27.4 C
New York

Risalah Tak Tersirat

Published:

Ruangan luas.

Dermaga menjadi parkir pelabuhan,

duduk sambil menghisap sebatang lisong.

Orang menghiraukan pecahnya ban truk yang tertepi,

dan hanya melihat tanpa membantu belas kasih.

Supir berkata dalam pekik bersuara.

“Tuan dan Puan, maaf, bagaimana keadaan kami dengan

pemikiran berbeda, Tuan dan Puan?”

Rakyat kaya desa menjadi rakyat miskin kota,

rakyat miskin kota menjadi rakyat kaya desa.

Kini, seruan untaian suara menyatu.

Negara kapitalis

Negara nasionalis

Negara ideologis

Negara demokrasi

Tapi, itu semua hanyalah sebuah kata yang tak tersirat.

Gundukan batu besar;

terdengar ringis kesedihan,

akan ketakutan manusia yang berkuasa.

Mahasiswa, rakyat miskin, dan para petani bersorak-sorai.

“Tuan dan Puan, beri sedikit ruang untuk kami bersuara.

Gonjang-ganjing tak akan ada hidup,

tanpa adanya kata demokrasi.”

Semua hanya bualan saja, tak ada yang didengar.

Hanya angan-angan, di atas ambang awan

terhembus angin.

Puluhan, ratusan, ribuan, bahkan jutaan

ingin pintanya terkabulkan, dengan slogan mewah itu.

Tapi itu sebuah ilusi dalam mimpi,

suara hati kecil pun berkumandang.

Kertas putihmu sudah tercoret,

topeng pun mulai usang dengan kotoran.

Pakaianmu sudah mulai sederhana,

rumah pun mulai di kolong jembatan.

Gadis-gadis mulai gugup akan kesimpangsiuran,

hanya terdiam dinginnya dekapanmu, Tuan dan Puan.

Ini bukan perihal, terbungkam (atau) membangkang.

Kru : Winaldi Angger Pambudi

Related articles

Recent articles