27.4 C
New York

Sexual predator, dorr!

Published:

Football lovers di manapun berada mungkin tengah merintih resah. Pasalnya, 5 liga top Eropa sedang menghentikan langkah di tengah pandemi Corona. Ada yang menunggu scudetto, menunggu Barcelona angkat trofi atau drama tikung menikung oleh Los Blancos, menunggu Bayern Munchen yang (sudah dapat ditebak) akan angkat trofi kembali, atau jangan memaksa tulisan ini untuk mempersoalkan bagaimana Liverpooldian masih setia menunggu The Reds angkat trofi setelah 30 tahun paceklik di tanah Inggris (eh, giliran mau angkat trofi Corona menghampiri) nasibmu, Pul Pul. Untuk suporter Arsenal dan AC Milan bagaimana? Sudahlah, tahun-tahun depan lagi saja. Ini bukan tahun kalian di Champions dan liga domestik, gaes. Jangan bandal, deh!
Berbicara soal bola, nih. Segala macam tragedi juga banyak terjadi, loh. Emang di jagat politik saja yang banyak kontroversi? Di sepak bola pun juga ada, Gunawan! Ada yang saling sinis, ada yang krisis, ada yang rasis, dan bahkan ada yang seksis. Masih ingat nggak celotehan komentator bocor-bocor longor yang mengatakan “ada yang menonjol, tapi bukan bakat” saat pertandingan sepak bola perempuan di Indonesia? Tentu masih ingatlah, ya. Bagaimana tidak, jokes nan seksis tersebut justru menjadi konformitas serius. Buka Instagram sedikit captionnya seperti itu, buka Twitter pun demikian, apalagi Pesbuk, hadeuh. Anehnya banyak orang yang mengonsumsi jokes tersebut tanpa diukur oleh kecerdasan berpikir. Beberapa dari mereka menganggap bahwa hal tersebut adalah murni dari sebuah jokes tanpa memikirkan ada basis seksis dan patriarki di dalamnya. Lah, bagaimana tidak? Wong jokes tersebut menjurus pada salah satu bagian tubuh pesepak bola perempuan, kok. Dan lucunya nih, orang-orang menganggap hal tersebut sebagai lucu-lucuan. Tolol nggak, tuh? Namun, jika ada seseorang yang mempersoalkan jokes tersebut dan menganggap jokes tersebut seksis (sama seperti gugatan tulisan ini), justru dianggap memiliki selera humor yang rendah oleh mereka. Lah, emang definisi “selera humor yang rendah” itu bagaimana, sih? Emang jokes seksis atau jokes yang mengalami reduksi moral tidak dikatakan sebagai “jokes murahan” apa? Sungguh murahan bahkan. Kampret banget sih lu jadi orang. Ngomong kadang suka nggak pake otak. “duh ada yang dungu nih, tapi bukan keledai”.

Kadang masyarakat memang sering begitu. Beberapa masyarakat sering memasukkan suatu keburukan ke dalam perilaku sosial dengan dalih hal tersebut adalah justifikasi dari perilaku masyarakat normal. Itu adalah momen yang paling lucu untuk dijadikan sebuah candaan. Namun mengenaskannya, orang-orang melakukan hal-hal lucu sebagai attitude mereka. Berbicara soal seksis, tentu tak luput pula pada pelecehan seksual. Pelecehan seksual akan tetap dikatakan sebagai suatu pelecehan meskipun dalam entitas keterwakilan atau entitas representasi yang relatif kecil (meskipun berpengaruh pada perilaku maupun moralitas yang besar). Katakan saja kasus catcalling. Banyak orang-orang mengira bahwa catcalling murni sebagai suatu sapaan atau cara menarik atensi terhadap lawan jenis, namun beberapa dari masyarakat tak memeras otaknya sebanyak tiga belas kali bahwa catcalling merupakan suatu pelecehan seksual berbasis verbal (tak peduli apakah korbannya laki-laki atau perempuan dalam kasus pelecehan seksual).

Duh, sebenarnya mengerikan sih jika kita menilik ke belakang soal kasus-kasus pelecehan seksual yang pernah terjadi di tanah air. Baik itu pelecehan Ustadz terhadap santrinya, Dosen kepada mahasiswanya, Guru terhadap muridnya, majikan terhadap pembantunya, orang tua terhadap anak kandungnya, maupun pelecehan seksual yang ada dalam konstruksi masyarakat sebagai suatu “kewajaran” atau hal yang sepele seperti jokes seksis, catcalling, serta anjing-anjingnya yang lain. Pelaku pelecehan seksual bahkan tidak sedikit yang merupakan orang terdekat kita. Wah, banyak ya Sexual Predator di sekitar kita ternyata?

Mengingat kasus pelecehan seksual yang pernah terjadi, ternyata masih terdapat reduksi moral beberapa masyarakat yang justru berpihak kepada pelaku. Tampaknya menggugat victim blaming sebagai respon masyarakat terhadap kasus pelecehan seksual adalah hal yang harus galak-galaknya dilakukan. Lah bagaimana tidak? Ada kasus pemerkosaan, beberapa masyarakat justru asyik bertanya dan mengomentari korban. Seperti “Mbak kenapa bisa diperkosa? Pakai pakaian minim kan?” atau “Halah pasti mbak berjalan dengan pinggul lenggak-lenggok berusaha memikat pandangan orang-orang kan? Ketebak, dah.” serta cerucol sampah lainnya. What?! Sebegitu parahnya kah sentimen publik terhadap korban? Wahai saudara-saudara yang tinggal di lingkungan Rape Culture, dengan tak menghilangkan rasa hormat saya ingin betanya, apakah anda berhak untuk memperkosa seseorang sekalipun orang tersebut telanjang bulat? Mohon tidak dijawab dengan otak yang penuh konstruksi warna-warni, ya. Dijawab dengan validitas argumen yang substansial, dong. Begini deh, sadar tidak sih bahwa anda itu telah melanggengkan budaya pemerkosaan tanpa anda sadari? Bukannya mengkritisi pelaku, eh malah sibuk menghakimi dan menyiasati korban. Gimana sih.

Hal tersebut juga memiliki atensi serta korelasi yang sama terhadap pemberitaan. Lucu-lucu geram nan mengenaskannya nih ya, Jurnalis sambalado (Jurnalis tak paham kode etik atau sengaja melanggar kode etik demi berita yang menarik nan fantastic) justru mensubordinasikan kedudukan korban dengan menguliti identitasnya. Lah kebalik woyy. Yang dikuliti habis-habisan itu pelakunya, cuy. Hadeuh. Mendiskreditkan satu pihak demi kepentingan personal nih namanya. Dan ujung-ujungnya terhadap perilaku tersebut? Ya beberapa masyarakat pada menjelma jadi polisi moral deh. “Dorr!”. Noh Sexual Predator yang harusnya di “Dorr!”. Ini malah kebalik.
Masyarakat memegang premis “Kemanusiaan” dengan bumbu-bumbu tak menyiksa sesamanya. Namun pada beberapa kasus tindak pemerkosaan, sebagian masyarakat justru menghakimi, mengkritisi, mem-blow up, serta menyiasati habis-habisan korban pemerkosaan. Korban yang awalnya “sekali tersiksa” menjadi “tersiksa sekali”. Lah, itu yang disebut pemegang premis “kemanusiaan” secara substantif? Apakah anda akan menuntut saya karena menyalahkan beberapa masyarakat? Yasudah, kalau begitu saya katakan “proses berpikir mereka yang salah”, simpel kan?

Related articles

Recent articles