudah lama mengakar. Banyak cerita viral di media sosial dan forum seperti Reddit atau Quora tentang pelayanan beda: rental motor, kafe, resto menolak turis lokal atau perlakukan kurang baik, sementara bule diprioritaskan. Isu ini kembali ramai di media sosial seiring kabar mengenai pariwisata Bali yang dilaporkan lebih sepi di musim liburan tahun ini. Sejumlah pengalaman kurang menyenangkan yang dibagikan warganet saat berwisata ke Bali ramai muncul di kolom komentar media sosial, mulai dari diabaikan oleh pelayan hingga penolakan masuk ke tempat hiburan malam.

Sikap diskriminatif yang diduga dilakukan oknum pelaku pariwisata tersebut menjadi perhatian serius bagi wisatawan domestik. Meski Pemerintah Provinsi Bali membantah adanya kebijakan yang bersifat rasis, sentimen negatif ini mendorong banyak keluarga Indonesia beralih memilih Yogyakarta yang dinilai lebih ramah dan inklusif.

Pergeseran arus wisata dari Bali ke Jogja sepanjang liburan akhir tahun 2025 mencerminkan perubahan selera wisatawan domestik ke destinasi yang menawarkan biaya lebih terjangkau, kekayaan budaya, serta suasana yang ramah bagi keluarga. Di sisi lain, Bali tetap mencatatkan kekuatan dari sisi total kunjungan tahunan berkat dominasi wisatawan mancanegara, sementara Yogyakarta dinilai sukses memanfaatkan momentum liburan nasional dengan optimal.

You may also like