27.4 C
New York

Surat Cinta Yang Tidak Pernah Sampai

Published:

Film “Surat dari Praha” adalah film besutan Angga Dwimas Sasongko yang bergenre politik romansa. Film yang rilis pada tahun 2016 ini menggambarkan idealisme tokoh utama yang dulunya merupakan seorang mahasiswa ikatan dinas yang dikirim ke Praha, Ceko pada masa pemerintahan Presiden Soeharto. Film yang berangkat dan diprakarsai oleh peristiwa lahirnya Orde Baru ini banyak mempertegas praktik hegemoni yang cukup pelik pada masa kepemimpinan Soeharto. Namun, film ini tidak semata menjelaskan bagaimana keruhnya situasi rezim di Indonesia. Namun juga di Chekoslovakia, khususnya Praha.

Pada masa perang dingin perseteruan Blok Barat dan Blok Timur menempatkan Indonesia pada persimpangan. tahun 1965 terjadi pergolakan politik paling berdarah sepanjang sejarah Indonesia orang-orang yang dianggap berhaluan kiri dan pendukung Presiden Soekarno disingkirkan. Ratusan mahasiswa ikatan dinas atau MAHID yang dikirim Presiden Soekarno ke Praha di Cekoslovakia dipaksa mengakui pemerintahan baru yang menamakan dirinya orde baru.

Film ini bermula saat Laras ingin mendapatkan wasiat dari ibunya. Namun untuk mendapatkan wasiat itu tidaklah mudah. Sulastri menyuruh anaknya itu agar mengantarkan suatu kotak berisi surat-surat ke Praha, tempat dimana mantan tunangannya menetap dan tak bisa pulang ke Indonesia karena kebijakan masa pemerintahan orde baru yang membuatnya sebagai seorang eksil. Isi surat itu salah satunya adalah surat yang dikirim Jaya kepada Sulastri yang menceritakan pertumpahan dan pergerakan mahasiswa yang sempat chaos dengan aparat keamanan. Surat tersebut membuat Laras tersadar bahwa Jaya merupakan simpatisan komunis. Namun, berdasarkan pengakuan Jaya pada dialog dalam film ini, ia berkalikali menyebut bahwa ia sangat membenci masa pemerintahan orde baru. Atas keputusannya menolak Soeharto, ia menjadi seorang eksil dan tidak memiliki status kewarganegaraan dan tak bisa kembali ke tanah air. Tapi, ia bukan komunis.
Hegemoni masa pemerintahan orde baru dalam film ini direpresentasikan cukup lugas. Dialog yang tersaji juga mengandung kritikan-kritikan pedas pada Presiden Soeharto. Film ini tak hanya menceritakan bagaimana kisah romantis antara Jaya dan Sulastri, tapi juga banyak menceritakan sakitnya menjadi seorang eksil di masa orde baru.

“Ketika saya di Praha, saya berjanji kepada ibumu. Saya akan segera kembali dan menikahinya, itu janji saya yang pertama. Yang kedua saya akan mencintai dia selama-lamanya. Namun, nasib mengizinkan saya hanya menepati yang kedua.”

Dialog di atas merupakan kekecewaan yang diucapkan ke sekian kalinya oleh Jaya, seperti yang dijelaskan pada data sebelumnya. Kalimat penuh nilai romansa ini sejujurnya juga memiliki nilai kesedihan dan bentuk praktik hegemoni pemerintah Orde Baru terhadap Jaya. Jaya telah berjanji dua hal kepada Sulastri. Bahwa dia akan menikahi Sulastri, dan yang kedua Jaya akan mencintai Sulastri selama-lamanya. Namun, nasib dan keadaan membuat Jaya hanya dapat memenuhi janji yang kedua. Itu artinya, keputusannya yang menolak Soeharto hingga mengharuskan ia hilang kewarganegaraan membuatnya gagal menikah dengan Sulastri, seperti janjinya yang pertama tadi.

Elvrida

admin
adminhttp://persmakreatif.com
Hai, ini saya Admin Persma Kreatif. Apakah kamu punya Pertanyaan dan Saran? Biarkan saya tau!, Kirimkan ke Email kami perskreatiftim@gmail.com atau Melalui Intagram @Persmakreatif

Related articles

Recent articles