8.5 C
New York

SEMA MENJAWAB: KLARIFIKASI ATAU ASPIRASI?

Published:

Ditengah pandemik Covid-19, banyak persoalan atau dampak yang terjadi di Negeri ini, salah satunya di bidang pendidikan. Universitas Negeri Medan (Unimed) merupakan salah satu kampus yang terdampak pandemik ini, polemik yang dipersoalkan tak lain tak bukan yaitu masalah penurunan UKT Mahasiswa. Beberapa mahasiswa kemudian mengeluhkan aspirasi mereka terhadap SEMA (Senat Mahasiswa) yang kemudian mengeluarkan Surat Edaran Nomor: 001/A/SE-SEK/SEMA-UNIMED/VI/2020, berisikan hasil audiensi sementara Senat Mahasiswa dengan birokrasi Unimed perihal aspirasi mahasiswa. Namun, isi dari surat edaran tersebut tampaknya belum sesuai dengan apa yang diharapkan Mahasiswa.

Berkenaan dengan hal itu, pada Jum’at, 12 Juni 2020, SEMA Unimed menggelar Audiensi bertajuk “Sema Menjawab” via aplikasi Zoom, dengan jumlah peserta hampir 100 orang. Pelaksanaan acara ini, dilatarbelakangi oleh beredarnya beberapa isu yang tengah hangat diperbincangkan Mahasiswa Unimed beberapa hari belakangan, diantaranya: 1) Kebijakan yang dilakukan SEMA dalam menyampaikan aspirasi mahasiswa perihal penurunan UKT, 2) Kebijakan SEMA terkait pemblokiran dan penghapusan komentar dari salah satu akun mahasiswa Unimed perihal menyampaikan aspirasinya, dan 3) Keluhan mahasiswa stambuk 2017 perihal simpang siur kebijakan KKN.

Pelaksanaan acara SEMA Menjawab tersebut diawali dengan adanya pembukaan oleh Ivo Herawaty (Moderator), dan Ahmad Fahmi Sahid Bintang Hasibuan (Presiden Mahasiswa Unimed 2020) sesi saran dan solusi oleh Fatih Suhada (Alumni SEMA Unimed 2016), sesi curhat, sesi tanya-jawab, sesi pesan dan kesan, serta penutup.

Baru saja dibuka acara, beberapa peserta mempertanyakan adanya alumni dalam audiensi yang dibuat oleh SEMA. Ada pula yang berpendapat bahwa seharusnya ada informasi dari surat undangan yang diedarkan oleh SEMA perihal keikutsertaan Alumni SEMA Unimed. Ahmad Fahmi Sahid Bintang Hasibuan mengatakan “Alumni sengaja diikutsertakan oleh SEMA, karena bertujuan memberi masukan kepada SEMA Unimed 2020”. Meski demikian, kondisi rapat masih kurang kondusif karena hal tersebut. Hingga moderator mengambil kebijakannya untuk mengingatkan peserta agar tetap mengikuti acara ini sesuai dengan aturan. Namun ada pula peserta yang berujar “Mau menaati peraturan rapat, namun di rapat ada alumni? Seharusnya SEMA melakukan rapat internal bersama alumni, tidak perlu dibawa ke rapat antara SEMA dan Mahasiswa.” Ferdinawaty Lase (Sekretaris Jendral SEMA Unimed 2020) menyatakan bahwa alasan alumni diundang adalah karena pengurus Senat Mahasiswa sebelumnya juga pernah mengalami hal yang sama terkait penurunan UKT. Sehingga bisa memberikan solusi dan sarannya, kepada pengurus Senat Mahasiswa sekarang.

Hingga suasana kembali kondusif, acara pun dilanjutkan dengan moderator mempersilahkan Fatih Suhada (Alumni SEMA Unimed 2016) untuk berbicara. Fatih Suhada menjelaskan bahwa SEMA memiliki batasan-batasan dalam bertindak, berbeda dengan badan eksekutif mahasiswa (BEM). Maka dari itu mari bahu-membahu, rapatkan barisan, agar mendapatkan hasil yang baik dalam memperjuangkan aspirasi.

Dalam sesi curhat, Ferdinawaty Lase mengatakan bahwa, Ia secara pribadi sangat menyayangkan tindakan Mahasiswa dalam kolom komentar SEMA. Karena menurutnya, aspirasi itu sudah dirangkum dan diberikan kepada Biro. Audiensi juga dilakukan beberapa kali, dan terakhir via online karena adanya Covid-19. Kemudian Ia mengajak seluruh Mahasiswa untuk bersama menyampaikan aspirasi kepada Biro. Bagaimana jika saya kasih jas hitam saya kepada kawan-kawan? Biar kalian yang menyampaikan aspirasi tersebut kepada biro?” Ucap Ferdinawaty Lase.

Suasana masih kondusif sebelum moderator mengalihkan sesi tanya-jawab yang sebelumnya ditetapkan kepada tanggapan alumni. Peserta menganggap bahwa komunikasi yang terjadi di dalam audiensi ini adalah komunikasi satu arah karena hal tersebut. Beberapa peserta juga menyatakan bahwa sebenarnya acara ini bertema “Alumni Menjawab” bukan “Sema Menjawab.” Moderator meminta peserta agar kembali kondusif, dan mempersilahkan alumni terlebih dahulu untuk memberikan tanggapannya, setelah itu baru dilanjutkan ke sesi tanya-jawab. Meski demikian, peserta merasa keberatan jika alumni terlebih dahulu memberikan tanggapannya. Bahkan ada peserta yang menyatakan bahwa seharusnya alumni memberikan tanggapan ataupun solusinya di akhir acara. Hingga akhirnya, Fatih Suhada meminta moderator agar mengalihkan ke sesi tanya jawab terlebih dahulu setelah itu barulah ia memberikan tanggapannya. Karena ia menilai kondisi yang belum kondusif, dan peserta pun juga belum bisa mendengarkan tanggapan yang akan disampaikan.

Tanya jawab yang pertama dibuka untuk 3 orang penanya. Inti pertanyaan yang dilontarkan oleh peserta diantaranya: 1) Alasan SEMA mencantumkan nama akun di surat undangan untuk mengikuti pelaksanaan acara “SEMA Menjawab”, 2) Pemblokiran serta penghapusan akun yang dilakukan oleh SEMA.

Ferdinawaty Lase mengatakan bahwa alasan SEMA mencantumkan 21 nama akun di dalam surat undangan adalah karena SEMA menilai akun tersebut memberi motivasi dan dorongan kepada SEMA dalam melaksanakan tugasnya. Sehingga dengan aspirasi yang kritis dari ke 21 akun tersebut, maka pihak SEMA mengundang pemilik akun untuk dapat berhadir dalam pelaksanaan acara “Sema Menjawab.”

Bidang Medkoinfo menyatakan bahwa pemblokiran akun mahasiswa tersebut benar adanya, namun pemblokiran itu hanya dilakukan beberapa jam saja, Dewi Tri Wibowo selaku Kabid Medkoinfo SEMA Unimed mengatakan SEMA UNIMED tidak pernah melakukan Penghapusan komentar terhadap akun siapapun. Disini dibuktikan, bahwa ada 4 orang pemegang akun Semaunimed.official, Tetapi tidak ada satu pu yang menghapus komentar tersebut. Dewi Tri menambahkan bahwa mereka telah mencari data terlebih dahulu. Serta menambahkan bahwa Aplikasi Instagram bisa menghapus komentar seseorang dengan akunnya sendiri.

Selanjutnya, untuk pemblokiran akun. Memang benar adanya. Salah satu dari Medkoinfo SEMA yang memblokir akun bernama RINYFEBRIANIDANUR Secara sementara lalu dibuka kembali. Medkoinfo juga memohon maaf atas tindakan tersebut, Tetapi itu bukan tak mendengarkan aspirasi saudara riny, karena hanya sebentar saja diblokir. “Hal ini kronologinya begini :
Pada saat itu, saya memang melihat banyak mahasiswa yg mengkritik surat edaran tersebut, Termasuk Riny juga saya Lihat. Setelah beberapa saat, Muncullah kembali komentar Riny, dengan bahasa “Kenapa dihapus komentar saya, Bla bla yang saya tidak ingat lanjutannya”. Disini Karena saya tidak merasa menghapus komentarnya, Saya merasa terusik dan merasa aneh. Lalu saya lihat akun profil beliau, tidak ada identitas foto wajahnya sama sekali. Tanpa pikir panjang, langsung saja saya Blokir. Selang beberapa saat, saya berpikir, Kenapa mesti saya harus blokir dia. Saya Bukalah kembali. dan saya rasa itu tidak lama, Intinya tidak ada Aspirasi yang tidak kami terima. Karena Blokir sudah dibuka, penghapusan komentar juga tidak kami lakukan” Ucap Dewi Tri menambahkan.

Dewi Tri juga menyampaikan bahwa fitnah keji yang ditujukan kepadanya selaku Kabid Medkoinfo, atas akun akun Fake yg ada seolah membela SEMA, Semuanya adalah fitnah. Dia bersumpah, bahwa dia tidak pernah melakukannya. Dewi juga berharap para Mahasiswa tidak mudah menuduh dan terprovokasi.

Sejalan dengan hal ini, Riny Febriani Danur selaku pemilik akun tersebut, menyatakan bahwa ia memiliki bukti pemblokiran dan penghapusan komentar yang dilakukan oleh SEMA, ia juga mencantumkan bukti tersebut di bio akun Instagramnya agar mahasiswa yang ingin tahu faktanya, dapat mengakses bukti tersebut.

Fatih Suhada selaku Alumni SEMA, memberi saran agar antara SEMA dan Mahasiswa melakukan dialog atau berjumpa secara langsung, berdiskusi dan bersatu beraksi dalam menyampaikan aspirasi.

Terkait penurunan UKT, Raden Arjuna Surbakti (Wakil Ketua Umum II SEMA Unimed 2020) mengatakan bahwa alasan pihak Birokrasi belum membuat kebijakan karena harus menunggu kebijakan yang diedarkan oleh Kemendikbud. Sehingga, jika kebijakan terkait penurunan UKT sudah diedarkan oleh Kemendikbud, maka pihak birokrasi pun bisa membuat kebijakannya. Ia juga mengatakan bahwa dalam menyampaikan aspirasi perihal penurunan UKT, mahasiswa harus mempunyai alasan yang kuat.

Salah satu peserta, Raden Januari memberi tanggapannya terkait pesan dan kesan dalam pelaksanaan acara ā€œSEMA Menjawab”, Ia mengucapkan terima kasih kepada semua yang telah menyusun acara yang dinilainya sudah baik. Ia juga mengatakan bahwa dengan adanya alumni yang memberi penyampaiannya di awal acara ini, dapat membuka pikiran peserta. Namun berbeda halnya dengan Okto Berman, ia mengatakan bahwa sudah baik dengan adanya diskusi yang dilaksanakan ini. Meski demikian, ia memberi beberapa catatan terhadap pelaksanaan acara ini, diantaranya adalah: 1) Seharusnya alumni berbicara di akhir acara untuk memberikan tanggapan, solusi ataupun sarannya, 2) Forum terkesan klarifikasi bukan aspirasi. Ia juga mengajak peserta untuk sama-sama bersinergi dan memberi solusi terhadap persoalan yang ada, seperti penurunan UKT, simpang siurnya kebijakan KKN, dan sebagainya. Selain itu, dia juga mengatakan bahwa seharusnya semua memberi informasi terbuka perihal kendala yang ada, misalnya saja KKN yang sekarang ini sudah banyak beredar informasi hoax, contohnya saja isu diundurnya pelaksanaan KKN. Tak hanya itu, Okto juga memberikan solusi diantaranya: 1) SEMA membuat satu akun YouTube official SEMA, untuk melakukan live streaming audiensi bersama pihak kampus secara terbuka dengan seluruh Mahasiswa Unimed, karena mahasiswa mengharapkan transparansi dari pihak kampus, atau juga bisa melalui live streaming Instagram dan mahasiswa dapat memberi pertanyaannya melalui kolom komentar yang ada, 2) Jika tidak juga ditanggapi oleh pihak kampus, maka mahasiswa harus aksi. Pernyataan Okto Berman tersebut pun disambut dengan suara tepuk tangan para peserta.

Acara ini pun ditutup oleh Ahmad Fahmi Sahid Bintang Hasibuan dan Ivo Herawaty (Moderator) dengan menyampaikan ucapan terima kasih mereka kepada peserta dan pihak terkait dalam pelaksanaan acara ini. Di akhir acara, Ahmad Fahmi Sahid Bintang Hasibuan menyatakan bahwa untuk sementara SEMA Universitas Negeri Medan melakukan aksi-aksi yang persuasif, dan meminta mahasiswa untuk bersabar. Moderator juga menyampaikan, karena tidak cukupnya waktu, maka aspirasi yang ingin disampaikan oleh mahasiswa dapat dikirimkan ke DM Instagram @semaunimed.official namun dengan bahasa yang sopan dan mengutamakan etika yang baik.

Related articles

Recent articles