26.6 C
New York

Webinar Eksistensi Bahasa dan Sastra Indonesia di Era Digital

Published:

Medan, Persma Kreatif—Himpunan Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia melaksanakan kegiatan webinar melalui zoom dengan tema “Eksistensi Bahasa dan Sastra Indonesia di Era Digital”. Kegiatan yang dilaksanakan pada Sabtu, (26/03) dihadiri oleh wakil dekan 1 Fakultas Bahasa dan Seni, ketua jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia serta ketua sanggar dengan pemateri Dr.Rosliani M.Hum yaitu seorang peneliti ahli muda balai bahasa dan Titan Sadewo seorang mahasiswa tingkat akhir dan merupakan salah satu aktivis sastra.

Dalam sambutannya wakil dekan 1 FBS menyampaikan besar harapnya agar mahasiswa-mahasiswa UNIMED khususnya mahasiswa bahasa dan sastra Indonesia dapat berperan dalam meng-eksistensikan bahasa dan sastra Indonesia ini pada era digital seperti sekarang.

Dr. Rosliani M.Hum menyampaikan bahwa eksistensi bahasa dinilai dari sikap kita terhadap penggunaan bahasa. Banyak kasus di sekitar yang justru memperlihatkan penurunan nilai eksistensi bahasa Indonesia karena pengaruh bahasa asing. Besarnya jumlah penutur bahasa Indonesia merupakan poin penting untuk menguatkan bahasa. Pemateri pertama itu mengungkapkan salah satu cara meningkatkan eksistensi bahasa secara internasional ialah dengan pengajaran BIPA (Bahasa Indonesia Penutur Asing). Maka dari itu, niat, memulai dan membiasakan penggunaan bahasa Indonesia adalah cara terbaik untuk meningkatkan eksistensi bahasa Indonesia.

Berbeda dengan Dra. Rosliani M.Hum yang berfokus pada eksistensi bahasa, Titan Sadewo memberikan materi yang bertitik pada eksistensi sastra Indonesia. Ia mengemukakan bahwa eksistensi sastra Indonesia di era digital dipengaruhi oleh media sosial yang memicu percampuran bahasa yang tak dapat dihindari dengan segala dampaknya, positif maupun negatif. Publikasi sastra di media sosial tidak selamanya mudah, salah satu kendala ialah respon yang tidak sesuai ekspektasi.
“Untuk itu, seorang penyair/prosais sebaiknya bisa menciptakan ‘kekhasan’ dalam karyanya dan menetapkan prinsip bahwa setiap karya yang dipublikasi semata-mata karena wujud apresiasi”. harapnya

Related articles

Recent articles