23.7 C
New York

Prodi Seni Pertunjukan Ajak Mahasiswa Mengapresiasi Karya Seni Lewat Sajian Teater Klasik “Oidipus” karya Sopochles

Published:

Prodi seni pertunjukan lagi-lagi memberikan sajian eksistensinya lewat pementasan teater klasik “Oidipus” karya seorang Penulis Yunani Kuno, Sopochles. Pementasan yang digarap dengan sajian teater klasik ini merupakan wujud dari Ujian Akhir Minat Pemeranan Klasik yang dibimbing oleh Fisdo Ekardo, S. sn., M.sn Dosen Seni Pertunjukan yang diadakan di Open Stage, FBS, pada Jumat, 4 April 2021.

Pertunjukan yang dimulai dari pukul 20.00 WIB ini diselenggarakan dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan. Rifky Vika Sarandi, selaku Sutradara pada pementasan ini melaporkan bahwa pada semester 4 Mahasiswa Seni Pertunjukan Konsentrasi Terater mengambil minat pemeranan, memiliki mata kuliah pemeranan klasik. Sehingga Project mereka pada Ujian Akhir berupa pertunjukan drama klasik pula, “kami bersepakat untuk mengangkat naskah Oidipus karya Sophocles dalam pertunjukan teater klasik. Tentu hal tersebut juga telah mendapat dukungan penuh dari Dosen pembimbing. Sebelumnya, prodi Seni Pertunjukan telah mementaskan ‘Antigone’. Pertunjukan Oidipus dan Antigone memiliki hubungan sebenarnya. Kalau dalam Indonesia itu semacam season gitu.”

Persiapan untuk menggelar pementasan ini memakan waktu satu semester. Selama satu bulan Mahasiswa berusaha mendalami dan berkutat pada pencarian karakter. Kemudian pada bulan berikutnya mulai menentukan settingan dan proses latihan bersama para pemain lainnya, “Bagi saya yag menarik dari pertunjukan ini ialah sajian settingan yang sangat luar biasa, pemusik yang andal dalam mengisi suasana, ditambah lagi lighting yang sangat mendukung.” Ucap Sang Sutradara. Lebih jauh, ia mengungkapkan bahwa kesulitan serta tantangan kerap dihadapi. Namun, semua itu dapat dilewati dengan cara sering melakukan diskusi kepada Dosen pembimbing.

Cerita klasik yang diangkat merupakan cerita yang mengisahkan sosok Oidipus. Oidipus merupakan putra Raja Laius dan Ratu Jocasta dari Thebes. Setelah mereka bersama selama beberapa waktu, raja dan ratu berkonsultasi dengan seorang peramal yang mengatakan, bahwa putra mana pun yang mereka miliki pada akhirnya akan membunuh Raja Laius dan menikahi ibunya Jocasta. Saat itu Jocasta memang melahirkan seorang putra. Untuk mencegah ramalan itu Raja Laius mengikat kaki dan pergelangan kaki anaknya, Oedipus. Sementara Ratu Jocasta meninggalkan anaknya di pegunungan dan berharap dia akan mati di tempat itu. Namun seorang gembala yang mengasihani bayi itu memberikannya pada raja dan ratu Korintus untuk dibesarkan sebagai putra mereka. Saat Oedipus masih muda ia tidak menyadari bahwa orang tua kandungnya bukanlah raja dan ratu Korintus. Suatu hari ia mengunjungi peramal yang tanpa disadari adalah peramal sama dengan yang dikunjungi orang tuanya dulu. Peramal itu memberi tahu Oedipus bahwa dia ditakdirkan untuk menikahi ibunya dan membunuh ayahnya. Untuk menghindari nasib itu, Oedipus melarikan diri dari Korintus dan pergi ke Thebes.

Dalam perjalanannya, ia bertemu dengan Raja Laius yang terlibat perdebatan dengannya. Pertengkaran itu berujung pada Oedipus yang membunuh Raja Laius tanpa tahu itu adalah ayahnya. Setelah Raja Laius terbunuh, Oedipus bertemu Sphinx yang memberikannya teka-teki jika ingin melanjutkan perjalanan ke Thebes. Oedipus dapat menjawab teka-teki itu dengan baik. Sementara itu Ratu Jocasta membuat pengumuman, barang siapa yang dapat menjawab teka-teki Sphinx akan menjadi raja baru Thebes. Oedipus yang menjawab dengan benar, akhirnya dinobatkan menjadi raja dan dengan begitu ia telah menikahi ibunya sendiri. Dari pernikahan itu mereka memiliki empat anak: Eteocles, Polyneices, Antigone, dan Ismene.

Namun setelah bertahun-tahun kebersamaan mereka, wabah penyakit menyerang kota, dan peramal menyatakan bahwa hal itu akan berlangsung sampai pembunuh Laius ditemukan. Oedipus dengan rajin memulai pencariannya dan menemukan bahwa pembunuh Raja Laius adalah dirinya sendiri saat itu juga ia mengetahui bahwa ia telah menikahi ibunya. Jocasta yang mengetahui Oedipus adalah anaknya memilih untuk bunuh diri. Sementara dalam beberapa versi menyebutkan Oedipus pergi mengasingkan diri setelah membutakan dirinya.

Pertunjukan yang melibatkan konsep hutan sebagai latar tempat ini disajikan cukup representatif. Dengan melibatkan pohon-pohon serta semak belukar. Pakaian khas kebangsawanan Yunani kuno juga memberikan kontekstualisasi yang tepat pada pertunjukan ini.

“Semoga setelah pementasan ini banyak mahasiswa yg terus mengapresiasi karya seni. Dan tidak hanya itu, tetapi jauh lebih mengenal Seni Pertunjukan yang sesungguhnya. Dan harapan saya semoga para penonton juga mendapat banyak ilmu setelah menyaksikan drama klasik ini.” Tutup Sang Sutradara.

admin
adminhttp://persmakreatif.com
Hai, ini saya Admin Persma Kreatif. Apakah kamu punya Pertanyaan dan Saran? Biarkan saya tau!, Kirimkan ke Email kami perskreatiftim@gmail.com atau Melalui Intagram @Persmakreatif

Related articles

Recent articles