Horas Jala Gabe Ma di Hita Saluhutna
“Jauh kali, lah aku yang marjalang ini.” Gumam Sondang pelan dengan tarikan napas yang kasar. Meski tidak mendengar Sondang dengan jelas, Erling bisa melihat kerinduan akan kampung halaman melalui gestur istrinya. Dari belakang Erling maju ke arah istrinya. Matanya mengikuti kemana Sondang melayangkan pandang. Di depannya tampak hamparan salju putih yang sangat luas dengan pohon-pohon pinus yang telah meranggas dan kini terbungkus es. Berbeda sekali dengan Samosir, tanah kelahiran Sondang.
“Maaf belum bisa membawamu kesana, Baby,” ujar Erlang.
“Kau selalu bisa baca pikiranku. Iya, tak apa. Akupun sadar bukan perkara mudah untuk terbang ke sana saat ini,” sahut Sondang.
Sondang menggenggam jemari suaminya. Ini tidak terlalu buruk, setidaknya masih ada suami yang selalu menemaninya. Sudah delapan tahun sejak terakhir kali ia menghirup aroma tanah Samosir, mendengar kecipak air Danau Toba yang menghantam bebatuan, atau sekadar merasakan terik matahari siang yang tidak pernah ia dapatkan di Norwegia.
Kerinduan itu datang lagi pagi ini. Tanpa diundang, tanpa diminta, datang lebih berat dari biasanya. Ia membuka jurnal perjalanan anak yang ia siapkan jika pulang nantinya, jurnal berisi kegiatan atau aktivitas yang dapat diisi sesuai destinasi yang mereka kunjungi. Sondang membuatnya sendiri agar Gabe, anaknya dapat dengan mudah mempelajari budaya Batak. Tertulis “Gabe Erlingsen’s Samosir Journey: Exploring the Heart of Lake Toba” pada halaman depannya. Sondang mengusap pelan jurnal berdebu itu. Ia masih ingat sekali setiap detail yang ia bubuhkan pada lembarannya. Entah kapan jurnal itu bisa terisi.
“Apa itu, Mama?” Tanya Gabe.
“Eh, sudah bangun?” Erling segera menyadari kehadiran putranya. Sondang langsung mengusap air matanya yang sempat terjatuh.
“Mau lihat?” Ujar Sondang seraya mengangkat Gabe ke pangkuannya.
“Gabe tahu dari mana Mama berasal?”
“Indonesia,” jawab Gabe singkat.
“Iya. Tapi tepatnya di sini, namanya Samosir.” Sondang menunjukkan sampul jurnal tersebut kepada Gabe. Jemarinya sibuk membuka lembaran-lembaran kertas itu. Di dalamnya Sondang sudah menyiapkan berbagai gambar dan rundown kegiatan berbeda tergantung destinasi yang akan dikunjungi, mungkin. Mata Gabe tertuju pada satu gambar, patung kayu dengan tangan terbuka.
“Tung-Tung Sahur!” Gabe teringat tokoh anomali yang sering muncul di YouTube saat waktunya screentime. Keasbunan Gabe mengundang gelak tawa orang tuanya.
“Bukan Gabe, ini namanya Sigale-gale. Nanti kalau pulang kampung ke rumah Mamma, kita ke sana ya,” Raut wajah Sondang kembali sendu. Melihat itu, Erling terpikir sesuatu.
“Papa ada ide. Gimana kalau kita melihat see – GAAL – eh – GAAL – eh melalui televisi? Kita tinggal mencari video yang tepat, kemudian Gabe bisa pakai jurnalnya, Mama yang jadi tour guide kita, bagaimana?”
“Ah, aku tak tahu harus mulai dari mana,” Sondang kebingungan, ia tak pernah melakukan ini sebelumnya.
“Mulailah dari bagaimana sejarah patung ini, kemudian ajarkan nilai-nilai leluhurmu kepada Gabe. Kamu pandai bercerita, Baby. Lakukan seperti biasa.”
“Iya, Mamma! Aku mau dengar,” dengan antusias Gabe meraih jurnal dari tangan ibunya.
“Hahaha, baiklah. Hm, dari mana aku harus mulai ya?” Gabe berpikir.
Sondang tampak mengitari area ruang keluarga untuk mencari remote, kemudian mulai mengetikkan sesuatu di sana. Dapat. Sondang memilih sebuah video. Di layar televisi, terpampang sebuah pertunjukan Sigale-gale berlatar rumah adat Batak yang megah. Patung kayu seukuran manusia itu mengenakan ulos ragi hotang yang melilit badannya, kepalanya dihiasi topi berbentuk tanduk kerbau, lengkap dengan aksesoris logam yang berkilauan terkena cahaya matahari Samosir yang terik. Beberapa pria di belakang patung tampak lincah menarik tali-tali yang menggerakkan persendian patung. Suara gondang sabangunan yang lahir dari perpaduan drum, gong, dan serunai yang dinamis menggema memenuhi ruang keluarga mereka yang hangat di Norwegia.
Sondang menarik napas dalam-dalam, momen ini terasa aneh baginya. Erling memang selalu mengeluarkan ide diluar prediksi. Baiklah, ini saatnya mengenalkan kepada Gabe kearifan lokal tanah kelahirannya.
Sondang tersenyum menatap Gabe yang sedang melongo.
“Horas!” Hening. Erling dan Gabe saling bertatapan dengan bingung. Sondang menggelengkan kepala, teringat mereka belum pernah mendengar ungkapan itu.
“Kalau Mama bilang Horas, kalian jawab Horas juga dengan semangat, harus semangat! Kita coba lagi ya, Horas!” Sahut Sondang.
“Horas!” Ujar mereka serempak.
“Tapi, apa artinya, Mama?” Tanya Gabe.
“Pertanyaan bagus. Horas adalah ucapan salamnya orang Batak, Horas juga bentuk doa keselamatan, makanya harus disambut dengan antusias, paham ya!” Jawab Sondang.
“Baiklah, tourists, sambutan hangat dari Samosir! Saya pemandu wisata kalian, Mama Sondang,” lanjutnya.
“Teman-teman, patung ini adalah Sigale-gale. Ceritanya berawal dari seorang raja Batak yang sangat mencintai putra tunggalnya yang bernama Manggale.”
Mendengar penjelasan ibunya, Gabe segera mengisi jurnal perjalanannya. Dimulai dari mengisi nama dari sosok di balik patung tersebut, kemudian ia mencocokkan gambar yang telah dimuat ke dalam jurnal dengan pertunjukan di televisi. Semuanya sangat informatif dan sarat makna.
“Namun, Manggale gugur dalam medan perang, dan Sang Raja pun jatuh sakit karena kesedihan yang mendalam. Para penasihat istana kemudian mengusulkan ide untuk membuat patung kayu yang sangat mirip dengan Manggale untuk mengobati kerinduan sang Ayah. Mereka memahat patung ini dari pohon pilihan, menghiasinya, dan bahkan memanggil roh Manggale agar masuk ke dalam patung itu melalui ritual khusus, agar patung ini bisa manortor atau menari bersama Sang Raja untuk yang terakhir kalinya,” Sondang menjelaskan dengan sangat baik, jari-jemarinya menunjuk ke arah layar, seolah-olah ia sedang berdiri di depan ratusan wisatawan. Ia juga memperagakan gerakan dasar manortor yang disambut antusias oleh anak dan suaminya. Satu persatu pengetahuan baru memenuhi kepala Gabe selaras dengan jurnal perjalanan itu.
“Nilai-nilai yang terkandung di dalam kisah ini adalah betapa kuatnya cinta seorang ayah kepada anaknya, Gabe. Selain itu, patung ini adalah wujud penghormatan leluhur kita kepada mereka yang telah mendahului kita. Kita melestarikannya bukan hanya sebagai pertunjukan budaya, tetapi untuk menjaga sejarah dan jati diri kita. Gabe, agar kau dan anak-anakmu kelak tetap tahu dari mana akar budaya Mama berasal, dan betapa kayanya tradisi kita,” jelas Sondang panjang lebar.
Saat Sondang sedang asyik-asyiknya menjelaskan, suara gondang yang tadinya keluar dari speaker televisi terdengar semakin nyata, seolah-olah sumbernya ada di sekeliling mereka. Udara di ruang tamu terasa lebih hangat, ada aroma tanah dan kopi yang khas. Tiba-tiba, hamparan salju di luar jendela berubah menjadi pemandangan Danau Toba yang biru berkilau di bawah terik matahari. Sondang, Erling, dan Gabe saling berpandangan dengan tatapan tak percaya, seolah-olah mereka telah ditarik masuk ke dalam layar televisi itu sendiri.
Sondang terkesima, tangannya gemetar ketika ia mendapati dirinya benar-benar berdiri di atas tanah Samosir, di hadapan patung Sigale-gale yang sedang menari lincah.
“Ba-bagaimana bisa? Tadi aku sedang menjelaskan di depan televisi, Baby kita di kampungku!”
“Wow,” Erling takjub melihat keindahan alam Samosir yang indah. Ini juga merupakan bagian dari impiannya.
Rasa hangat dan aroma kampung halamannya terasa begitu nyata. Ia melanjutkan tur pemandunya, kali ini dengan semangat yang berlipat ganda, menunjukkan setiap detail patung, menjelaskan makna gerakan tariannya, dan menyapa beberapa ‘warga lokal’ dengan ramah.
“Gabe, ini manortor yang Mamma sebutkan tadi. Gerakan menyatukan tangan adalah simbol penghormatan kepada Tuhan, leluhur, dan sesama. Mari manortor bersama.”
Sondang menari dengan lepas, inilah dirinya. Perempuan Batak yang tidak melupakan leluhurnya. Sondang dan Gabe begitu antusias menari bersama kerumunan orang-orang di pertunjukan itu. Ia merentangkan tangannya, menirukan gerakan tarian gondang, lalu berteriak sekuat tenaga mengikuti para penari yang lain.
“Horas! Horas!” Semuanya menari membentuk lingkaran.
Gabe begitu bersemangat. Ia mengucapkan Horas sambil melompat-lompat. Hingga akhirnya,
Bruk! Gabe terjatuh dari sofa.
“Gabe!” Erling refleks bangkit membantu anaknya berdiri.
Ternyata Gabe hanya menghayal. Seketika itu juga, pemandangan Danau Toba di televisi kembali menjadi rekaman video pertunjukan biasa. Gabe tersentak, lalu duduk kembali di sofa dengan wajah malu, disusul tawa renyah Erling. Sondang menggelengkan kepala melihat tingkah putranya. Tak terasa, penjelasan Sondang sudah selesai, begitupun jurnal Gabe. Gabe dan Erling belajar banyak hari ini, tentang bagaimana leluhur Batak mewariskan nilai-nilai juga tentang bagaimana cinta seorang ayah yang rela melakukan apa saja demi melepaskan kerinduan terhadap anak yang disayanginya.
“Seru sekali, Baby. Kau melakukannya dengan baik, aku akan bekerja keras agar kita bisa segera terbang ke Samosir,” ujar Erlang.
“Dan mengatakan Horas kepada semua orang di sana,” sambung Gabe yang disambut tawa oleh kedua orang tuanya.
Sondang merapikan halaman-halaman jurnal di pangkuan Gabe, mengelus sampulnya yang kini tak lagi sekadar kertas dingin. Ada jarak ribuan kilometer dan bentangan samudra yang memisahkannya dari tanah kelahiran. Namun pagi itu, di balik kerinduan yang bertahun-tahun merayap perih, Sondang menyadari satu hal: rumah bukanlah semata tentang koordinat di atas peta. Rumah hidup di dalam cerita yang kita tuturkan, pada petikan sejarah yang kita teruskan, dan pada cara kita memeluk asal-usul di mana pun kaki berdiri.
Jurnal kecil itu mungkin belum mengumpulkan cap paspor atau debu bebatuan Samosir yang asli. Tetapi di dalam lembarannya, akar seorang anak telah tertanam, menjangkau jauh melintasi es dan benua, pulang ke tempat ia seharusnya bermula.
