Share

Aroma Cinta dari Gorengan Hangus

Di kampung Citaman Jernih, ada warung kecil bernama “Gorengan Enak Gorengan Keanu”. Warung ini terkenal bukan karena rasanya yang enak, tapi karena gorengannya selalu gosong. Namun, meski gorengannya sering hitam legam, pelanggan tetap berdatangan. Mereka datang bukan untuk makan, melainkan untuk mendengar celotehan lucu si Keanu, pemuda pemilik warung itu, yang selalu punya cerita unik untuk dibagikan. Inilah yang membuat warung gorengan si Keanu banyak peminat.

Keanu adalah pria berusia 22 tahun yang tidak terlalu tampan, tetapi humornya bisa membuat siapa saja tertawa. Ia sering berkata,“Kalo hidupmu terlalu serius, makan gorengan gosong di sini. Biar gosongnya nyedot kesedihanmu!” Ujar Keanu.

Walau orang tertawa, sebagian besar hanya membeli sekali, lalu tak pernah kembali kecuali penduduk setempat yang sudah kebal.

Suatu hari, seorang gadis bernama Lala muncul di warung itu. Rambutnya tergerai indah, kaos putihnya bersih tanpa noda, dan ia membawa aroma parfum mahal yang jarang tercium di kampung tersebut. Pendatang baru itu memesan bakwan dengan penuh percaya diri, ia belum tau kalau warung tersebut memiliki ciri khas yang agak laen.

Ketika Keanu menyerahkan bakwan, Lala terdiam. Ia memandang bakwan yang lebih mirip batubara, lalu menatap Keanu dengan ekspresi bingung.

“Ini bakwan atau arang?” Tanya Lala sambil mengangkat alis. Setelah itu ia menatap Keanu dengan tajam.

Keanu terkekeh, “Itu keunikan warung kami. Bakwa rasa panggangan spesial. Khusus untuk kamu ini gratis deh,” Keanu mengedipkan matanya pada Lala.

Lala mendengus, tapi ia tak bisa menahan diri untuk tak tersenyum. Sudut bibirnya berkedut seakan ia mau tertawa tetapi gengsi, ada sesuatu tentang Keanu yang membuatnya tertawa, meskipun bakwannya lebih cocok untuk bahan bakar api unggun. Pelanggan lain tertawa mendengar melihat mereka. Lala tidak marah. Ia justru memesan lagi, kali ini meminta Keanu untuk benar-benar memperhatikan gorengannya. Meski kesan pertama Lala terhadap gorengan Keanu buruk, ia menemukan sesuatu yang menarik di balik sosok pria itu.

Sejak hari itu, Lala sering datang ke warung Keanu. Bukan karena ia suka gorengan gosong lelaki itu sih, tapi karena ia suka mengobrol dengan Keanu. Di balik gaya santainya, Keanu adalah pria yang tulus dan humoris. Ia sering bercerita tentang perjuangannya menjaga warung kecilnya, termasuk eksperimennya untuk membuat gorengan yang tak lagi gosong, eksperimen yang sejauh ini selalu gagal.“Aku nggak ngerti, kenapa masih jualan gorengan kalau selalu gosong? Apa nggak pernah dikomen pembeli?” Tanya Lala suatu sore.

Keanu tersenyum, “Aku jualan gorengan bukan untuk buat orang kenyang, tapi untuk buat mereka lupa tentang kalo hidup itu berat. Kalau nggak gosong, nanti mereka nggak punya alasan buat ketawa di sini. Aku udah kayak badut belum karena menghibur orang hahaha,”Lala mendengus kesal, tapi ia tertawa juga. Sejak itu, ia sering mampir ke warung Keanu. Ia bukan hanya menjadi pelanggan setia, tetapi juga penasihat kuliner.

Suatu hari, Lala memutuskan untuk membantu Keanu. Ia datang ke warung membawa resep rahasia keluarganya, lengkap dengan bumbu-bumbu yang tidak biasa. Bersama-sama, mereka mulai mencoba membuat adonan baru. Awalnya, Keanu tetap saja menghanguskan gorengannya, tapi dengan sedikit latihan dan banyak teguran dari Lala, ia akhirnya berhasil membuat gorengan yang sempurna.

“Aku nggak tahan lagi, Ken. Mulai hari ini, aku lah yang ngajari kamu masak,” katanya tegas.

Keanu hanya tertawa, tetapi ia menurut. Mereka mulai membuat adonan bersama, menggoreng dengan hati-hati, dan untuk pertama kalinya dalam sejarah warung Keanu, gorengan yang dihasilkan tidak gosong. Pelanggan yang mencicipinya terkejut.

“Ini enak kali! Apa betul ini dari warung Keanu? Nanti dia pake jampi-jampi,” tanya seorang pelanggan dengan tak percaya.

Keanu mengangguk penuh gaya dan memandang pelanggan itu tidak percaya setelah ia menyelesaikan omongannya, “Ya ampun, kak. Karena aku sering buat gosong kok jadi minim kepercayaan gitu sama aku sih. Semua berkat tangan ajaibku… dan sedikit bantuan dari Lala sih hehe,” ujarnya.

Seiring waktu, warung itu menjadi semakin ramai. Keanu dan Lala menjadi pasangan yang tak terpisahkan, baik dalam menggoreng maupun bercanda. Mereka saling melengkapi seperti Keanu dengan humornya yang membuat suasana selalu ceria, dan Lala dengan ketelitiannya yang menjaga kualitas gorengan tetap prima.

Suatu malam, setelah semua pelanggan pergi, Keanu dan Lala duduk di bangku kayu di depan warung. Hujan rintik-rintik membasahi jalanan kampung.

“Lala,” kata Keanu, suaranya lebih serius dari biasanya.“Ya? Kenapa, Ken?” Lala menoleh kepada Keanu dengan bingung.

“Aku tau aku bukan orang yang sempurna. Gorengan pun nggak selalu berhasil. Tapi aku yakin sama ini,” Keanu berujar dengan ragu, tetapi ia tetap yakin.“Apa itu?” Tanya Lala.

“Aku nggak mau cuman warung ini aja yang kita jalani bersama. Aku mau… hidupku juga berjalan bersamamu,” akhirnya Keanu mengungkapkan sesuatu yang sudah ia pikirkan selama berhari-hari.Lala terdiam, tetapi senyum kecil muncul di bibirnya.

“Ken, kalau kamu serius, janji satu hal. Jangan pernah berhenti membuatku tertawa. Karena itulah yang membuat aku jatuh cinta.”Keanu tertawa kecil, lalu mengangguk. “Janji. Bahkan kalau kita tua nanti, aku bakal bikin gorengan gosong lagi, biar kamu ingat alasan kita bertemu,” Dan sejak itu, warung “Gorengan Enak Gorengan Keanu.” Bukan hanya tempat makan, tetapi juga saksi cinta mereka, cinta yang dimulai dari gorengan gosong.

You may also like