Share

Hati Terasa Gusar, Menanti Kabar dari Kampung yang Terendam

Medan, Persma Kreatif — Pada pagi hari, kabar buruk datang menghampiri lewat sebuah story di WhatsApp. Dalam rekaman video itu, air keruh tampak menggenangi rumah nenek, harap-harap cemas menghampiri. Di tengah kegundahan itu, Dinda berharap rumah nya yang terletak lebih tinggi dari rumah nenek tidak terkena banjir.

Satu jam, dua jam menunggu kabar dari rumah. Ia masih berfikir bahwa mungkin saja jaringan sedang buruk yang mengakibatkan ia tidak bisa menghubungi orang rumah.

Namun, keyakinannya mulai runtuh ketika sebuah video beredar di sosial media. Air terlihat cokelat pekat, tinggi, dan mengalir deras. Dari rekaman tersebut, terlihat di sekitar rumah gelondongan kayu hanyut terbawa arus. Dinda menatap layar tanpa berkedip, rumah yang menjadi tempatnya pulang, kini sudah terkepung air dan kayu-kayu besar.

Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Tapanuli Tengah pada akhir November itu membuat banyak sekali kekacauan. Akses jalan terputus dan komunikasi lumpuh total. Beberapa daerah dilaporkan terisolasi berhari-hari akibat luapan sungai dan tanah longsor di titik-titik tertentu.

Sejak hari itu, kabar benar-benar putus. Jaringan hilang, tidak ada telepon masuk dan tidak ada pesan dari orang tersayang. Berhari-hari, ia hanya bisa menunggu di perantauan sambil tetap merapalkan doa agar keluarganya tetap sehat di sana.

“Aku tidak bisa berbuat apa-apa selain menunggu informasi lewat sosial media,” ucapnya

Dalam penantian panjang itu, pikirannya membayangkan air yang mungkin belum surut, malam-malam tanpa listrik, dan kota menjadi gelap gulita. Tidak ada kabar berarti tidak ada kepastian. Setiap kemungkinan yang terlintas, baik maupun buruk keduanya sama-sama melelahkan.

Hingga hari yang dinantikan pun tiba, akhirnya ia berhasil menghubungi keluar. Suara mereka di seberang telepon terdengar tenang, meski saya tahu situasinya tak setenang suara itu. Ada getaran lega di dadanya, tapi juga rasa cemas yang tak sepenuhnya hilang.

“Di sini semuanya baik-baik saja, jangan khawatir ya Boru,” kata mereka.

Banjir di Tapanuli Tengah bukan hanya merendam rumah dan jalanan. Namun, juga memutuskan kabar, memperpanjang rasa cemas, dan mengajarkan Dinda arti menunggu dalam diam.

Kata “Halo” yang begitu sederhana, kini justru menjadi bunyi yang paling dirindukan. Dalam jeda tanpa sinyal itu, Dinda belajar bahwa jarak bukan sekadar kilometer, tapi juga ketidakmampuan untuk memastikan orang-orang yang kita sayangi berada dalam situasi aman. Karena, jarak sejauh apapun tak pernah terasa jauh ketika kita tak bisa saling menyapa.

You may also like